Tunggakan Kredit di KSU Derami Padang Cukup Terkendali, Ini Cara Jitunya

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Ketua KSU Derami Padang, Gusti Ayu Ratniati, saat ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu/Foto: M Noli Hendra

PADANG — Kendati melalui masa-masa dampak pandemi Covid-19, Koperasi Serba Usaha (KSU) Dewantara Ranah Minang (Derami) Padang, Sumatera Barat, menyatakan untuk tunggakan kredit sejauh ini masih terkendali.

Ketua KSU Derami Gusti Ayu Ratniati mengatakan untuk kondisi tunggakan kredit di KSU Derami hingga positif September 2020 masih berada di bawah 3 persen. Artinya pembayaran kredit masih cukup baik, kendati ada beberapa yang macet.

“Angka di bawah 3 persen itu, untuk masyarakat yang menjalani usaha yang merasakan dampak sepi nya pembeli, seperti pedagang di kawasan sekolah,” kata Ayu, ketika dihubungi Cendana News di Padang, Jumat (30/10/2020).

Ia menyebutkan di KSU Derami yang menjadi nasabah atau penikmat pinjaman modal usaha melalui unit usaha Modal Kota yang didukung sepenuhnya oleh Yayasan Damandiri adalah pelaku usaha super mikro dan usaha kecil.

Begitu juga untuk pedagang di kawasan sekolah, juga terbilang cukup banyak. Mereka adalah pedagang yang mengandalkan transaksi jajan dari para siswa. Tapi dengan kondisi di Padang yang belum bisa memulai sekolah tatap muka, para pedagang itu tidak memiliki penghasilan.

“Untuk pedagang di lingkungan sekolah ini sangat kita pahami. Bahkan telah kita beri keringanan, seperti untuk membayar seadanya saja dulu, dengan tujuan pembayaran kredit tetap jalan,” ujarnya.

Ayu menyebutkan untuk jumlah UKM yang kini tengah menikmati pinjaman modal usaha dari Modal Kita ada berjumlah lebih dari 3.000 UKM. Mereka menjalani usaha berbagai hal, termasuk juga nelayan dan petani.

Menurutnya, untuk usaha benar-benar tergolong terdampak berat akibat pandemi adalah usaha yang selama ini hidup di lingkungan sekolah dan kawasan kampus.

Sementara untuk usaha warung, industri rumahan, pertanian, dan perikanan, masih bisa jalan, meski penghasilan mereka tidak di angka maksimal. Artinya tunggakan kredit atau NPL di bawah 3 persen itu adalah usaha di lingkungan sekolah dan kampus itu.

“Jumlah masyarakat yang menggantungkan usaha dari lingkungan sekolah dan kampus memang cukup banyak, bisa dikatakan lebih dominan. Tapi ada beberapa dari mereka yang mencoba cari tempat dagang,” jelas Ayu.

Dikatakannya ada juga yang sebelumnya menjalani usaha di kawasan sekolah, beralih menjadi pedagang jual usaha gorengan di kawasan tepi jalan. Ternyata alih lokasi dinilai cukup jitu menyiasati ekonomi membaik di tengah gelombang pandemi.

“Kami dari pengurus KSU Derami itu kan ada turun ke beberapa kelompok atau Posdaya untuk mengetahui kondisi usaha masyarakat. Nyatakannya banyak yang cari usaha lain, agar tetap produktif,” ungkapnya.

Sementara itu secara terpisah, Manajer Modal Kita KSU Derami Padang, Margono Okta, mengatakan, dari awal pandemi datang ke Sumbar pengurus telah mulai melakukan pemetaan terkait kawasan-kawasan yang masih dinilai produktif.

Hal itu terbukti bahwa pedagang di kawasan sekolah dan kampus bakal menghadapi terjadi kredit macet. Artinya dengan kondisi saat ini dimana NPL berada di bawah angka 3 persen.

“Sekarang kan lagi ada pendami Covid-19. Kita pahami betul bagaimana pandemi ini mengganggu perekonomian. Jangan pedagang kecil-kecilan, pelaku usaha yang sudah besar pun ikut merasakan dampaknya,” tegasnya.

Meno bahkan membuktikan bahwa perekonomian di KSU Derami Padang masih baik-baik saja di saat pandemi masih melanda Padang, yakni terus menambah jumlah kelompok atau Posdaya baru ke berbagai daerah pelosok.

Dikatakannya alasan menjangkau daerah pelosok atau jauh dari pusat Kota Padang, karena kondisi kesulitan usaha di pusat kota jauh berbeda dengan kondisi usaha di kawasan pinggiran kota. Untuk itu, agar finansial di KSU Derami bisa membaik, dijangkaulah ke usaha-usaha di pinggiran kota.

“Kita telah mendirikan kelompok baru tepatnya di bulan Agustus dan September 2020 setidaknya sudah 4 kelompok baru. Kita berharap ekonomi di pinggiran kota bisa terbantu dan tidak sama terjadi di kawasan pusat kota,” harap dia.

Lihat juga...