Sikka Kembali Zona Hijau, Status PKB Dicabut

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Petrus Herlemus, menyebutkan Sikka kembali ke zona hijau. Selain itu, bupati juga mencabut instruksi Pembatasan Kegiatan Bermasyarakat (PKB), sehingga aktivitas masyarakat pun bisa kembali normal.

“Hari ini bupati Sikka sudah mencabut status PKB sehingga aktivitas masyarakat bisa berjalan normal. Status PKB tersebut memang sudah berjalan 10 hari dan berakhir hari ini sehingga telah dicabut,” ungkap Petrus Herlemus saat ditemui di kantornya, Senin (12/10/2020).

Meski sudah bisa beraktivitas normal, ia menyarankan agar masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan terkait pencegahan penularan penyakit corona agar status zona hijau tersebut bisa tetap dipertahankan.

Petrus menegaskan kewaspadaan harus lebih ditingkatkan mengingat banyaknya pelaku perjalanan di mana dalam sehari saja jumlahnya mencapai 600 hingga 700 orang di tengah eskalasi kasus corona yang terus terjadi.

Ia mengaku masih belum mendapatkan hasil terkait status 58 sampel swab yang kontak erat dengan dua pelaku perjalanan ini karena masih menunggu hasil pemeriksaan swab dari RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes, Kupang karena masih antre.

“Kita berharap agar hasil swab dari 58 sampel ini negatif sehingga Kabupaten Sikka statusnya zona hijau. Mari kita bersama mematuhi protokol kesehatan demi memutus mata rantai penyebaran virus corona,” imbaunya.

Sebelumnya dua warga Kabupaten Sikka, pelaku perjalanan dari Kalimantan dan Sulawesi Selatan yang dinyatakan positif Covid-19 berdasarkan hasil tes swab di Laboratorium Biologi dan Molekular RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes, Kupang telah sembuh.

Kedua pelaku perjalanan ini telah menjalani 10 hari masa isolasi di ruang isolasi belakang Kantor Dinas Kesehatan Sikka dan RS TC Hillers Maumere dan berdasarkan pemantauan dan tes yang dilakukan keduanya pun telah dinyatakan negatif Covid-19.

“Kemarin kedua pelaku perjalanan ini sudah kami pulangkan ke rumah mereka masing-masing karena selama menjalani masa isolasi tidak menunjukkan gejala,” jelasnya.

Yani Making saat ditemui di rumahnya, Senin (12/10/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Sementara itu, Yani Making seorang wirausaha yang juga mantan anggota DPRD Sikka mengaku sejak adanya surat edaran bupati Sikka soal Pembatasan Kegiatan Bermasyarakat (PKB) aktivitas ekonomi kembali melambat.

Yani mengatakan, adanya larangan soal ditutupnya segala toko, kios, swalayan, rumah makan dan lainnya pada jam 18.00 WITA membuat pendapatan dari usaha ini menurun drastis apalagi pesta juga dilarang diselenggarakan.

“Memang ada warga yang tetap membuka tempat usahanya secara sembunyi-sembunyi selama 10 hari waktu PKB. Masyarakat juga ada yang menggelar pesta dan ada pesta yang dibubarkan Gugus Tugas Covid-19, namun masyarakat memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya karena mereka butuh uang,” ungkapnya.

Yani mencontohkan adanya permintaan dari Gubernur NTT yang ditujukan kepada para kepala daerah agar jangan melarang masyarakat menyelenggarakan pesta supaya ekonomi bisa bertumbuh.

Lihat juga...