Sumur Hulu Cai Jatisampurna Dipercantik jadi Destinasi Wisata Religi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI — Lokasi Sumur Hulu Cai, di Kranggan Kulon, Jatiraden, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi, Jawa Barat, dipercantik agar menjadi salah satu destinasi wisata religi di wilayah setempat.

Dalam pelaksanaan dilakukan dengan cara gotong-royong seperti pembuatan akses jalan menuju area sumur bersejarah Hulu Cai yang dikerjakan langsung para relawan. Mereka hanya mempercantik lokasi tanpa mengubah orinisinalitas guna memberikan kenyamanan pengunjung.

“Penataan disesuaikan semua dengan alam di lingkungan kawasan Sumur Hulu Cai. Suasana lingkungan tetap natural bagi siapa pun yang akan berkunjung dan kawasan yang ada betul-betul steril,” ujar Kang Abel, pegiat penataan peninggalan sejarah di wilayah Kranggan, Minggu (18/10/2020).

Lokasi Sumur Hulu Cai di Kranggan Kulon, Jatiraden, Jatisampurna, dipercantik dengan membuat akses jalan dan penataan lingkungan sumur agar lebih nyaman serta terjaga, Minggu (18/10/2020). Foto: Muhammad Amin

Dikatakan, material merupakan sumbangan dari relawan dan donatur yang peduli peninggalan sejarah seperti semen, pasir dan lainnya. Sedangkan pemerintah daerah belum. Baru support  saja seperti menjadikan tempat itu salah satu peninggalan sejarah.

Namun demikian, dia memaklumi, karena SK peninggalan sejarahnya belum ada. Jadi pemerintah belum bisa memberi anggaran dalam perawatan atau lainnya. Sehingga relawan berinisiatif mencari donatur dan bergotong royong dalam memperbaiki Sumur Hulu Cai.

“Kalau Wakil Wali Kota Bekasi sudah empat kali ke Sumur Hulu Cai, bentuk support langsung,” ujar Kang Abel kepada Cendana News.

Perlahan niat untuk melestarikan peninggalan bersejarah terus dilaksanakan. Tentunya kewajiban bersama dalam menjaga dan memelihara nilai luhur dari peninggalan bersejarah tersebut.

Selain pembuatan akses jalan menuju lokasi Sumur Hulu Cai, saat ini sudah dibangun saung dan kamar mandi kecil untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung. Khususnya bagi yang ingin merasakan kejernihan dan kesejukan air sumur bersejarah yang berada di bawah rerimbunan pohon di wilayah perkotaan.

“Kami juga tengah menyiapkan tempat berswafoto dengan memanfaatkan lingkungan yang masih asri. Jadi nanti setelah siap semua, maka pengelolaannya akan diserahkan kepada orang tua atau lingkungan sekitar untuk dijaga,” jelas Kang Abel.

Dia juga memastikan, orisinalitas Sumur Hulu Cai tetap terjaga karena lokasi itu selama ini juga kerap dijadikan sebagai salah satu tempat ritual adat di setiap bulan tertentu. Seperti sedekah bumi. Di areal yang ada sekarang, selain ditanami aneka pohon, juga dibuat semacam taman agar menambah kecantikan sumur.

Dia mengatakan, bahwa melestarikan Sumur Hulu Cai adalah bentuk menjaga tradisi budaya lokal dari kerusakan, baik oleh tangan manusia maupun faktor alam. Sehingga masyarakat Kranggan di tengah era globalisasi perkotaan tetap memiliki identitas.

“Identitas Kranggan sebagai kawasan seribu pantangan tidak boleh hilang. Biarlah itu menjadi identitas yang terus diturunkan kepada generasi penerus Siliwangi yang berasal dari kata silih dan wawangi,” paparnya sembari menegaskan   silih wawangi menjadi kesatuan dari semboyan Prabu Siliwangi.

Maknanya, setiap manusia harus saling mengasihi seperti seorang ibu yang memberikan susu pada bayi yang baru lahir. Juga saling mengasah agar lebih berdaya guna dalam kehidupan. Tentu saja juga saling mengasuh. Manusia memang harus saling memberikan hal positif.

Lihat juga...