Teknologi Batimetri Mudahkan Pemetaan Dasar Laut

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Perkembangan teknologi Batimetri menjadikan proses pemetaan dasar laut dalam rangka mengembangkan potensi kelautan dan perikanan menjadi lebih mudah dan akurat. Data terkait dasar laut dan fenomena alam di sekitar pesisir, akan mampu mewujudkan suatu pembangunan yang berkelanjutan, sekaligus mampu mengantisipasi potensi bencana.

Kepala Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir (LRSDKP), Nia Naelul Hasanah Ridwan, SS., M.Soc., Sc., menyatakan pemetaan dasar laut memiliki peran besar dalam proses pengenalan fenomena yang terjadi di pesisir pantai.

“Pemetaan dasar laut ini memiliki esensi dalam pemodelan, memahami fenomena tsunami, abrasi, sedimentasi untuk melihat gambaran yang lebih lengkap. Juga untuk riset sumber daya nonhayati, seperti kapal karam, terkait lokasi maupun posisi kapal tersebut aman atau tidak,” kata Nia dalam workshop online LRSDKP, Jumat (16/10/2020).

Dengan berkembangnya teknologi pemetaan laut yang ada saat ini, proses pemetaan dan riset kelautan menjadi lebih detail dan mampu memberikan hasil yang lebih akurat.

“Artinya, setiap riset yang dilakukan akan mampu memberikan sumbangsih pada kebijakan pengembangan wilayah pesisir dan kelautan secara lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Kepala Pusat Riset Kelautan, I Nyoman Radiarta, S.pi., M.Sc., menjelaskan riset dasar laut menjadi sangat penting di Indonesia yang merupakan negara kelautan, dengan sumber daya kelautan yang sangat besar.

“Potensi sumber daya ini dibarengi dengan potensi kerusakan sumber daya juga. Misalnya, seperti abrasi. Karena itu, pemetaan dasar laut menjadi sangat penting dalam kaitan pengembangan wilayah pesisir dan kelautan, seperti untuk penentuan jalur pelayaran, pemodelan hidrodinamika maupun penentuan situs sejarah bawah laut,” ungkapnya, dalam kesempatan yang sama.

Teknologi untuk pemetaan dasar laut atau yang dalam bahasa teknisnya dikenal sebagai Batimetri, dimulai sejak dulu dengan cara yang tradisional, yaitu dengan tali ukur yang menghasilkan tingkat keakurasian yang sangat rendah.

“Lalu, teknologinya berkembang menjadi pengukuran dengan menggunakan gelombang suara atau yang kita kenal dengan echo-sounder. Lalu, berkembang lagi dengan sistem penginderaan jauh dengan menggunakan ratio-band, yang mengekstrak hasil batimetri daerah pesisir maupun lautan,” urainya.

Penggunaan teknologi ini, tentunya diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih baik dalam menyokong pemerintah dalam mengembangkan wilayah pesisir dan kelautan Indonesia.

“Kajian topografi sudah dilakukan dalam kerentanan wilayah pesisir. Kolaborasi pun sudah dilakukan dengan pihak lembaga peneliti lainnya, maupun akademisi untuk mengolah data batimetri ini menjadi bagian pengembangan wilayah kelautan. Maupun penggunaan hasil kajian untuk dilanjutkan dengan kajian berikutnya yang lebih detail, dan membangun data batimetri nasional yang bisa digunakan oleh pihak-pihak terkait untuk dimanfaatkan,” papar Nyoman Radiarta.

Dalam pengaplikasiannya, Peneliti Geomatika Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir (LRSDKP), Guntur Adhi Rahmawan, ST., menyatakan teknologi Batimetri bisa digunakan dalam menterjemahkan kerentanan sumber daya pesisir yang beragam.

“Ada sumber daya buatan dan jasa-jasa lingkungan yang memanfaatkan pasir, air laut, mineral dasar laut maupun objek bawah air. Contohnya, pelabuhan untuk transportasi maupun identifikasi muatan kapal karam. Atau sumber daya hayati seperti ikan, terumbu karang, padang lamun, mangrove maupun biota laut lainnya,” kata Guntur.

Berbagai sumber daya pesisir ini memiliki kerentanan, yang bisa dilihat dari aspek fisik, sosial kependudukan dan ekonomi.

“Kerentanan ini menggambarkan tingkatan suatu sistem yang mudah terkena atau tidak mampu menanggulangi bencana. Misalnya, dalam menghadapi gelombang maupun perubahan iklim. Contohnya, rob yang terjadi di beberapa lokasi dekat pantai di Indonesia hingga tsunami,” urainya.

Guntur menjelaskan, untuk mempelajari risiko kerentanan ini, para peneliti kelautan mengembangkan batimetri, yang merupakan pemetaan kondisi dasar perairan dengan memanfaatkan teknologi akustik, yang berbasis gelombang suara maupun penginderaan jarak jauh.

“Informasi ini bisa didapatkan dari 20 titik pemeruman, citra landsat, quickbird, peta yang berasal dari berbagai penelitian dasar laut oleh instansi berwenang, Batnas maupun Gebco. Setiap data ini memiliki perbedaan sesuai kebutuhan atau peruntukan,” ujarnya.

Contohnya, dengan melakukan pemetaan di daerah Pangandaran, maka bisa diteliti daerah mana yang rentan karena pengaruh gelombang dan abrasi, serta prediksi tsunami yang mungkin terjadi di sepanjang selatan Jawa.

“Atau menggunakan batimetri untuk mengamati tebalnya sedimentasi dan pola sebarannya untuk kepentingan pengerukan wilayah pendangkalan, atau pun pengerukan kolam pelabuhan. Misalnya, kajian Teluk Ambon,” ucap Guntur.

Yang terbaru, lanjutnya, salah satunya adalah kajian pengerukan pasir secara besar-besaran di daerah Serang dan penelitian kolam dermaga di Bungus, dalam rangka penambahan kapasitas kapal di Pelabuhan Mentawai.

“Bahkan dengan data batimetri ini, juga bisa dideteksi pergerakan partikel sampah maupun peninjauan awal sebelum dilakukan pemasangan keramba apung,” tandasnya.

Lihat juga...