Antisipasi Krisis Pangan, Diversifikasi Pangan Perlu Dioptimalkan

SIGI – Kementerian Pertanian melalui Dinas Ketahanan Pangan, Provinsi Sulawesi Tengah, gencar melaksanakan sosialisasi dan kampanye program diversifikasi pangan lokal beragam, bergizi, seimbang dan aman (B2SA) di Kabupaten Sigi.

“Kabupaten Sigi, salah satu daerah di Sulteng yang selama ini sangat peduli mendukung program-program dari Kementerian Pertanian,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulteng, Abdullah Kawulusan, di sela-sela kegiatan Gerakan Diversifikasi Pangan Lokal B2SA yang berlangsung di Desa Maku, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Jumat.

Ia menjelaskan, program ini diluncurkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin LImpo pada sekitar Agustus 2020 secara nasional lewat live streaming.

Pemerintah pusat kembali menggencarkan program dimaksud sebagai salah satu upaya untuk mengantisipasi krisis pangan global dan ketergantungan masyarakat selama ini terhadap pangan beras.

Padahal, pangan lokal sebagai kearifan lokal juga memiliki karbohidrat dan sangat aman bagi kesehatan masyarakat dibandingkan beras yang dapat menimbulkan penyakit, terutama diabetes.

Lagi pula, kata dia, pangan lokal nonberas telah terbukti menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia selama masa pandemi COVID-19.

Karena itu, Kementan RI terus mendorong program dimaksud dan diharapkan semua daerah di Tanah Air mendukung dan mengkampanyekan agar masyarakat mengkonsumsi makanan pangan lokal nonberas.

Sementara Sekretaris Daerah Kabupaten Sigi, Muh Basir, menyambut dan berjanji akan menindak lanjuti program Kementan di daerahnya.

Bahkan, kata dia, dalam beberapa kali pertemuan dengan DPRD Kabupaten Sigi, legislatif mendorong agar Pemkab Sigi konsen terhadap sektor pertanian, mengingat sektor tersebut merupakan andalan dan unggulan selama ini.

DPRD Kabupaten Sigi, bahkan meminta agar Pemkab Sigi mengalokasikan anggaran yang memadai untuk pengembangan sektor pertanian di daerah yang berbatasan langsung dengan Palu, Ibu Kota Provinsi Sulteng.

Terkait dengan program diversifikasi pangan lokal B2SA, Basir mengatakan perlu disosialisasikan sampai ke desa-desa agar masyarakat kembali lagi kepada kearifan lokal.

Kearifan lokal dimaksud adalah mengembangkan dan mengkonsumsi pangan lokal B2SA dari bahan baku ubi kayu, ubi jalar talas, jagung, sagu, pisang dan lainnya yang selama ini tidak menggunakan pupuk dan obat-obatan seperti halnya beras.

“Ini program yang sangat baik dan tepat dalam rangka mengurangi ketergantungan kita pada pangan beras,” ujarnya.

Kampanye program B2SA harus dimulai dari pemerintah kabupaten, kecamatan dan desa. “Dan yang paling penting adalah bagaimana supaya makanan dari pangan lokal menjadi menu utama dalam acara/kegiatan dilakukan perangkat OPD,” kata dia.

Bagaimana masyarakat mau melaksanakan program dimaksud, jika belum dilaksanakan atau dimulai dari kita ini (pemerintah).

Kegiatan ini dihadiri Ketua DPRD dan Kapolres Sigi, Danramil Donggala, Camat Dolo, Kadis Ketahanan Pangan Sigi, Kadis Peternakan, Kepala Desa Maku, sejumlah UMKM pangan lokal Sigi dan kelompok wanita tani Desa Maku. (Ant)

Lihat juga...