Setelah Kereta Melintasi Bendung Gerak Serayu

CERPEN MUFTI WIBOWO

PENUMPANG  kereta yang sering melintasi jembatan rel yang membelah Bendung Gerak Serayu tentu tahu, mereka akan memalingkan wajah ke kanan atau kiri, saat kereta yang mereka tumpangi membelah ketenangan Bendung Gerak Serayu.

Mereka berharap untuk melihat seorang ronggeng menari di atas permukaan air sungai yang kehijauan. Pada saat itulah, keajaiban itu datang. Setelah lima menit tak bernapas dan detak jantungnya berhenti, bayi Kinan menunjukkan tanda-tanda masih ingin bertahan hidup.

“Ke mana kamu akan membawa aku dan Kinan pergi?” tanya seorang perempuan yang mendekap anak bayinya yang mulai mendingin kepada suaminya. Mereka baru terusir dari surga setelah si suami mencuri kotak amal masjid. Beruntung, dia tak mati diamuk.

Seorang kiai meredam amarah orang-orang itu. Kiai itu malah memberi mereka bekal yang membuat mereka berada di dalam gerbong yang diseret lokomotif sejak stasiun L. Sebelumnya, rumah dan sepetak tanah—harta mereka satu-satunya, warisan orang tua—dijadikan tumbal pembangunan bandara.

Mereka mengubah rencana dengan turun di stasiun P untuk membawa bayi itu ke rumah sakit. Seharusnya, empat atau lima jam lagi mereka baru turun di sebuah stasiun tujuan.
***
MALAM itu sungguh tak akan terlupakan, hatiku remuk redam, hancur. Aku tak bisa berbuat apa-apa ketika orang-orang memasung Kinan yang telah remaja. Tubuh Kinan yang hanya dibalut kain kumal teronggok bagai mayat setelah usahanya membelot berakhir sia-sia di sebuah tempat bekas kandang kambing di belakang rumah kami.

Di kandang itulah, dulu, ayah Kinan memelihara kambing-kambingnya setelah kami memutuskan tinggal di P. Dengan uang yang diberikan seorang kiai yang menyelamatkan nyawanya, dia dapat membeli sepasang kambing dewasa untuk kemudian beranak-pinak.

Kami lalu menuruti sang kiai yang berpesan untuk memotongkan seekor kambing jantan untuk keselamatan Kinan. Dagingnya kami bagi-bagikan kepada tetangga. Katanya,  “Seekor, sebab Kinan perempuan.”

Kiai itu jugalah yang mengatakan pada kami bahwa Kinan akan membawa kami sampai ke surga. Entah mengapa kami mempercayai itu.

Ketika usia Kinan setahun, suamiku mulai ragu dengan kata-kata indah yang pernah dikatakan kiai.

“Apa kamu masih percaya dengan apa yang dikatakan Kiai tentang Kinan?” tanya suamiku penuh sesal. Sejak itu, ia sering mengulang pertanyaan yang sama.

Aku tak pernah menggubrisnya, kecuali menangis diam-diam sambil menyalakan kompor dengan wajah kecil di atasnya untuk menampung cairan lilin sebelum kububuhkan di atas pola pada lembaran kain dengan canthing.

Seperti kata dokter yang dulu mengobati bayi Kinan, demamnya yang sangat tinggilah yang membuat Kinan koma. Koma selama tiga hari itu membuat gangguan pada beberapa fungsi syaraf Kinan. Kinan tumbuh seperti anak yang pada umumnya, secara fisik.

Fisiknya sempurna, semua orang mengatakan dia sangat cantik dengan kulit yang putih bersih, mata yang bulat lebar, dan hidung yang mancung. Semua itu membuatnya seakan tidak lahir dari rahimku.

Semua orang di P menganggap Kinan tak dapat bicara, termasuk suamiku. Tidak, mereka keliru. Kinan membicarakan begitu banyak hal kepadaku dan kucingnya. Dia bisa mendengar setiap orang dengan baik. Seperti sudah kukatakan, dia juga mendengarkan saat kucingnya bicara.

Aku tak pernah mengizinkan Kinan pergi lebih jauh dari selasar dan halaman rumah kami, tempat di mana aku bisa mengawasinya sembari membatik.

Sementara itu, dia akan bermain dengan kucingnya. Seekor kucing betina dengan bulu kuning emas dengan aksen belang putih vertikal di badannya dan horizontal di keempat kaki dan ekornya.

Wajahnya lebih cantik, bulu-bulu berwarna kuning emas itu melingkari mata kirinya, sedangkan mata kanannya dikelilingi bulu-bulu berwarna putih. Wajahnya lebih menyerupai panda. Bentuk tubuhnya mengingatkan orang pada zebra.

Kinan dan kucingnya seperti kakak beradik yang menghabiskan waktu untuk membunuh kesepian. Mereka berkelakar, saling jahil, kejar-mengejar, dan bermusuhan sesekali.

Tingkah mereka otomatis akan berhenti saat ayah Kinanti yang menyukai keheningan muncul di selasar untuk mengisap beberapa batang kreteknya. Ayahnya akan tetap di sana hingga kopi di cangkirnya tandas.

