Warga Terdampak Bencana di Ciganjur Butuh Bantuan Pakaian

JAKARTA — Sejumlah warga terdampak longsor dan banjir di Jalan Damai, Kelurahan Ciganjur, Jakarta Selatan, masih bertahan di pengungsian dan sebagian membutuhkan bantuan pakaian.

Tati (50) mengatakan semua bantuan hampir semuanya telah diterima oleh warga terdampak, hanya saja warga kesulitan untuk mengganti pakaian dalam.

“Baju, makanan sudah ada semua, tinggal pakaian dalam yang susah,” kata Tati yang mengungsi di rumah Haji Rohmani, Selasa.

Selain Tati ada sekitar 20 pengungsi yang bertahan di rumah Haji Rohmani. Sebagian besar wanita usia sekitar 20 tahun hingga lansia.

Menurut Tati, ada salah satu donatur mengirimkan celana dalam dan bra, tapi ukurannya kebesaran sehingga tidak bisa dipakai oleh para pengungsi.

“Di sini kebanyakan masih muda-muda, ukurannya mereka S, M dan L. Kalau saya pakainya XL,” ujar Tati.

Tati dan sejumlah pengungsi lainnya belum bisa kembali ke rumahnya karena proses evakuasi material longsor di anak Kali Setu masih berlangsung. Selain itu air juga masih menggenangi permukiman warga setinggi 20 cm atau semata kaki.

Permintaan serupa juga disampaikan oleh Dewi, pengungsi lainnya. Dia juga membutuhkan pembalut wanita serta peralatan kebersihan seperti mencuci pakaian dan rumah.

Menurut Dewi, banjir merendam rumah mereka hingga 1,5 meter pada Sabtu (10/10) lalu membuat seluruh peralatan rumah tangga rusak, termasuk pakaian dan lainnya.

“Kita sih baju ada, terima banyak berdus-dus, yang susah itu celana dalam, bra, kaos dalam juga. Jarang ada yang memberikan bantuan itu, kalaupun ada ukurannya besar-besar,” ujarnya.

Beberapa warga masih bertahan di pengungsian seperti di pendopo, sekolah alam, mushala dan rumah warga, terutama yang berada di dekat kali.

Hingga hari ini, pihak Kelurahan Ciganjur memperpanjang masa tanggap darurat selama tiga hari kedepan karena proses evakuasi material longsor yang menutup anak Kali Setu belum selesai dievakuasi.

Proses evakuasi membutuhkan alat berat untuk mengangkat material tembok dan puing-puing rumah yang hancur.

Untuk membuka jalan agar alat berat bisa masuk, sejumlah rumah warga yang berada di pinggir kali dihancurkan untuk jalan alat berat dan mempermudah membangun talud untuk jalan air.

Staf Suku Dinas Sumber Daya Air Kecamatan Jagakarsa, Zen Bachtiar menyebutkan, pihaknya telah berhasil membuka aliran Kali Setu untuk mengurangi debit yang masuk ke rumah warga.

“Kita buat sodetan, kita buka sedikit-sedikit aliran, ini juga dapat mengurangi aliran kali yang masuk ke pemukiman,” katanya. [Ant]

Lihat juga...