Wapres: Dana Wakaf Pilar Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Wakil Presiden (Wapres), KH. Ma’ruf Amin mengatakan, wakaf merupakan pilar peningkatan kegiatan masyarakat menuju Indonesia maju dan berdaya saing.

Dan contoh nyata kegiatan masyarakat dalam pengembangan wakaf adalah menurutnya dengan dibangunnya Rumah Sakit Mata Achmad Wardi oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI) sinergi dengan Dompet Dhuafa.

“RS Mata Achmad Wardi ini dibangun dari dana wakaf merupakan contoh nyata bahwa penggalangan dana wakaf dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Ma’ruf, pada pembukaan RS Mata Achmad Wardi secara virtual, di Jakarta, Rabu (21/10/2020).

Menurutnya, dalam rangka menggalang dana wakaf yang seluas-luasnya diperlukan  diverifikasi harta wakaf. Dengan tujuan untuk meningkatkan penggalangan dana wakaf dalam pembangunan nasional.

“Saat saya menjadi ketua komisi fatwa MUI tahun 2002., MUI menetapkan fatwa tentang wakaf tunai,” ujarnya.

Wakaf tunai ini dapat dilakukan oleh perorangan, kelompok dan lembaga dengan tidak menghilangkan nilai manfaatnya. “Nilai pokok wakaf harus dijamin kelestariannya,” ujar Ma’ruf.

Di Indonesia selama ini wakaf dipahami hanya sebatas wakaf tanah. Padahal menurutnya, wakaf tidak harus berupa benda tidak bergerak, seperti tanah tapi juga berupa uang dan surat berharga.

Berbeda dengan wakaf tanah, potensi wakaf tunai dapat diperoleh dari donasi masyarakat secara luas. Sedangkan wakaf tanah hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang mampu.

“Wakaf tunai hampir semua orang menjadi watif atau orang yang berwakaf dan memperoleh sertifikat wakaf tunai, serta yang mewakafkan itu tak akan berkurang jumlah manfaatnya,” imbuhnya.

Namun demikian, Ma’ruf mengakui bahwa literasi masyarakat terhadap wakaf masih rendah. Data survei mencatat tingkat literasi dalam wakaf, masyarakat Indonesia dalam kategori rendah dengan index 50,48 persen.  Sedangkan lirerasi zakat sudah masuk dalam katerogori sedang sebesar 66,78 persen.

Padahal kata dia, diterangkan dalam kitab klasik wakaf adalah opahalanya tidak akan putus bahkan hingga yang mewakafkan meninggal dunia.

Dalam salah satu hadist juga ditegaskan, bahwa tidak ada seorang pun sahabat nabi yang mempunyai kemampuan kecuali mereka mewakafkan kepada nabi atau merupakan wakaf daripada sahabat nabi.

Karena itu menurutnya, diperlukan peningkatan literasi untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran berwakaf harus terus dilakukan secara sistematis, massif dan terus berterus.

Dalam rangka peningkatan dana wakaf diperlukan partisipasi masyarakat melakukan penguatan dan penggalangan dana wakaf melalui gerakan nasional wakaf tunai.

Ma’ruf meyakini melalui gerakan ini akan terkumpul dana wakaf untuk mendukung pembangunan nasional serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Dana yang terkumpul melalui dana tunai tersebut adalah dana yang bersifat abadi atau dana abadi umat yang jumlah pokoknya tidak boleh berkurang manfaatnya dan terus berkembang,” tandas KH. Ma’ruf Amin yang juga ketua umum MUI.

Oleh karena itu menurutnya, diperlukan  kreativitas dan inovasi dalam pengelolaan dan pengembangannya.

Meskipun memiliki potensi yang besar, tapi wakaf belum dipahami secara luas sebagai instrumen ekonomi syariah. Pengelolaan aset  wakaf saat ini peruntukan masih terbatas pada tujuan sosial, seperti penyediaan fasilitas pemakaman, masjid, mushola dan madrasah.

Bahkan data sistem informasi wakaf Kementerian Agama (Kemenag) tahun 2019, bahwa pengelolaan wakaf yang sebagian besar diperoleh dari aset tidak bergerak bukan diarahkan untuk kegiatan produktif.

Sehingga kata Ma’ruf dengan pembangunan RS Mata Achmad Wardi  merupakan contoh konkret bahwa diperlukan kreativitas dan inovasi dalam mengelola dana wakaf.

Apalagi menurutnya, kesehatan merupakan faktor penting bagi terwujudnya sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Untuk itu segala upaya untuk meningkatkan kapasitas layanan kesehatan mata sudah selayaknya diapresiasi.

Data Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) merevelensi kebutaan di Indonesia 1,5 persen atau 3 juta orang dari total penduduk Indonesia. Angka ini menurut Ma’ruf lebih tinggi dibandingkan dengan negara Thailand sebesar 0,6 persen, India 0,7 persen dan Blangladesh 1 persen.

“Kebutaan di Indonesia makin banyak terjadi akibat katarak, glaukoma, dan gangguan retina,” ujarnya.

Lihat juga...