Waspadai Dampak Negatif dari Elektronik yang Kita Miliki

JAKARTA — Berkembangnya teknologi elektronik secara pesat diakui memang membantu kehidupan manusia. Tapi tanpa disadari, ada masalah yang timbul, yaitu sampah elektronik. Yang jika ditangani dengan tidak tepat akan menimbulkan masalah yang lebih besar lagi, yang salah satunya adalah kesehatan.

Pegiat ewasterj Rafa Jafar menjelaskan tentang bahaya sampah elektronik tanpa penanganan yang tepat saat talkshow online tentang sampah, Sabtu (31/10/2020) – Foto Ranny Supusepa

Pegiat ewasterj Rafa Jafar, yang saat ini duduk di kelas 2 SMA Taruna Nusantara menyebutkan, ketidakpedulian masyarakat menyebabkan sampah elektronik meningkat pesat saat ini.

“Kita berkembang dengan perangkat teknologi. Pertanyaannya, saat peralatan itu rusak dan tidak bisa diperbaiki maka kemana barang-barang pergi? Mereka akan menjadi sampah. Terus bertambah banyak seiring dengan perkembangan teknologi,” kata Rafa saat talkshow online tentang sampah, Sabtu (31/10/2020).

Ia juga menyebutkan, bukan hanya perkembangan teknologi yang menjadikan sampah elektronik ini meningkat cukup pesat.

“Tapi juga gaya hidup masyarakat. Yang biasanya jika ada alat teknologi baru, terutama hape biasanya, memiliki kecenderungan untuk membeli. Walaupun sebenarnya belum membutuhkan,” ujarnya.

Bukan hanya hape-nya, lanjut Rafa. Tapi juga aksesoris yang mengikuti. Atau peralatan elektronik lainnya, seperti TV, laptop atau mesin cuci.

“Pokoknya semua yang tersambung dengan listrik, maka itu akan menjadi sampah elektronik jika sudah rusak atau sudah tidak terpakai lagi. Sumbangsih sampah ini tentunya juga bukan hanya dari perorangan atau rumah tangga tapi juga dari rumah sakit yang notabene peralatannya juga menggunakan elektronik dan dunia usaha,” ungkapnya.

Lalu siapa yang harusnya bertanggung jawab pada sampah elektronik ini? Apakah pengguna, produsen atau pemerintah sebagai pemegang tampuk regulasi. Perlu ditekankan bahwa sampah elektronik ini termasuk sampah B3 yang mampu mempengaruhi lingkungan.

“Jika salah ditangani, misalnya membakar motherboard hape untuk mengambil emas yang terkandung didalamnya, walaupun hanya 0,026 gram per hape. Sehingga dibutuhkan sangat banyak motherboard hape untuk mendapatkan hasil emas yang berarti. Sementara saat pembakaran akan menghasilkan zat berbahaya yang mengancam kesehatan,” kata Rafa.

Misalnya dalam satu buah hape, pada casingnya mengandung paduan Magnesium dan Carbon, layarnya mengandung campuran Alumunium Oksida, Silikon Dioksida danTimah Dioksida serta baterainya mengandung Lithium Cobalt Oxide dan Carbon yang berbentuk grafit.

“Semua senyawa ini dapat mencemari lingkungan dan berdampak buruk bagi kesehatan manusia. Apalagi kalau dibakar,” ucapnya.

Ia mengakui, efek negatifnya memang tidak akan langsung dirasakan. Tapi bersifat bioakumulatif yang baru terlihat efek negatifnya pada orang antara 5-10 tahun.

“Karena itu dibutuhkan tempat pengelolaan sampah elektronik untuk mengelola 53,6 juta metrik ton dalam satu tahun, yang hanya 17,4 persen yang baru dikelola secara tepat. Yang sedikit itu pun, dilakukan oleh negara-negara besar yang memiliki teknologi mumpuni dalam mengelola sampah elektronik,” kata Rafa.

Di Indonesia sendiri, sampah elektronik ini belum ditangani secara benar. Masyarakat pun belum sepenuhnya memahami bahwa gaya hidup mereka mampu menambah jumlah sampah elektronik ini.

“Butuh edukasi dari pemerintah dan juga para ahli yang memahami masalah ini. Sehingga penanganan sampah elektronik tidak menimbulkan dampak nengatif , baik kepada lingkungan maupun orangnya,” tandasnya.

Tiza Mafira, SH, LL.M sebagai penggerak komunitas Indonesia Diet Kantong Plastik menjelaskan untuk membuang sampah elektronik ini, sebaiknya setiap rumah tangga maupun instansi menyediakan tempat khusus.

“Jadi terpisah dari sampah lainnya. Kalau saya, menggunakan ember plastik saja. Tidak usah besar. Karena sampah elektronik itukan tidak seperti sampah harian rumah tangga yang pasti ada setiap hari,” kata Tiza dalam kesempatan yang sama.

Ia menyatakan ember penampungan sampah elektronik itu tidak perlu dilapisi dengan plastik, karena plastik juga berpotensi mencemari lingkungan.

“Cukup di ember saja, nanti jika sudah penuh tinggal bawa embernya ke Bank Sampah dan setelah dikelola Bank Sampah, embernya bisa dibawa pulang kembali. Atau kalau memang dimasukkan ke kantong plastik yang besar, jangan lupa kantong plastiknya dibawa pulang lagi. Sehingga tidak mencemari lingkungan,” pungkasnya.

Lihat juga...