Tren Tanaman Hias Berkah Pengrajin Gerabah di Kasongan

Editor: Makmun Hidayat

YOGYAKARTA — Tumbuh dan berkembangnya hobi memelihara tanaman hias di kalangan masyarakat sejak beberapa waktu terakhir, ternyata mampu berkontribusi dalam menggerakkan perekonomian di sektor UKM yang selama ini harus terhenti akibat pandemi Covid-19. 

Salah satu sektor UKM yang menerima ‘berkah’ tersendiri dari munculnya tren memelihara tanaman hias adalah para pengrajin gerabah. Sempat hancur di masa awal munculnya virus corona, kini usaha mereka perlahan kembali pulih setelah permintaan pesanan pot tanaman bunga melonjak tinggi.

Seperti dirasakan para pengrajin di wilayah Kasongan, Bantul, yang selama ini dikenal sebagai pusat kerajinan gerabah di Yogyakarta.

“Sudah sejak 3-4 bulan terakhir ini, permintaan pot bunga melonjak drastis. Kita sampai kewalahan melayani pesanan. Alhamdulillah sekali karena bisa menjadi sumber pemasukan, setelah sebelumnya usaha kita benar-benar sepi,” ungkap salah seorang pengrajin gerabah, Murjinah (46), asal Kasongan, Bangunjiwo, Bantul, Selasa (13/10/2020).

Murjinah mengakui tingginya permintaan pot bunga saat ini, memang menjadi angin segar bagi para pengrajin gerabah di Bantul. Bahkan tak sedikit pengrajin gerabah di wilayahnya saat ini, telah beralih untuk fokus membuat dan menjual pot bunga dibandingkan jenis kerajinan gerabah lain seperti perkakas rumah tangga maupun hiasan ruangan.

“Kalau untuk jenis-jenis gerabah seperti kuwali, anglo, celengan, vas maupun hiasan lain, saat ini sangat sepi. Tidak ada yang membeli sama sekali. Paling hanya padasan untuk tempat menampung air. Itu pun hanya ramai saat awal-awal Covid-19 dulu, sekarang sudah menurun,” katanya.

Wanita yang telah menjadi pengrajin gerabah selama puluhan tahun ini mengaku mampu memproduksi hingga 30 buah pot bunga berbagai ukuran dalam satu hari. Dibantu suaminya, ia lantas menjualnya langsung ke konsumen lewat kiosnya dengan harga bervariasi mulai dari Rp15ribu hingga Rp100ribu tergantung bentuk dan ukuran.

“Saat 3 bulan pertama sejak munculnya Covid-19, kita benar-benar tak dapat pemasukan sama sekali. Karena memang tak ada pembeli. Pesanan yang biasanya untuk dikirim ke luar negeri juga terhenti. Padahal kita harus rutin membayar cicilan bulanan. Untung akhir-akhir ini banyak yang mencari pot, sehingga usah bisa tetap jalan,” bebernya.

Salah satu kendala yang dihadapi para pengrajin gerabah seperti Murjinah saat ini adalah ketersediaan stok bahan baku berupa tanah liat. Di mana pasokan tanah liat yang merupakan bahan baku utama pembuatan kerajinan gerabah sulit didapat akibat banyak yang membutuhkannya.

“Untuk harga bahan baku sebenarnya tidak ada kenaikan. Hanya saja pasokan sulit dan tersendat. Jika biasanya satu minggu kita dikirim 1 colt tanah liat, paling sekarang hanya dikirim 1/4-nya saja. Sehingga kadang kita tidak bisa produksi walaupun sebenarnya permintaan atau pesanan banyak,” ungkapnya.

Lihat juga...