Australia Harap Relasi dengan Cina Membaik Melalui RCEP

Dokumentasi-- Menteri Perdagangan Australia, Simon Birmingham (kiri) bersama (mantan) Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita (kanan) di sela-sela Pertemuan Tingkat Menteri G20 mengenai Perdagangan dan Ekonomi Digital di Tsukuba, Jepang, Sabtu (8/6/2019).-Ant

MELBOURNE – Australia berharap Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP) yang akan ditandatangani pada Minggu oleh 15 negara di Asia-Pasifik, mampu meningkatkan relasi negaranya dengan Cina.

Setelah ditandatangani nantinya, RCEP mungkin akan menjadi perjanjian dagang terbesar di dunia, karena melibatkan 10 negara di Asia Tenggara anggota ASEAN, dan lima mitra besar eksternalnya, yakni Australia, Cina, Jepang, Selandia Baru, dan Korea Selatan.

Negara-negara di kawasan Asia-Pasifik tersebut telah mencakup hampir satu per tiga populasi global, juga sekitar 30 persen produk domestik bruto (PDB) dunia.

Dengan begitu, kesepakatan ini akan menurunkan tarif secara progresif serta bertujuan untuk melawan proteksionisme, menaikkan investasi, dan melancarkan mobilitas barang di kawasan.

Di satu sisi, hubungan bilateral Australia dengan Cina–mitra dagang terbesarnya–mengalami ketegangan setelah Canberra meminta penyelidikan internasional mengenai asal mula virus Corona yang mulai akhir tahun lalu diketahui menginfeksi di Wuhan, Cina, dan kini menjadi pandemi Covid-19.

Perselisihan dagang antara kedua negara amat memukul industri Australia dan mengancam ekspor negara itu ke Cina, antara lain untuk produk agrikultur, kayu olahan, dan sumber daya yang bernilai miliaran dolar AS.

Menteri Perdagangan Australia, Simon Birmingham, menyebut bahwa pakta ASEAN menawarkan sebuah platform yang dapat mengarah pada perubahan positif bagi relasi Australia-Cina.

“Bolanya sedikit banyak berada di tangan Cina untuk proses negosiasi ini,” kata Birmingham, kepada surat kabar The Age, menjelang penandatanganan RCEP.

“Menjadi krusial, bahwa mitra seperti Cina, ketika mereka ikut dalam perjanjian seperti ini, tak hanya memberikan rincian kesepakatan, namun juga bersikap dengan semangat yang sama,” kata Birmingham menambahkan.

Sementara itu, ketika pihak Cina ditanya pada awal bulan ini soal menjatuhkan pembatasan terhadap sejumlah produk impor dari Australia, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Wang Wenbin menyebut langkah Cina itu “absah, masuk akal, dan bukan bentuk kritik.” (Ant)

Lihat juga...