Sorgum Lebih Tahan Serangan Hama dan Bergizi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Tanaman pangan sorgum yang mulai dikembangkan di beberapa wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk di beberapa desa di Kabupaten Sikka, merupakan tanaman pangan yang lebih tahan terhadap serangan hama penyakit.

Daun sorgum lebih keras sehingga sangat susah diserang hama belalang dan ulat grayak, namun menjadi tanaman yang paling disukai burung terutama burung pipit, sehingga biasanya dahulu sorgum ditanam di pematang bagian luar tanaman padi atau jagung.

“Sorgum merupakan tanaman pangan lokal yang boleh dikata sangat rentan terhadap serangan hama penyakit,” kata Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) Kabupaten Sikka, NTT, Carolus Winfridus Keupung,saat ditemui Cendana News di kantornya,Senin (12/10/2020).

Menurut Win sapaannya, tanaman sorgum dahulu selalu ditanam petani di bagian luar pematang sawah dan kebun sehingga saat burung datang maka akan memakan sorgum sehingga tanaman padi terlindungi.

Kearifan lokal ini pun kata dia perlahan mulai hilang seiring banyaknya petani menanam padi dan jagung sehingga perlahan benih sorgum semakin sulit ditemukan di kalangan petani.

“Sorgum baik untuk ditanam di daerah yang tandus dan kekurangan air. Banyak lahan gersang yang seharusnya ditanami untuk dijadikan bahan pangan, karena nilai gizinya pun bagus,” ujarnya.

Sementara itu Peneliti pada Balai Penelitian Tanaman Serelia, Balitbangtan Kementan RI, Dr. Marcia Bunga Pabendon,MP saat ditanyai menjelaskan, biji sorgum memiliki kandungan nutrisi tinggi, kalsium tinggi, serat tinggi serta bebas gluten.

Dikatakan Marcia, sorgum memiliki kandungan karbohidrat relatif lebih rendah, dan antioksidan tinggi yang dapat meningkatkan immunitas, sehingga sangat baik digunakan sebagai sumber bahan pangan maupun pakan ternak.

“Saat ini seluruh dunia menjadi cemas karena munculnya wabah Covid-19 yang telah banyak menelan korban jiwa. Asupan nutrisi dan antioksidan tinggi sangat dibutuhkan. Wabah ini menyadarkan kita untuk mulai mengubah pola makan dari yang sekedar enak di lidah menjadi yang lebih menyehatkan,” ungkapnya.

Marcia menyebutkan, penderita autis (bebas gluten), celiac (gangguan sistem immun) dan penyakit diabetes (gula darah tinggi), dan keropos tulang banyak tertolong dengan mengkonsumsi beras sorgum dan gula dari nira sorgum.

Jadi sangat miris, kata dia, jika wilayah NTT dimana sorgum dapat tumbuh dan berproduksi dengan mudah ditambah aneka kacang-kacangan protein tinggi tapi persentase penderita diabetes sangat tinggi.

“ Perubahan pola pikir mengenai pola makan sehat dan bergizi perlu mendapat perhatian khususnya dalam melawan serangan berbagai virus dan bakteri. Salah satu tantangan untuk bisa menerima sorgum sebagai pangan sehari-hari adalah rasa di lidah,” tuturnya.

Menurut Marcia, pengolahan biji sorgum menjadi beras kurang tepat membuat sorgum jarang dikonsumsi karena kulit ari dari sorgum mengandung tannin yang rasanya agak sepat, sehingga rasa nasinya agak jauh dari rasa nasi beras padi.

Ia katakan, hal tersebut terjadi jika proses pemberasannya menggunakan mesin giling padi. Namun jika menggunakan mesin khusus penyosoh sorgum maka rasa nasi sudah sorgum hampir sama dengan nasi padi.

“Hal tersebut persis terjadi di dusun Likotuden, Desa Kawalelo, Kabupaten Flores Timur yang kini sudah banyak warganya yang menanam dan mengkonsumsi sorgum padahal dahulunya jarang yang mau mengkonsumsinya,” ucapnya.

Lihat juga...