Tambak Kekeringan, Sejumlah Warga Lamsel Beralih Usaha Alternatif

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Usman, salah satu pemilik usaha tambak udang putih atau vaname menebar jala. Kali ini ia menebar jala di kanal yang ada di Desa Berundung, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan (Lamsel). Hujan yang tak pernah turun dan kanal yang airnya mulai surut berimbas tambak miliknya tidak dioperasikan.

Usman, salah satu petambak udang di Desa Berundung, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan memilih mengisi waktu luang dengan menjaring ikan, Minggu (11/10/2020) – Foto: Henk Widi

Operasional tambak tradisional sebut Usman, mengandalkan sistem pompa dari kanal. Namun hujan yang tidak turun berimbas daya dorong air laut tidak sampai ke wilayahnya. Berjarak enam kilometer dari pesisir pantai timur Lampung Selatan  normalnya ia bisa memanfaatkan air kanal.

Pendangkalan imbas kemarau mengakibatkan air payau untuk budi daya udang vaname sulit diperoleh. Sebanyak empat petak lahan tambak udang vaname diistirahatkan sejak empat bulan silam. Masa pandemi Covid-19 sebutnya, ikut berdampak pada sektor pertambakan. Sebab ekspor udang sempat terhenti.

“Saat kran ekspor udang mulai dibuka musim kemarau melanda, fasilitas kanal primer untuk pasokan air pada area tambak mengering. Hanya cukup untuk sebagian tambak yang berada di dekat aliran sungai, kami yang jauh mengandalkan kanal sekunder tidak kebagian air,” cetus Usman saat ditemui Cendana News di Ketapang, Minggu (11/10/2020).

Usman menambahkan, kanal sekunder akan teraliri air saat penghujan. Daya dorong air pasang laut tidak akan sampai di kanal jika air sungai tidak masuk ke kanal. Sebagian kanal sebutnya terkoneksi dengan sungai Way Sekampung. Namun debit air yang menyusut berimbas pada berkurangnya pasokan air bagi areal pertambakan.

Memilih usaha alternatif mencari ikan di kanal menjadi pilihan baginya. Ikan gabus, nila, sepat dan berbagai jenis ikan air tawar bisa diolah dengan cara diawetkan. Ikan yang diawetkan memakai sistem penjemuran akan menjadi ikan kering tawar. Sang istri akan menjual ikan kering yang telah dijemur pada sejumlah warung.

“Ikan kering bisa dibarter dengan bumbu dapur, beras dan kebutuhan rumah tangga,” bebernya.

Usman sesekali juga pergi melaut di sekitar pulau Mundu. Menggunakan perahu ia mencari ikan dengan memasang jaring apung. Berbagai ikan didapat, bahkan bahan ikan asin juga kerap diperoleh. Ratnawati sang istri akan melakukan pengolahan ikan kering dengan cara menjemur. Setelah kering ikan akan dikemas ukuran 100 gram dijual pada sejumlah warung.

Usman memilih usaha lain sebab sektor pertambakan masih belum bisa diandalkan. Modal mencapai puluhan juta sebutnya jadi kendala untuk menghasilkan uang kala kemarau. Bagi pemilik modal cukup ia menyebut akan menggunakan sumur bor dan mesin pompa. Namun petambak tradisional sepertinya memilih berhenti operasi dan beralih ke usaha lain.

“Beralih ke usaha nelayan tangkap jadi alternatif untuk menyambung hidup hingga nanti musim penghujan,” bebernya.

Ingin menjadi buruh panen padi, Usman mengaku saat ini penggunaan mesin modern berimbas tenaga manusia tak terpakai. Meski memakai tenaga manusia maksimal hanya empat orang berikut sejumlah tenaga manol pengangkut gabah. Mesin panen combine harvester jadi pilihan petani sehingga ia tak bisa lagi menjadi buruh tani.

Sohari lebih beruntung, pemilik tambak di Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi itu dekat sungai Way Sekampung. Air yang kerap payau saat pasang air laut masuk ke kanal primer dan disedot dengan mesin pompa. Selanjutnya air akan digunakan untuk budi daya udang vaname yang bisa dipanen setiap dua bulan lebih. Sistem panen parsial memberinya hasil saat kemarau.

Sohari, salah satu petambak di Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, masih bisa melakukan budi daya udang vaname dengan memakai air dari aliran kanal yang disiapkan, Minggu (11/10/2020) – Foto: Henk Widi

“Air yang digunakan sebagian memakai sumur bor karena kadar garam saat kemarau akan meningkat, harus ada tambahan air tawar,” bebernya.

Meski sejumlah petambak memilih berhenti operasi, dari delapan petak ia hanya mengaktifkan empat petak. Cara tersebut untuk efisiensi budi daya. Sebab dengan air terbatas kala kemarau ia harus memaksimalkan potensi yang ada.

Menebar sekitar 10.000 benur ia bisa memanen hingga sepuluh kuintal. Saat kemarau dampak virus bintik putih kerap mengurangi produksi udang vaname miliknya.

Saat tidak beroperasi, Sohari mengaku masih bisa beralih ke sektor usaha lain. Sebab sang istri yang memiliki usaha kuliner tetap bisa menjadi sumber penghasilan baginya.

Memiliki usaha kuliner warung ia bisa mencari bahan baku ikan laut dan air tawar untuk sajian menu bagi warung istrinya. Kemarau dan keterbatasan modal diakuinya jadi kendala petambak jelang akhir tahun.

Lihat juga...