Bagi Petani Kecil, Budi Daya Sayuran Organik Belum Menguntungkan

Editor: Koko Trirako

SEMARANG – Keterbatasan lahan di wilayah perkotaan tidak menjadi kendala untuk memulai pertanian sayuran organik. Hal tersebut ditunjukkan Yohanes Jehamu, warga kampung Berlian RT3/RW 5 Mangunharjo, Tembalang, Semarang, yang mampu menyulap lahan beton menjadi pertanian organik dengan polybag.

Beragam sayur mayur mulai dari cabai, terung, tomat, hingga sawi, mampu tumbuh subur di media tanam polybag yang digunakannya. Hasil panennya pun cukup banyak, setiap hari setidaknya dirinya bisa memanen hingga 10 kilogram terung ungu dan 2-3 kilogram cabai.

“Biar pun ditanam di polybag, hasilnya tetap bagus. Ini karena saya menggunakan pupuk kandang yang sudah difermentasi sebagai campuran tanah untuk media tanam. Caranya pun mudah, pupuk kandang berupa kotoran kambing dan ayam diberi cairan EMP4,” paparnya, saat ditemui di rumahnya sekaligus tempatnya membudidayakan sayuran organik, Senin (23/11/2020).

Yohanes Jehamu, warga kampung Berlian RT3/RW 5 Mangunharjo, Tembalang, Semarang, saat ditemui di rumahnya, Senin (23/11/2020). -Foto: Arixc Ardana

Dipaparkan, EMP4 berfungsi merombak unsur hara anorganik menjadi organik dengan bantuan mikroba, sehingga tanah gembur dan kaya akan nutrisi bagi tanaman. Sekaligus mempercepat pertumbuhan tunas, daun, batang dan akar pada tanaman.

“Pupuk kandang saya taruh dalam wadah, diberi EMP4 dan ditutup rapat. Setelah seminggu, dibuka dan digunakan sebagai media tanam sekaligus pupuk. Hasilnya, sayuran bisa tumbuh subur,” terangnya.

Di satu sisi, meski hasil berlimpah, hasil produksi dari pertanian organik yang digelutinya belum menunjukkan hasil yang signifikan dari segi ekonomi.

“Hasil pertanian organik ini saya jual kepada masyarakat dan pedagang yang datang ke rumah. Namun, tetap dihargai sebagai sayuran biasa, bukan sayuran organik, sehingga harga jual sama,” terangnya.

Dirinya mencontohkan, untuk satu kilogram terung ungu dihargai Rp5 ribu, sementara cabai Rp20 ribu per kilogram. Demikian juga dengan tomat dan sawi, harganya tidak jauh beda dengan harga sayuran umumnya.

“Masyarakat dan pedagang tidak mau tahu, mereka tetap tahunya ini sayuran. Entah itu organik atau tidak. Mungkin akan berubah jika dijual ke supermarket, namun untuk petani kecil seperti saya, dengan skala hasil panen yang masih sedikit, tentu susah menembus pasar supermarket,” tandasnya.

Persoalan yang sama juga disampaikan Indira, petani organik di kelurahan Tembalang, Semarang. Berawal dari sekadar iseng menanam sayur mayur, menggunakan polybag hingga wadah bekas, panen yang didapatnya kini sudah mulai dijual ke tetangga.

“Harganya, harga tetangga. Menyesuaikan dengan harga sayur pada umumnya, meski budidayanya dengan pertanian organik, bebas bahan kimia. Pengetahuan tentang sayuran organik bagi konsumen, terutama warga masih kurang. Jadi, pertanian organik masih belum terlalu dihargai,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur, memaparkan terkait persoalan pertanian organik tersebut, pihaknya menyarankan agar para petani ini bisa bergabung dalam kelompok tani.

“Terlebih kita sudah memiliki Konsultanik atau Komunitas Penyuluh Tani Organik Kota Semarang, yang akan membantu permasalahan yang dihadapi para petani, khususnya pertanian organik,” pungkasnya.

Lihat juga...