Usaha Kuliner di Bandar Lampung Ubah Strategi Marketing Kala Pandemi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Sektor usaha kuliner ikut terdampak pada masa pandemi Covid-19. Sejumlah pemilik usaha kuliner di Bandar Lampung memilih mengubah sistem penjualan atau marketing menyesuaikan sepinya penjualan. Di sejumlah titik usaha kuliner memilih berjualan memakai mobil toko (moko) untuk menggaet pelanggan.

Sariyanti, salah satu pemilik usaha kuliner kerupuk ikan jenis kemplang, pletekan memilih membawa sebagian barang dagangannya dengan moko. Sejatinya mobil yang digunakan merupakan minibus untuk kendaraan pribadi, namun ia memilih menggunakannya untuk usaha selama pandemi Covid-19. Pilihan berjualan dengan Moko sebutnya memperluas jaringan penjualan.

Sebelumnya Sariyanti memiliki toko di Jalan RE Martadinata. Jalan tersebut jadi akses pariwisata menuju sejumlah pantai di Bandar Lampung dan Pesawaran. Berbagai jenis kuliner berbahan ikan yang dijual untuk oleh oleh selain kerupuk berupa empek empek, otak otak.

“Toko tetap buka dikelola orangtua, saya sebagai anak ikut membantu sisi merketing memanfaatkan aplikasi media sosial dan berjualan langsung memakai mobil toko, jalan Juanda Pahoman jadi salah satu lokasi strategis sehingga penjualan olahan kuliner bisa meningkat,” terang Sariyanti saat ditemui Cendana News, Sabtu (24/10/2020).

Mengubah strategi marketing untuk memasarkan produk kuliner sebutnya mengikuti perkembangan zaman. Sebelumnya ia dan keluarganya hanya mengandalkan pengunjung yang datang dari luar wilayah saat datang ke sejumlah objek wisata. Namun semenjak pandemi Covid-19 sektor pariwisata yang lesu berimbas usaha kuliner terdampak.

Berbagai jenis kuliner oleh oleh sebutnya dijual dengan sistem kemasan dan curah. Sistem kemasan dari ukuran 150 gram hingga 500 gram. Sistem curah jenis pletekan, kerupuk ikan dijual mulai ukuran 1 kilogram hingga 5 kilogram. Memanfaatkan banner dan memajang barang dagangan di bagian belakang mobil membuat usahanya mudah dilihat.

“Kerap ada penertiban dari petugas namun dengan adanya masa pandemi kerap mereka memaklumi,” cetusnya.

Meski tidak signifikan Sariyanti menyebut ia bisa menjual belasan kilogram kerupuk. Rata rata omzet perhari bisa mencapai ratusan ribu. Selain itu ia masih bisa mendapat omzet ratusan ribu dari menjual pempek, otak otak. Memanfaatkan media sosial Facebook, Instagram ia kerap mempromosikan kuliner yang dijual sekaligus lokasi agar mudah dijangkau.

“Saat ini ada sistem share location dengan Google Maps sehingga konsumen lebih mudah sampai lokasi,” cetusnya.

Lain halnya dengan pedagang kuliner konvensional, salah satunya Lestari. Ia tetap bertahan dengan menjual kue tradisional di pasar Gudang Lelang, Teluk Betung. Saat pandemi Covid-19 ia menyebut jumlah kue yang dijual berkurang sehingga omzet berkurang. Faktor yang mempengaruhi pengurangan volume penjualan imbas sekolah dan sejumlah kantor pemerintahan tidak beroperasi sementara waktu.

“Kue tradisional yang saya buat kerap dipesan oleh sekolah, kantor dan kegiatan hajatan namun saat ini dibatasi,” terang Lestari.

Sariyanti, salah satu pemilik usaha kuliner kerupuk berbahan ikan memilih menerapkan sistem berjualan dengan moko atau mobil toko untuk menjangkau banyak pelanggan di Jalan Juanda, Pahoman, Bandar Lampung, Sabtu (24/10/2020). Foto: Henk Widi

Ia memilih melibatkan anaknya untuk memasarkan olahan kuliner dengan Facebook. Pesanan mulai normal saat ada sejumlah acara arisan dan acara kantor yang membutuhkan kue sebagai hidangan. Berkurangnya jumlah warga yang datang ke pasar tradisional membuat hasil penjualan berkurang. Selain pembelian langsung ia juga melayani pemesanan online dengan sistem pesan antar berbasis aplikasi.

Pedagang lain bernama Rusmini menyebut lebih beruntung, sebab lokasi usaha berjualan kuliner cukup strategis. Berada di jalan Laksamana Malahayati, ia tetap menjual kuliner jenis otak otak, pempek, tekwan dan pepes ikan. Sempat berjualan secara keliling ia mengaku telah memiliki lokasi strategis yang cocok untuk menjual sejumlah makanan tradisional.

“Para pekerja informal seperti buruh angkut, tukang ojek, tukang parkir jadi pelanggan tetap sehingga usaha tetap bertahan,” bebernya.

Usaha kuliner sebutnya ikut terdampak pandemi Covid-19 sebab masyarakat membatasi bepergian di tempat keramaian. Lokasi yang berdekatan dengan pasar gudang Lelang membuat usahanya tetap stabil.

Meski demikian ia memilih melakukan pengurangan jumlah kuliner dibanding sebelum ada pandemi. Omzet ratusan ribu masih bisa diperoleh setiap hari dengan berjualan di tepi jalan.

Lihat juga...