Warga Lereng Merapi Peringati Maulud Nabi dengan Selametan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

YOGYAKARTA — Sejumlah warga lereng gunung Merapi tepatnya di padukuhan Manggong, desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, menggelar acara kenduri Mauludan dalam rangka memperingati hari Maulud Nabi yang jatuh pada Jumat (29/10/2020) hari ini.

Salah seorang sesepuh kampung sekaligus tokoh adat padukuhan Monggang, Kepuharjo Cangkringan Sleman, Sudarmo (66) . Foto: Jatmika H Kusmargana

Kegiatan yang rutin digelar setiap tahun ini, diisi dengan acara selametan oleh seluruh warga terdiri dari para orang tua, kaum dewasa hingga para remaja. Mereka datang ke salah satu rumah tokoh adat dengan membawa aneka makanan mengenakan tambir.

Berbagai makana tradisional disajikan dalam acara kenduri ini. Mulai dari nasi gurih, berserta lauk pauk seperti ingkung ayam, hasil bumi seperti buah-buahan, hingga bermacan jenis jajan pasar seperti ketan, emping dan sebagainya.

Salah seorang sesepuh kampung sekaligus tokoh adat setempat, Sudarmo (66) mengatakan kegiatan kenduri dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW ini biasa digelar setiap bulan Maulud pada penanggalan Jawa.

Selain sebagai bentuk rasa syukur warga masyarakat pada limpahan berkah dari Tuhan YME, acara adat turun-temurun ini juga dilakukan sebagai bagian rangkaian kegiatan rutin bersih desa. Warga biasanya akan berdoa bersama untuk meminta perlindungan dan kelancaran pada Tuhan YME.

“Mauludan ini digelar sebagai bentuk rasa syukur kita pada Tuhan atas limpahan hasil panen selama ini. Lewat acara ini kita juga meminta diberikan kelancaran di musim tanam berikutnya. Agar tidak ada halangan apa-apa, semua sehat, lancar,” katanya.

Digelar di tengah suasana pandemi, warga mengaku menggelar kegiatan adat Rasulan ini secara singkat dan sederhana. Tak lupa mereka juga memogon agar diberikan perlindungan atas segala bahaya baik itu dari pandemi Covid-19, maupun ancaman erupsi gunung Merapi.

Terlebih Gunung Merapi hingga saat ini masih dinyatakan aktif normal dan berada di status II atau Waspada.

“Setelah berkumpul, warga kemudian akan menggelar doa bersama dipimpin sesepuh kampung. Setelah didoakan, makanan berupa ingkung ayak kemudian dibagi-bagikan kepada seluruh warga yang hadir. Untuk kemudian dibawa pulang ke rumah masing-masing,” katanya.

Warga mengaku masih setia menjalankan kegiatan ini sebagai upaya melestarikan adat istiadat para leluhur. Sehingga diharapkan generasi muda tidak lupa bahkan melupakan kegiatan budaya yang syarat dengan kearifan lokal ini.

Lihat juga...