Tergerak Mendidik Anak Pedesaan, Pemuda Ini Bangun Sekolah Alam

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Gunawan Wirdana, pemuda asal Desa Mekar Mulya terlihat bercucuran peluh. Ia mencangkul adonan tanah yang telah dilumatkan dengan air. Proses pembuatan batu bata dilakukan olehnya untuk mewujudkan penyempurnaan bangunan sekolah alam.

Bangunan terbuat dari kayu kelapa, jati ambon, beratapkan asbes seluas 20×8 jadi tempat bernaung pembuatan batu bata.

Gunawan Wirdana yang pernah bekerja pada perusahaan pupuk di Palembang itu memilih pulang kampung ke Kecamatan Palas, Lampung Selatan. Melihat anak-anak melaksanakan kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ) ia menggagas sekolah alam untuk alternatif belajar. Gagasan itu didukung Taranita, pemudi asal desa yang sama dengan niat tulus mencerdaskan generasi bangsa.

Memiliki semangat untuk mendidik anak pedesaan, Gunawan Wirdana berbagi tugas. Proses kegiatan belajar mengajar dilakukan olehnya bergantian dengan Taranita. Waktu luang sebelum kegiatan belajar yang dilakukan sore hari dimanfaatkan olehnya untuk membuat batu bata. Batu bata dicetak olehnya bersama pekerja yang diupah untuk proses pembuatan pagar area sekolah alam.

“Saya manfaatkan lahan yang cukup representatif bagi aktivitas anak anak belajar, bermain sekaligus belajar mengenal lingkungan tempat tinggal namun bertahap dengan membuat bangunan sederhana di dekat area persawahan,” terang Gunawan Wirdana saat ditemui Cendana News, Kamis (22/10/2020).

Gunawan Wirdana menyebut ia memanfaatkan uang hasilnya bekerja untuk mendirikan sekolah alam. Sejumlah tiang yang dibuat dari kayu kelapa sebutnya akan diperkuat memakai bata. Namun keterbatasan biaya membuatnya memilih mengolah tanah menjadi batu bata. Rencananya batu bata yang telah kering akan dibakar lalu dipergunakan sebagai pagar.

Gunawan Wirdana, pemuda Desa Mekar Mulya, mengolah tanah untuk membuat batu bata guna pembuatan pagar sebagian akan dijual untuk pengembangan Sekolah Alam Ruang Aksara, Kamis (22/10/2020). -Foro Henk Widi

Pagar keliling area sekolah alam sebutnya telah dibuat pondasi. Namun pencetakan bata masih terus dilakukan untuk mendapatkan jumlah sekitar 20.000 buah. Selain untuk pagar,sekat pada bangunan sekolah alam akan dibuat setelah batu bata dibakar. Batu bata buatannya juga akan dijual bagi warga yang membutuhkan untuk bahan bangunan.

“Hasil penjualan batu bata akan dipergunakan untuk keperluan sekolah alam dalam proses pembuatan kursi, meja belajar yang belum lengkap,” tuturnya.

Fasilitas kursi dan meja belajar saat ini diakui Gunawan Wirdana masih memanfaatkan ban bekas. Ban bekas yang dimodifikasi berfungsi sebagai meja belajar dan kursi. Sebanyak lebih dari 20 anak bahkan kerap memanfaatkan tikar sementara waktu untuk belajar. Sarana belajar white board, penghapus digunakan untuk sementara waktu.

Dibantu Andes Sobana yang mencetak batu bata ia menyebut target sebanyak 20.000 belum selesai dibuatnya. Butuh waktu sekitar dua pekan lebih untuk penyelesaian pencetakan secara manual hingga batu bata siap dibakar. Sembari menyelesaikan proses pembuatan batu bata anak anak di sekolah alam sementara belajar di dekat area persawahan.

“Proses kegiatan belajar nonformal dengan sekolah alam jadi cara untuk mendidik anak-anak di sela waktu belajar dalam jaringan,” beber Gunawan Wirdana.

Ia menyebut membangun sekolah alam yang diberi nama Ruang Aksara dengan filosofi ruang untuk belajar banyak hal. Anak anak yang sebagian telah bisa membaca,menulis perlu mendapat bimbingan untuk memahami bahasa Inggris. Sejumlah edukasi mengenai bercocok tanam, mengenal alam disampaikan dalam bahasa Inggris.

Selama batu bata belum selesai dibuat Gunawan Wirdana menyebut aktivitas belajar masih tetap dilakukan. Taranita yang memiliki tugas mengajar anak anak memanfaatkan waktu dengan belajar bahasa Inggris. Hingga bangunan sekolah alam Ruang Aksara selesai dibuat ia menyebut kegiatan belajar tetap dilakukan.

“Di sela sela kegiatan belajar wajib dari sekolah anak anak setiap sore belajar di sekolah alam minimal satu jam perhari,” terang Taranita.

Serupa dengan Gunawan Wirdana, gadis yang memiliki profesi sebagai bidan itu menyebut rela resign dari sebuah klinik. Panggilan hati untuk mendidik anak anak kala pandemi Covid-19 menjadi cara untuk mengabdi bagi kampung halamannya. Menggunakan sekolah di alam terbuka sebutnya memiliki nilai edukatif bagi anak mencintai alam.

Selain itu anak-anak masih bisa mendapatkan materi sejumlah pelajaran praktis. Pelajaran praktis yang diberikan pada anak-anak usia SD hingga SMP sebutnya didominasi pelajaran Bahasa Inggris. Percakapan bahasa Inggris yang diberikan erat dengan kehidupan sehari hari. Ia bahkan dibantu Mrs. Anna wanita asal Finlandia yang membantunya mengajari anak anak Bahasa Inggris langsung dari penutur asli.

Lihat juga...