Akibat Pandemi Pengangguran di Indonesia Capai 9,77 Juta

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Selain terjerumus di jurang resesi akibat pertumbuhan ekonomi nasional yang kembali negatif pada kuartal III Tahun 2020 sebesar -3,49, Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat, angka pengangguran secara nasional melonjak signifikan menjadi 9,77 juta orang.

“Jadi sampai Agustus 2020, angka pengangguran naik 2,67 juta orang dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Penambahan pengangguran ini juga turut dipengaruhi pandemi Covid-19,” ujar Kepala BPS, Suhariyanto melalui konferensi pers virtual, Kamis (5/11/2020).

BPS juga mencatat, pengangguran terbesar terjadi di perkotaan, dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mencapai 8,98 persen. Sementara di pedesaan, persentase TPT-nya sebesar 4,71 persen. Dengan catatan ini, Suhariyanto menilai dampak pandemi terhadap lapangan kerja lebih terasa di perkotaan ketimbang pedesaan.

“Berdasarkan wilayahnya, TPT tertinggi ada di DKI Jakarta sebesar 10,95 persen, sedangkan yang terendah ada di Sulawesi Barat yakni 3,32 persen,” terang Suhariyanto.

Pada Agustus 2020, jumlah angkatan kerja juga mengalami kenaikan sebesar 2,36 juta orang menjadi 138,22 juta orang. Meski demikian, jumlah orang yang bekerja justru turun 310.000 orang menjadi 128,45 juta orang, sedangkan 9,77 juta orang lainnya menjadi pengangguran.

“Secara keseluruhan, jumlah penduduk usia kerja yang terdampak pandemi pada Agustus 2020 sebanyak 29,12 juta orang,” tandas Suhariyanto.

Di tempat yang berbeda, Menteri Keuangan, Sri Mulyani menilai, bahwa saat ini ekonomi Indonesia sudah menunjukkan perbaikan meski kini masuk ke zona resesi.

Menkeu mengatakan semua indikator telah menunjukkan perbaikan pada kuartal III/2020 dan optimistis ekonomi Indonesia kembali ke zona positif. Namun demikian, dia tidak merinci kapan ekonomi nasional bisa berbalik menjadi positif.

“Semua indikator menunjukkan proses pemulihan ekonomi dan pembalikan arah atau turning point dari aktivitas-aktivitas ekonomi nasional menunjukkan ke arah zona positif,” katanya melalui konferensi pers virtual merespon hasil rilis BPS.

Menkeu menyatakan, perbaikan ekonomi terjadi baik dari aspek pengeluaran maupun produksi. Menurutnya, perbaikan ekonomi tersebut berkat peran stimulus fiskal dari pemerintah melalui program pemulihan ekonomi nasional.

Menkeu berharap tren perbaikan berlanjut pada kuartal IV/2020. Pemerintah akan terus mendorong stimulus fiskal untuk mempercepat pemulihan ekonomi, mulai dari insentif perpajakan, menggenjot belanja pusat dan daerah, hingga mendukung pembiayaan pemda dan dunia usaha.

“Kuartal IV kami akan dorong agar pelaksanaan belanja daerah dan pelaksanaan program pemulihan ekonomi nasional  terus diakselerasi untuk meningkatkan momentum pembalikan ekonomi,” pungkas Menkeu.

Lihat juga...