Ujian Keimanan dan Kesabaran

OLEH: HASANUDDIN

PEMIMPIN Gereja Katolik Vatikan, Paus Fransiskus, mendukung pembuatan landasan hukum yang mengatur tentang ikatan hubungan pasangan sesama jenis.

Paus Fransiskus menyampaikan pernyataan itu dalam film Fransesco, sebuah dokumenter yang disutradarai oleh pembuat film asal Rusia, Evgeny Afineevsky, yang ditayangkan perdana di Festival Film Roma, Rabu (21/10).

“Orang homoseksual memiliki hak untuk berada dalam sebuah keluarga. Mereka adalah anak-anak Tuhan dan memiliki hak atas sebuah keluarga. Tidak ada yang harus dibuang atau dibuat sengsara karenanya,” kata Paus dalam film tersebut seperti yang dilaporkan Catholic News Agency dan dikutip CNN, Kamis (22/10).

Sesungguhnya larangan melakukan hubungan sesama jenis kelamin, telah Allah turunkan sejak era Nabiullah Ibrahim as. Dikisahkan bahwa keponakan Nabi Ibrahim as, yakni Nabi Luth as telah ditugaskan Allah swt untuk mencegah kaumnya dari perbuatan tercela yakni memperturutkan hawa nafsu  mereka dengan melegalkan hubungan sesama jenis kelamin. Kisah tentang ini tidak hanya dimuat dalam Kitab Perjanjian Lama, namun juga dalam Al-Quran. Serta dapat ditemukan jejak antropologisnya, bagaimana Allah swt menimpakan azab kepada kaum Luth.

Keputusan Paus menyetujui pelegalan LGBT itu tentu memiliki signifikansi tinggi bagi kehidupan sosial kita. Mengingat pengikut mazhab Katolik di Tanah Air, cukup banyak populasinya. Jika mereka mengikuti Paus, artinya umat Katolik di Tanah Air, akan berdiri pada posisi menerima pelegalan hubungan sesama jenis kelamin tersebut. Dan tentu, hal itu akan menimbulkan situasi kerawanan sosial di tengah masyarakat kita, yang umumnya tidak dapat menerima perilaku seperti itu.

Di dalam surah Al-Furqon ayat 43-44 Allah swt berfirman:

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tiada lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (daripada binatang ternak itu).

Tantangan keimanan bagi umat Islam memang semakin hari, akan semakin berat. Menghadapi aneka ujian, tantangan dan cobaan itu, Allah dan Al-Quran menganjurkan agar umat Islam mengambil sabar dan salat sebagai penolong mereka. Namun Allah juga menegaskan bahwa bukanlah hal yang mudah untuk dapat menjadikan sabar dan salat itu sebagai penolong. Diperlukan sikap ‘khusyu’ dalam kehidupan, agar seseorang dapat memperoleh kemampuan bersabar dalam menegakkan salat. Sudah barang tentu, saolat dimaksud tidak semata memenuhi prosedur fiqh-nya saja. Namun juga mesti disertai dengan ma’rifat kepada Allah swt.

Dalam skala kehidupan sosial kenegaraan, tantangan akan hal ini tentu tidaklah mudah. Arus globalisasi, liberalisme, sekularisme dan tentu saja materialisme, merupakan ancaman bagi kehidupan sosial keagamaan.

Di sisi lain, kelompok yang disebut sebagai “orang-orang yang beriman”, “orang-orang yang bertauhid”, “orang-orang yang bersyukur”, memang senantiasa minoritas pada setiap fase perkembangan kemanusiaan. Sebaliknya, mereka yang menentang ayat-ayat Allah, mendurhakai para Nabi dan Rasul-Nya, mengatakan Al-Quran hanyalah omong kosong belaka, senantiasa mayoritas dalam masyarakat.

Sebab itulah, bukan hal yang mudah untuk mempertahankan keimanan kepada Allah swt. Apa yang dilakukan oleh Paus di atas  sesungguhnya membuka misteri besar yang selama ini di sembunyikan oleh “tahta suci” Vatikan. Bahwa jubah yang mereka kenakan, dan berbagai simbol-simbol keagamaan mereka hanyalah topeng belaka. Krisis legitimasi para pasteur di gereja-gereja Katolik, akibat terbongkarnya sejumlah skandal pelecehan seks, baik biseks, maupun homo seks yang terjadi ribuan tahun di balik tembok-tembok gereja, akhirnya tidak lagi mampu mereka tutupi.

Langkah melegalkan kehidupan homo seksual tidak lebih karena telah menjadi kebiasaan dalam kehidupan gereja Katolik, sekalipun selama ini mereka masih tutupi.

Masalah ini sesungguhnya masalah internal mazhab Katolik, namun karena kebijakan itu dapat berimplikasi luas, sehingga kami memandang perlu untuk sekadar memberikan peringatan kepada kita semua, bahwa sedang ada ancaman sosial nyata yang sangat berbahaya di tengah-tengah kita.

Semoga Allah swt menguatkan iman kita, memberikan kita kekuatan berupa kesabaran dalam menghadapi semakin banyaknya ancaman dalam kehidupan spritualitas, maupun sosiologis kita. ***

Depok, 23 Oktober 2020

Lihat juga...