Atasi Abrasi di Maumere, Pemerintah Bangun Pemecah Gelombang

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Pemerintah Kabupaten Sikka, Provinsi NTT melakukan pembangunan pemecah gelombang sepanjang 5 kilometer di sepanjang pantai wilayah Kecamatan Kangae untuk mencegah terjadinya abrasi dan banjir rob yang setiap tahun mengancam rumah warga.

Tanggul pemecah gelombang menggunakan dana hibah pemerintah pusat sebesar Rp11 miliar ini sedang dalam taraf pengerjaan dan diharapkan tidak merusak pemandangan sepanjang pantai.

“Kalau dilihat memang selain pemecah gelombang juga bisa berfungsi sebagai kolam labuh bagi perahu nelayan,” kata Wenefrida Efodia Susilowati, pemilik homestay di Pantai Lokaria, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, NTT saat ditemui Cendana News di rumahnya, Rabu (4/11/2020).

Pemilik homestay di pesisir Pantai Lokaria, Desa Habi, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, NTT, Wenefrida Efodia Susilowati, saat ditemui di rumahnya, Rabu (4/11/2020). Foto: Ebed de Rosary

Susi sapaannya mengatakan, sejak tahun 2018 dirinya harus mengeluarkan uang sendiri karena abrasi kian mengancam rumahnya yang berada persis di bibir pantai. Dalam setahun sekitar 30 sentimeter daratan tergerus abrasi.

Ia pun bersyukur, adanya pembangunan tanggul pemecah gelombang. Namun tentunya pembangunan tersebut tidak membuat masyarakat kehilangan akses atas wilayah pesisir pantai.

“Kami bersyukur dengan adanya pembangunan tanggul pemecah gelombang ini. Namun tentunya tidak merusak lingkungan dan menghilangkan keindahan wilayah pantai wisata Teluk Maumere,” ungkapnya.

Susi menyebutkan, pembangunan tanggul juga seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai kolam labuh dan jadi arena wisata air di kolam labuh tersebut. Karena ada jarak antara tanggul pemecah gelombang dan bibir pantai.

Dikatakannya, dengan adanya jarak sekitar belasan meter tersebut membuat air laut bisa masuk, dapat dipergunakan selain sebagai tempat berlabuh perahu, juga bisa dimanfaatkan untuk wisata, seperti menggunakan sampan sepanjang jalur yang ada.

“Kolam antara bibir pantai dan tanggul yang terdapat air laut bisa juga dimanfaatkan untuk wisata seperti menggunakan sampan atau tempat berenang bagi pengunjung,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Sikka, Romanus Woga, dalam sosialisasi saat awal pembangunan tanggul pemecah gelombang mengakui, meskipun dalam masa pandemi Corona pembangunan tanggul bisa diselesaikan.

Romanus menyebutkan, pembangunan tanggul merupakan solusi agar wilayah pesisir pantai yang selama ini selalu tergerus abrasi bisa teratasi, karena saat musim badai wilayah pesisir selalu tergerus.

“Tanggul pemecah gelombang bisa dimanfaatkan juga sebagai pengembangan ekonomi di sektor pariwisata dan perikanan. Areal ini bisa dijadikan sebagai kolam labuh bagi perahu nelayan,” ungkapnya.

Camat Kangae, Akulinus, saat sosialisasi menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat dan kabupaten karena telah membangun tanggul pemecah gelombang.

“Pembangunan tanggul ini bisa mengatasi permasalahan abrasi dan banjir rob yang selama ini dialami warga di sepanjang pesisir pantai di wilayah Kangae,” tegasnya.

Lihat juga...