Antisipasi Kesalahan Pemulasaran Jenazah, MUI Banyumas Latih Tenaga Medis

Editor: Mahadeva

PURWOKERTO – Banyaknya pemberitaan tentang kesalahan dalam pemulasaran jenazah COVID-19, yang dilakukan pihak rumah sakit, menggerakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banyumas mengedukasi proses pemulasaran jenazah kepada tenaga medis, Sabtu (28/11/2020).

Ketua MUI Banyumas, Taefur Arofat mengatakan, merawat jenazah sesuai syariat Islam, sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim. Sehingga, pihaknya merasa perlu untuk mengedukasi para tenaga medis, supaya tidak terjadi kesalahan, saat melakukan perawatan jenazah pasien COVID-19.

Banyak pemberitaan ataupun tayangan di media sosial, tentang adanya kesalahan penanganan jenazah COVID-19. Ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi kami. Dan sebisa mungkin jangan sampai hal tersebut terjadi di Banyumas. Karena itu, kita berikan pelatihan penanganan jenazah untuk para tenaga medis, agar mereka siap jika dihadapkan pada kondisi tersebut,” tuturnya, Sabtu (28/11/2020).

Ketua MUI Banyumas, Taefur Arofat, saat ditemui di Masjid Agung Baitussalam Purwokerto, Sabtu (28/11/2020) – FOTO : Hermiana E.Effendi

Pelatihan yang diberikan mulai dari memandikan jenazah, mengkafani, mensalati, sampai dengan tata cara pemakaman, yang sesuai dengan ajaran Islam. Pelatihan pemulasaran jenazah tersebut diberikan, supaya pasien COVID-19 yang meninggal dunia, dan tidak dapat didampingi oleh pihak keluarga, tetap mendapatkan penanganan secara benar dan sesuai dengan ajaran agama.

Taefur Arofat menyebut, selama ini penanganan pemulasaran jenazah pasien COVID-19 sudah dilakukan secara benar oleh pihak rumah sakit di wilayah Kabupaten Banyumas. Hal itu terbukti tidak ada protes dari pihak keluarga. Termasuk yang sampai memunculkan kasus tuntutan dan sejenisnya.

Namun, MUI merasa perlu untuk lebih meyakinkan masyarakat, bahwa kepengurusan jenazah di rumah sakit sudah dilakukan sesuai dengan tuntunan. Dalam pelatihan, yang berlangsung di Masjid Agung Baitussalam Purwokerto, para tenaga medis diminta untuk mempraktekan proses perawatan jenazah. Jika masih ada yang belum benar, langsung dibenarkan oleh pengurus MUI. “Intinya kita menyamakan persepsi tentang penanganan jenazah, supaya semua pihak merasa sama-sama nyaman dan tidak khawatir,” jelasnya,

Taefur menyebut, meskipun hukumnya fardu kifayah, namun jika tidak dilakukan dengan sempurna, akan memberi dampak kepada seluruh umat muslim. “Fardu kifayah adalah sesuatu yang wajib dilakukan, namun apabila ada sebagian orang melakukan maka menggugurkan kewajiban muslim yang lain, tetapi jika sama sekali tidak ada maka semua mendapat dosa,” terangnya.

Pengurus MUI Banyumas, KH Irchami mengatakan, yang menjadi fokus dalam pelatihan adalah, proses memandikan, mengkafani kemudian mensalatkan jenazah. Meski ada beberapa cara dan adat yang dilakukan masyarakat, tetapi hal-hal wajib harus tetap dilakukan.

Apabila memungkinan, saat memandikan jenazah mengarah ke utara selatan, tangan disedekapkan seperti saat salat, tangan kanan diatas, ini tidak ada ketentuan wajib sebenarnya, namun bisa tetap dilakukan karena sudah menjadi adat kebiasaan,” pungkasnya.

Lihat juga...