Di usianya yang sepantaran dengan anak sekolah menengah pertama, dia hanya mendapat sebuah tanggung jawab ringan dariku, memberi makan kucing dan membersihkan kandangnya. Tugas itu kuberikan setelah dia bisa membersihkan diri di kamar mandi dan toilet lalu berpakaian tanpa bantuanku.
***
SEBELUM malam Kinan dipasung oleh orang-orang itu, mata air L mengering sebelum puncak musim kemarau tiba. Sungai-sungai menampakkan dasarnya yang berbatu-batu dengan kerak lumutnya yang mengelupas. Sawah-sawah padi menjadi tegal yang retak-retak seperti hati wanita yang kesetiannya dikhianati.

“Kamu yakin akan tetap tinggal di P?” tanya ayah Kinan kepada istrinya.

“Kinan tak bisa hidup tanpa aku, sedangkan kamu punya lebih banyak pilihan.”

“Aku hanya punya dua tiket kereta. Kita akan mencari surga yang pernah kita impikan.”

“Surgaku adalah Kinan.”

Lelaki itu menatap lantai, mungkin merasa ditelanjangi jawaban istrinya.

“Di dunia ini, aku paling mengerti arti kehilangan. Dua kali aku kehilangan anak. Yang pertama mati saat dia masih dalam bentuk segumpal darah. Yang kedua mati setelah kulahirkan. Sekarang kamu ingin aku membunuh Kinan? Aku tak ingin kehilangan untuk yang ketiga kalinya,” lanjut wanita yang tak lagi merasakan air matanya menyungai.
***

LAKI-LAKI itu pergi, Kinan berdua denganku. Kinan mendadak menjadi pemurung ketika seharusnya dia lebih bahagia karena bebas bermain dengan kucingnya, sementara aku menjadi lebih sibuk karena menerima lebih banyak pesanan batik untuk bertahan hidup.

Aku memeram kekhawatiran yang makin hari menyesakkan dada. Kinan menelantarkan kucingnya. Hal yang tak pernah terjadi sebelumnya. Biasanya, kucing itu pergi bila datang musim kawin lalu kembali ke pangkuan Kinan selama masa mengandung sampai melahirkan.

Tentu saja Kinan tak pernah tahu hal semacam itu. Kucing itu telah berhari-hari pergi. Terakhir, aku melihatnya di semak-semak dengan bulunya yang dekil dan tulang-tulang rusuk yang menonjol tak jauh dari rumah.

Kucing itu pergi karena Kinan tak lagi memberi makan dan membersihkan kandangnya. Kucing itu tak akan berani mencuri makanan di meja makan. Kucing itu mungkin belajar dari kesalahannya bertahun-tahun lalu saat ayah Kinan memergokinya naik ke meja makan.

Akibatnya, mata arit yang mengilat keperakan itu hampir memisah kepala dari tubuhnya. Kucing itu beruntung, teriakan Kinan —beberapa detik sebelum ayunan arit yang biasa digunakan merumput—mencegah kebrutalan ayahnya yang mungkin membuat kucingnya meregang nyawa.

Ketika aku sibuk membilas kain dari lilin yang berminggu-minggu lamanya kubatik, Kinan mendapat bisikan gaib untuk mengikuti kucingnya yang tiba-tiba muncul —bukan untuk pulang, melainkan lewat saja. Kucingnya tengah dibuntuti seekor jantan genit.

Jadilah Kinan membuntuti sepasang kucing birahi alih-alih melupakan laranganku untuk tidak bermain di luar rumah dan kebiasaan yang kuajarkan untuk menutup pintu rumah serta jendela saat datang senja.

Kinan tersihir bulu-bulu kucingnya yang memantulkan cahaya jingga. Tentu saja kucing-kucing birahi itu bergerak sangat lincah dan binal.

Setengah jam membuntuti kucingnya, Kinan menyadari ia tersesat di tengah hutan yang berbatasan langsung dengan kampung tempat tinggal kami di sisi barat dan selatan.

Kinan kehilangan peraduannya saat cahaya jingga di ufuk barat surut dan berganti gelap sempurna. Kinan merasa asing dan sendiri. Takut dan cemas menjalar ke seluruh tubuhnya.

Kinan berteriak memanggil kucingnya, tapi tidak ada yang tahu arti teriakan itu, kecuali aku dan kucingnya yang tengah mabuk birahi.

Ketika dia menangis, dari arah gelap, seekor kucing sebesar laki-laki dewasa dengan bulu-bulu lembut yang mengendus kehadirannya, menyergapnya tiba-tiba. Kinan ditemukan telanjang di tengah hutan keesokan harinya oleh orang kampung.

Mulanya aku dan orang-orang tak khawatir dengan perubahannya. Saat matahari tampak, dia menggelung tubuhnya di kamarnya dengan isakan kecil. Tapi, perilakunya berubah sejak senja datang, dia menjadi begitu cemas dan gelisah, tubuhnya menggigil dan terus berteriak histeris.

Tapi, aku tak berdaya ketika orang-orang memutuskan memasung Kinan setelah ia menangkapi, menyembelih, dan menguliti kucing-kucing kampung.

Pagi tadi, aku mendapati Kinan menghilang dari kandang kambing. Aku tak menangis atau bersedih secuil pun. Bagiku, Kinan telah membenarkan kata kiai dan menjawab pertanyaan suamiku.

Kinan pergi untuk menyambutku di surga. Malam sebelumnya, aku melihat Kinan dengan pakaian putih dan wajah bercahaya terbang ke bulan yang tembaga. ***

Mufti Wibowo, penulis yang lahir dan berdomisili di Purbalingga, Jawa Tengah.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...