Warga Bantaran Sungai Progo Tolak Penambangan Menggunakan Alat Berat

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

YOGYAKARTA — Sejumlah warga dari dua desa di wilayah kabupaten Sleman dan Kulonprogo memprotes keras sekaligus menolak rencana penambahan pasir menggunakan alat berat di kawasan sungai Progo yang melintasi wilayah mereka.

Ngajiono warga Jomboran, Sendangagung, Minggir, Sleman saat memberikan keterangan, Rabu (6/10/2020). Foto: Jatmika H Kusmargana

Selain berpotensi menggusur mata pencaharian penambang pasir manual, ekploitasi besar-besaran oleh perusahaan itu juga dikhawatirkan akan merusak lingkungan serta menggangu dan mengancam aktifitas kehidupan ribuan warga di tiga dusun.

Sejak satu minggu terakhir, warga dari sejumlah dusun seperti Pundak Wetan, Kembang, Nanggulan, Kulonprogo hingga dusun Jomboran, Sendangagung, Minggir, Sleman, sendiri nampak kompak menggelar aksi di wilayah sungai yang hendak ditambang. Mereka nampak menemel dinding tebing sungai dengan spanduk berisi penolakan.

Salah seorang warga, Ngajiono, asal dusun Jomboran, menyebut selama ini banyak warga yang menggantungkan hidupnya dengan bekerja sebagai penambang pasir manual. Secara tegas mereka menolak penggunaan alat berat, karena jelas akan mematikan penambang tradisional yang selama ini berusaha menjaga kelestarian sungai.

“Kawasan ini kebetulan merupakan tempuran (pertemuan) 3 sungai yakni sungai Progo, sungai Tinalah serta sungai Puru. Karena itu memiliki banyak sekali material pasir sepanjang 1 kilometer. Meski begitu warga sendiri selama ini tidak boleh menambang disini. Jika ingin menambang, warga harus menjauh agak ke selatan. Tapi kenapa tiba-tiba ada ijin perusahaan bisa masuk dan hendak menambang disini,” katanya.

Selain akan dijadikan lokasi wisata, kawasan tersebut dikatakan juga memiliki kontur bertebing. Sehingga apabila diekploitasi secara berlebihan dengan alat berat, dapat berpotensi menimbulkan longsor yang mengancam puluhan rumah warga di sepanjang tepi sungai. Belum lagi ancaman menyusutnya air tanah di sumur-sumur warga baik di sisi barat maupun timur sungai.

“Di sisi barat kawasan ini juga terdapat mata air yang selama ini dimanfaatkan untuk Pamsimas. Ada sekitar 300-500 KK di 3 padukuhan yang memanfaatkan airnya untuk keperluan sehari-hari. Jika ada aktivitas penambangan dengan alat berat dijalankan, jelas akan mematikan sumber mata air itu,” imbuh Sutrisno, warga Pundak Wetan.

Baik Ngajiono maupun Sutrisno sendiri menyebut selama ini belum ada satupun warga di kedua desa menerima sosialisasi secara resmi terkait rencana aktivitas penambangan dengan menggunakan alat berat tersebut. Baik itu dari pihak perusahaan penambang, pemerintah desa maupun kepada dusun.

“Kita warga tegas tetap akan menolak rencana penambahan. Walaupun ada kompensasi, berapapun tidak akan kita terima, karena ini menyangkut kehidupan anak cucu kita nanti. Kalau sampai nekat masih akan menambang, warga siap bakar becho (exavator),” ungkap Ngajiono menggebu-gebu.

Sementara itu pihak perusahaan dalam hal ini PT Citra Mataram Kontruksi (CMK) sendiri berdalih rencana penambangan di kawasan sungai Progo tersebut telah sesuai ketentuan atau legal, karena telah mengantongi ijin dari pemerintah terkait. Mereka juga mengaku telah melakukan sosialisasi hingga beberapa kali meski mengakui adanya pro dan kontra di tengah warga itu sendiri.

Kasus penolakan kegiatan penambagan pasir menggunakan alat berat oleh perusahaan semacam ini memang bukan yang pertama kali terjadi di Yogyakarta. Kasus serupa juga pernah terjadi di sejumlah titik seperti kawasan lereng gunung Merapi, hingga kawasan sungai Progo di kabupaten Bantul. Dengan dalih perijinan yang telah lengkap, pada akhirnya pihak perusahaan tetap bisa melakukan aktivitas penambangan. Sementara pemerintah setingkat desa, tidak bisa berbuat banyak karena mengaku tidak memiliki kewenangan mengeluarkan ijin apapun.

Lihat juga...