‘Swab Test’ Digelar Dinkes Kota Semarang, Gratis

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Dinas Kesehatan Kota Semarang terus melakukan swab test atau tes usap kepada kontak erat, untuk menelusuri jejak penyebaran Covid-19. Tidak hanya itu, penerapan pola tracking, testing, dan treatment (3T) juga dilakukan untuk menekan angka penularan.

“Kita gencarkan pola tracking, testing, dan treatment (3T), terutama untuk kontak erat yang berhubungan langsung dengan pasien positif. Termasuk juga untuk kelompok rentan, seperti ibu hamil trimester tiga, orang dengan komorbid atau penyakit penyerta, lansia dan tenaga kesehatan,” papar Kadinkes Kota Semarang, Abdul Hakam saat ditemui di kantor Dinkes Kota Semarang, Jumat (9/10/2020).

Diterangkan, berbeda dengan tes mandiri, swab test yang digelar Dinkes Kota Semarang dilakukan secara gratis. “Swab ini dilakukan untuk menekan angka penyebaran. Di satu sisi, kita juga mendorong kesadaran masyarakat dalam melakukan tes rapid atau swab secara mandiri, untuk mengetahui kondisi kesehatannya. Ini untuk mengantisipasi adanya orang tanpa gejala (OTG),” terangnya.

Terlebih, saat ini pemerintah juga sudah mengeluarkan aturan terkait batas atas tarif tes swab Rp 900 ribu, sebagai upaya untuk memperluas layanan kepada masyarakat.

“Mudah-mudahan ini akan membuat harga lebih terjangkau masyarakat, sehingga kesadaran mereka untuk memeriksakan diri secara mandiri juga meningkat. Kita sudah sampaikan kebijakan ini ke rumah sakit dan laboratorium yang memiliki fasilitas swab di Semarang,” tandasnya.

Dijelaskan sejauh ini sejumlah rumah sakit yang sudah memiliki fasilitas swab, diantaranya RSUD Wongsonegoro, RS Roemani, RSND undip, Telogorejo, Elisabeth, hingga RS Unissula Semarang.  Selain itu, sejumlah laboratorium besar juga sudah mempunyai fasilitas tersebut. “Biaya tersebut sudah termasuk surat keterangan hasil,” terangnya.

Dalam kesempatan tersebut, Hakam juga memastikan bahwa biaya perawatan pasien Covid-19 tetap akan ditanggung pemerintah, meski tidak dirawat di rumah sakit rujukan.

“Jika tidak masuk ke lini 1 dari Kemenkes atau lini 2 dari provinsi, maka biaya pasien akan dimasukkan pada lini 3, pemda. Selama proses sesuai dengan ketentuan akan tetap bisa masuk. Prinsipnya setelah diverifikasi dari BPJS Kesehatan dan masuk akal, tetap akan ditanggung,”  tegas Hakam.

Terpisah, terkait pemberlakukan batas maksimal tarif swab mandiri, sejumlah rumah sakit di Kota Semarang sudah menerapkan kebijakan tersebut. Salah satunya, RSUD Wongsonegoro.

“Sebelumnya, biaya swab mandiri di RSUD Wongsonegoro sebesar Rp 1,175 juta. Sekarang ini sudah disesuaikan dengan aturan yang baru Rp 900 ribu. Tentu kita mendukung program pemerintah, karena ini persoalan kemanusiaan bukan untuk mencari keuntungan semata,” papar Direktur RSUD Wongsonegoro, Susi Herawati.

Dijelaskan, selama ini hasil pemeriksaan swab test cukup cepat, hanya satu hari. Hal tersebut memungkinkan karena rumah sakit milik Pemkot Semarang tersebut, sudah memiliki laboratorium untuk pemeriksaan sampel swab. Bahkan, RSUD Wongsonegoro saat ini mampu memeriksa hingga 600 sampel swab per hari.

“Satu hari bisa langsung diketahui hasilnya. Kalau masuk siang , setelah pukul 12.00 WIB, baru besoknya . Kalau pagi, malam sudah bisa diketahui hasilnya,” ujarnya.

Diakuinya, kesadaran masyarakat yang melakukan swab mandiri cukup tinggi, termasuk di RSUD Wongsonegoro. Dalam sehari rata-rata, pihaknya menerima 30 orang yang mengajukan swab mandiri.

“Dulu paling banyak tes rapid, namun kemudian sekarang ini sudah mulai beralih ke swab. Mereka melakukan swab, karena ada berbagai kebutuhan, mulai dari pekerjaan, perjalanan dinas, hingga memang ingin mengecek kesehatan mereka,” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan ketua Tim Penanganan Covid-19 RS Roemani Semarang, dr Galang Kusuma Anantyo.

“Biaya untuk tes swab mandiri sebelumnya Rp 1,4 juta. Kita tidak keberatan jika turun menjadi Rp 900 ribu. Justru dengan adanya aturan baru ini, ketika harga lebih terjangkau, diharapkan banyak masyarakat yang bersedia untuk melakukan tes swab mandiri dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19,” tandasnya.

Sejauh ini, dibandingkan rapid test, jumlah masyarakat yang melakukan swab mandiri masih relatif rendah, rata-rata 2-3 orang per hari.

“Memang masih rendah, karena sebelumnya harga masih relatif tinggi dibanding dengan rapid test. Mudah-mudahan dengan kebijakan baru tersebut, minat dan kesadaran masyarakat meningkat,” pungkas Galang.

Lihat juga...