Warga Kampung Tutubhada di Nagekeo Pegang Teguh Adat

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MBAY — Rumah adat Sa’o Ji Vao yang ditempati kepala suku atau Raja Eko Tana Kampung Adat Tutubhada, Desa Rendu Tutubhada, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur berdinding kayu, beratap ilalang dan bertingkat tiga.

Ada loteng untuk menempatkan barang berharga dan lainnya dimana rumah ini tergolong tua karena semakin tua umur sebuah rumah maka semakin besar bangunannya.

“Rumah kepala suku pasti lebih besar karena sudah dibangun sejak lama,” ungkap Aloysius Lepa, Kepala Suku atau Raja Eko Tana, Kampung Adat Tutubhada, Desa Rendu Tutubhada, Kabupaten Nagekeo, NTT saat ditemui Cendana News di rumahnya, Minggu (25/10/2020).

Alyosius katakan, lazimnya kepala suku dalam struktur masyarakat adat, saya pun memiliki kewenangan membagi tanah garapan dan tanah suku kepada segenap anak suku.

Ia sebutkan, tanah suku banyak dibagi kepada semua anak suku untuk digarap dan saat ritual adat atau pembangunan rumah adat Ji Vao, semua anak suku harus membawa pemberian atau hasil pertanian seperti beras dan hewan untuk disembelih.

“Ada banyak larangan adat dimana semua masyarakat suku dilarang menebang pohon dan membuka lahan tanpa izin dan sepengetahuan kepala suku, Raja Eko Tana,” terangnya.

Aloysius juga menjelaskan, areal mata air merupakan wilayah yang sangat dijaga sebab mata air bagi masyarakat adat dianggap sebagai sumber kehidupan, makanya denda adat berat diberikan bila merusak areal sekitar mata air.

Ia terangkan, sebelum tinju adat, diadakan ritual untuk melihat atau meramal hasil panen tahun depan dimana nasi dibakar di dalam bambu oleh kepala suku atau Raja Eko Tana.

“Seandainya nasinya meluap maka panennya melimpah tetapi kalau tidak meluap maka harus irit karena hasil panen tahun depan tidak banyak, curah hujan pun kurang. Ramalan ini selalu terbukti,” tutur Aloysius.

Aloysius paparkan, masyarakat adat Rendu Tutubhada masih menanam padi ladang dan jewawut untuk dikonsumsi sehari-hari serta memelihara ternak seperti babi, ayam, kambing, sapi dan kerbau.

Kepala Dinas Pariwisata kabupaten Nagekeo, Ndoma Andreas Corsini mengaku, pihaknya mendorong agar kampung adat ini menjadi obyek wisata budaya dan terus dijaga keasliannya.

Menurut Ndoma, pihaknya mengarahkan pembentukan desa wisata, pembentukan Pokdarwis dimana kegiatan ini sedang berjalan hingga pengembangannya tidak keluar dari keaslian kampung adat.

“Wisatawan selalu ingin datang melihat kampung adat sehingga wilayah sekitarnya pun harus dirawat dan dijaga kelestariannya. Kampung adat ini ritualnya pun masih terjaga,” ucapnya.

Lihat juga...