Soeharto, Medali Emas WHO dan Kasus Covid-19

Kepeloporan Pak Harto dalam menangani masalah-masalah kesehatan rakyat, mendapat perhatian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dan, pada 18 Februari 1991, Pak Harto sebagai Presiden RI berhasil memperoleh Health for All Gold Medal Award.

SETIAP zaman memiliki tantangannya sendiri untuk dihadapi. Pada masa pemerintahan Presiden RI ke-2, Soeharto, sektor kesehatan, dirancang bangun sedemikian rupa sehingga dapat berjalan secara baik di tengah masyarakat. Tanpa gejolak.

Dan, formulasi untuk mengatasi yang diinisiasi oleh Presiden Soeharto tersebut  —dengan mengerahkan segenap pikiran dan sumber daya yang ada— tentunya tak lepas dari kecerdasan di dalam menangkap suasana kebatinan rakyat secara tepat.

Mahpudi, seorang penulis buku, mengungkapkan pada masa pemerintahan Pak Harto terdapat sejumlah inovasi pembangunan di bidang kesehatan. Dalam buku 50 Inisiatif Pak Harto untuk Indonesia dan Dunia terbitan Yayasan Harapan Kita (2016), Mahpudi menyebut ada sekira enam inovasi Presiden Soeharto di bidang kesehatan.

Pertama, program Keluarga Berencana; kedua, mencegah dan membasmi penyakit dengan imunisasi; ketiga, membangun Puskesmas di seluruh pelosok negeri; keempat, pendidikan dan penyebaran tenaga medis; kelima, melibatkan masyarakat dalam pembangunan kesehatan lewat Posyandu; dan keenam, mempromosikan peningkatan gizi keluarga.

Kepeloporan Pak Harto dalam menangani masalah-masalah kesehatan rakyat, mendapat perhatian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dan, pada 18 Februari 1991, Pak Harto sebagai Presiden RI berhasil memperoleh Health for All Gold Medal Award. Sebuah medali yang diberikan oleh WHO kepada pemimpin negara yang dinilai sukses membangun kesehatan bangsanya. Medali tersebut diserahkan langsung oleh Direktur Jenderal WHO —saat itu— Dr. Hiroshi Nakayima.

Mahpudi mengatakan, sejak rakyat mengamanatkan kepada Pak Harto untuk memimpin bangsa Indonesia, masalah kesehatan merupakan salah satu prioritas dalam program pembangunan yang dijalankannya.

Kesehatan telah masuk menjadi program prioritas pada Repelita I (1969-1973) dan terus menerus diperjuangkan kesinambungannya sepanjang masa baktinya sebagai Presiden RI.

Hasilnya tak dapat dipungkiri, jika angka harapan hidup bangsa Indonesia pada Repelita I adalah 45,7  tahun maka pada tahun 1990 meningkat menjadi 62,7 tahun. Sementara angka kematian bayi per 1000 menurun dari 145 pada tahun 1970-an menjadi 58 pada akhir tahun 1990-an. Demikian pula angka kematian ibu melahirkan per 100.000 kelahiran mengalami penurunan yang luar biasa dari 450 pada 1986 menjadi 425 pada tahun 1992.

“Keberhasilan itu juga ditopang oleh indikator-indikator lainnya, yang menunjukkan inisiatif dan komitmen Pak Harto dalam mewujudkan kesejahteraan rakyatnya melalui bidang kesehatan,” jelas Mahpudi.

Kini Indonesia tengah menghadapi “musuh yang tak terlihat” yang sama, seperti halnya negara-negara di berbagai belahan dunia, bernama virus Covid-19. Dan sebagaimana diketahui, sektor kesehatan dan ekonomi paling terdampak —di samping sektor lainnya— menyedot perhatian besar untuk mendapat penanganan yang baik.

