Warga Semarang Manfaatkan Lavender dan Serai Cegah DBD

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Tanaman lavender dan serai, dapat digunakan untuk mengantisipasi peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), karena aroma kedua tanaman tersebut dapat mengusir nyamuk, sehingga mencegah gigitan nyamuk Aedes aegypti yang menularkan DBD.

Hal tersebut diakui Anggur Siti, warga Purwosari, Mijen, Kota Semarang. Selama ini, dirinya selalu menanam bunga lavender di sekeliling rumah. Hasilnya, keluarganya tidak sering digigit nyamuk, baik saat beraktivitas di dalam atau di luar rumah.

“Saat saya tahu kalau tanaman lavender ini bisa untuk mengusir nyamuk, lalu saya beli dan tanam di sekeliling rumah. Ini sudah saya tanam sejak 10 bulan yang lalu,” papar Siti, saat ditemui di rumahnya, kawasan Purwosari, Mijen, Semarang, Jumat (30/10/2020).

Menurutnya, tanaman tersebut tidak hanya dimanfaatkan oleh dirinya, namun juga kerap diminta pengunjung warung atau tetangga kanan kiri.

“Tanaman ini mudah tumbuh, tinggal dipotong, lalu ditanam begitu saja, bisa tumbuh. Banyak tetangga yang minta, alasannya juga buat mengusir nyamuk. Termasuk pembeli di warung saya, juga banyak yang minta,” lanjutnya.

Tanaman lavender memiliki senyawa diethyl meta toluamida, yang mampu mengusir nyamuk untuk mencegah BBD. –Foto: Arixc Ardana

Tidak hanya lavender, tanaman serai pun bisa untuk mengusir nyamuk. Caranya dengan memotong atau dirajang, lalu ditaruh di wadah dan ditempatkan di dalam ruangan.

“Ini jadi cara ampuh dan alami untuk mengusir nyamuk, apalagi mulai musim penghujan seperti sekarang, mulai banyak nyamuk. Kalau tidak diantisipasi, bisa berbahaya, ditakutkan bisa menularkan penyakit DBD,” tandas Siti.

Terpisah, Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, Mada Gautama, tidak menampik jika penggunaan tanaman lavender dan serai dapat mengusir nyamuk.

“Lavender dan serai cukup efektif mengusir nyamuk vektor atau pembawa virus Dengue. Kedua tanaman ini mengandung senyawa diethyl meta toluamida (DEET), yang tidak disukai nyamuk Aedes aegypti. Aroma senyawa DEET tetap tercium nyamuk, meski tanaman tersedia dalam bentuk utuh,” paparnya.

Namun, penggunaan lavender dan serai sebagai pengusir alami nyamuk tetap harus dibarengi dengan penerapan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) oleh masyarakat.

“Upaya menjaga kebersihan lingkungan masing-masing, tetap diperlukan agar jentik nyamuk tidak berkembang. Caranya dengan penerapan PSN, dengan gerakan 3M, yakni menguras, menutup dan mengubur wadah bekas atau tidak terpakai, yang bisa menyebabkan air tergenang sebagai sarang nyamuk,” tambahnya.

Pihaknya juga sudah menyediakan abate, untuk mengendalikan larva nyamuk penyebab DBD, yang bisa didapatkan masyarakat di puskesmas terdekat.

“Tren penyakit DBD ini cenderung meningkat jelang pergantian musim, dari kemarau ke penghujan, untuk itu kita minta agar masyarakat lebih waspada pada gangguan kesehatan. Khususnya, DBD,” lanjutnya.

Gejala DBD akan dimulai sekitar empat sampai sepuluh hari, setelah mendapat gigitan nyamuk aedes aegypti . Gejala awalnya seperti demam tinggi, nyeri otot, mual muntah, muncul bintik merah pada lengan atau tangan setelah demam tinggi.

“Jika mengalami gejala tersebut, kita minta masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya,” tandas Mada.

Sejauh ini, penderita DBD hingga awal Oktober 2020, di Kota Semarang jumlahnya cukup tinggi, mencapai 293 orang.

“Untuk itu, kebersihan lingkungan dan gerakan PSN harus diperhatikan, agar populasi nyamuk tidak meningkat,” pungkasnya.

Lihat juga...