Usaha Ternak Kambing Kacang Lebih Menguntungkan

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Budi daya kambing lokal asli Indonesia atau yang biasa disebut kambing kacang, dinilai masih potensial dikembangkan. Hal itu tak lepas dari keunggulan yang dimiliki kambing dengan ciri leher pendek, telinga kecil dan tegak, dan bertanduk, baik untuk jantan maupun betina, ini. 

Peneliti kambing kacang dari Universitas Gajah Mada (UGM), Dr. drh. Sarmin, MP., mengatakan kambing kacang memiliki tingkat efisiensi produksi yang sangat tinggi, sehingga potensial untuk dijadikan sebagai usaha ternak produktif. Kambing kacang rata-rata bisa beranak hingga 3 kali dalam 2 tahun. Dengan persentase 50 persen lebih melahirkan minimal 2 anakan dalam setiap proses kelahiran.

“Kambing kacang ini bisa berproduksi hingga usia 5-6 tahun. Dalam waktu 2 tahun, rata-rata bisa beranak hingga 3 kali. Jika seorang peternak memiliki 10 ekor indukan saja, maka dalam 2 tahun sudah bisa menghasilkan 60 ekor anakan. Jadi, sangat potensial,” katanya, Jumat (16/10/2020).

Peneliti kambing kacang dari UGM, Dr. drh. Sarmin, MP., Jumat (16/10/2020). –Foto: Jatmika H Kusmargana

Selain memiliki tingkat efisiensi produksi yang sangat tinggi, kambing kacang juga dikenal sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, bisa bertahan hidup di berbagai macam kondisi, sangat mudah dalam perawatan, serta tidak mudah terserang penyakit.

“Kambing kacang ini bisa bertahan hidup di daerah apa pun, termasuk di kawasan pengunungan yang kering serta tandus atau minim air. Karena memang kambing ini sangat mudah beradaptasi. Kambing kacang juga tahan terhadap berbagai macam penyakit, baik itu karena parasit atau bakteri seperti cacingan, belek dan sebagainya,” katanya.

Sementara untuk pemeliharaan, kambing kacang dikatakan tidak membutuhkan tempat yang luas, serta jumlah kebutuhan pakan yang lebih sedikit jika dibandingkan jenis kambing lainnya. Sehingga, kebutuhan biaya produksi atau peliharaan sangat minim.

Untuk pakan, kambing kacang bisa diberikan berbagai jenis hijauan seperti rendeng, dedaunan, atau rumput, karena kambing ini memiliki sifat tidak membeda-bedakan makanan.

“Kekurangan kambing kacang ini hanya postur tubuhnya yang cenderung kecil. Meski begitu, dengan biaya pemeliharaan serta perawatan yang minim, kambing kacang masih cukup menguntungkan untuk dibudidayakan. Harga jualnya juga lumayan, anakan usia 6 bulan sudah bisa dijual dengan harga Rp600-800 ribu untuk betina hingga Rp1,7 juta untuk pejantan,” katanya.

Salah seorang peternak kambing kacang di Bantul, Hasan, mengaku memilih kambing kacang untuk usaha budi daya karena sejumlah alasan. Selain karena perawatannya yang mudah serta tidak banyak rewel, dari sisi harga kambing kacang juga lebih terjangkau .

“Karena harganya terjangkau, maka untuk menjualnya pun juga lebih cepat dibandingkan kambing PE atau kambing lainnya,” ungkapnya.

Lihat juga...