Jika merujuk pada enam inovasi Presiden Soeharto di sektor kesehatan, maka setidaknya tiga di antaranya bersinggungan langsung dengan upaya penanganan Covid-19 saat ini. Yakni, pencegahan dan pembasmian penyakit dengan imunisasi, kemudian penyebaran tenaga medis, dan peningkatan gizi keluarga.

Salah satu program yang secara intensif dijalankan oleh pemerintah Orde Baru, sebagaimana disebutkan Mahpudi dalam bukunya, ialah program imunisasi nasional.

Pak Harto berhasil membangun kesehatan nasional dengan melakukan pencegahan dan pemberantasan penyakit melalui imunisasi yang secara nasional cakupan imunisasi lengkap telah mencapai 89, 9% pada tahun 1992-1993. Cakupan ini jelas lebih tinggi dari yang ditetapkan WHO secara internasional yakni 80%.

Kemudian, komitmen Pak Harto memberikan pelayanan kesehatan hingga ke pelosok negeri membutuhkan ketersediaan sarana dan tenaga medis yang memadai, terutama dokter dan paramedis. Di sini, pemerintah antara lain menggelar program IDT (Instruksi Presiden untuk Desa Tertinggal) yakni program yang menempatkan dokter-dokter (yang baru lulus dari pendidikan) di daerah-daerah tertinggal. Program yang dimulai 1 April 1994 terbukti efektif menyediakan tenaga dokter di puskesmas-puskesmas maupun rumah sakit yang jauh di pelosok negeri.

Sementara dalam kaitan peningkatan gizi keluarga, pemerintah secara intensif mempromosikan berbagai program yang memungkinkan keluarga-keluarga Indonesia yang sebagian besar masih hidup dalam kondisi ekonomi terbatas, tetap dapat mencukupi kebutuhan dasar gizi anggota keluarganya.

Program ini terutama dilakukan melalui pemberian makanan tambahan di sekolah-sekolah dasar, mendorong terbangunnya Karang Gizi oleh Posyandu, hingga penyelenggaraan pendidikan gizi keluarga bagi anggota PKK, termasuk mendorong keaneragaman pangan yang bisa menggantikan beras sebagai makanan pokok keluarga.

Ketiga hal tersebut, yakni imunisasi, penyebaran tenaga medis, dan pemenuhan gizi keluarga ekonomi terbatas, di tengah pandemi Covid-19 menjadi hal mendesak untuk dapat segera dipenuhi dimana sejak kali pertama kasus Covid-19 mencuat di Indonesia awal Maret hingga Oktober 2020 ini, angka kasus positif Covid-19 dan angka kematian Covid-19 di Indonesia berdasar data WHO per tanggal 15 Oktober 2020, berada di urutan teratas di ASEAN, yakni 349.160 kasus positif Covid-19 dan 12.268 kasus kematian Covid-19. Dan per 18 Oktober bertambah menjadi 357.762 kasus positif Covid-19 dan 12.431 kasus kematian Covid-19. Belum ada tanda-tanda melandai.

Sementara, sejauh ini Kemenkes menyebutkan tengah menyusun dua Rancangan Permenkes (RPMK) tentang Pengadaan Vaksin dan Pelaksanaan Imunisasi dalam rangka Penanggulangan Pandemi Covid-19.

Dan, sembari menunggu vaksin Merah Putih buatan Indonesia yang diperkirakan baru siap pada 2022, uji coba vaksin Covid-19 dari negara lain pun sudah dimulai sejak Agustus 2020 di Bandung, Jawa Barat. Data BPOM menyebutkan lebih dari 1600 relawan terlibat dalam uji coba ini.

Di tangan Presiden Joko Widodo bersama para pembantunya di dalam Kabinet Indonesia Maju, rakyat menaruh harapan. Indonesia bisa melewati masa pandemi Covid-19. Tanpa gejolak (lagi) di sana-sini! ***

Penulis: Makmun Hidayat, redaktur cendananews.com

Lihat juga...