Balai Kemensos Lobar Tangani Korban KTD dengan Tiga Terapi

JAKARTA – Balai Anak Paramita milik Kementerian Sosial di Lombok Barat (Lobar), memadukan tiga terapi dalam program Asistensi Rehabilitasi Sosial (Atensi), khususnya bagi Anak Korban Kehamilan Tidak Dikehendaki (KTD).

“Terapi yang diberikan adalah terapi relaksasi, hypnobirthing, dan senam kehamilan,” kata Kepala Balai Paramita I Ketut Supena dalam rilis yang diterima di Jakarta, Sabtu (7/11/2020).

“Anak KTD memiliki kondisi psikologis yang kurang stabil, mengalami cemas, stres, dan cenderung menyakiti diri sendiri, ” katanya.

Karena itu, pegawai Balai Anak Paramita, terutama fungsional pekerja sosial, psikolog, dan perawat tak henti-hentinya memberikan terapi yang dapat mengembalikan keberfungsian sosial Anak KTD.

Ketiga terapi tersebut membawa unsur alamiah atau natural, sehingga banyak memanfaatkan ruang-ruang hijau Balai Anak Paramita dan membuat anak menyatu dengan alam.

Terapi relaksasi dilakukan oleh psikolog dengan media aromaterapi, dan dibantu dengan media audio berupa lantunan lagu yang memberikan efek rileks bagi anak, sehingga meredam perasaan yang kurang nyaman atas kejadian yang menimpanya.

Senam kehamilan merupakan salah satu terapi yang diberikan oleh perawat Balai Anak Paramita kepada Anak KTD, guna mempersiapkan diri untuk mempermudah mereka saat menjalani proses persalinan. Senam kehamilan dilakukan rutin setiap hari, didahului jalan kaki oleh masing-masing anak untuk melemaskan otot kaki dan pinggul.

Hypnobirthing adalah metode yang menggunakan hipnotis diri sendiri, dan teknik relaksasi untuk membantu calon ibu merasa siap serta mengurangi persepsi akan ketakutan, kecemasan atau tegang, dan rasa sakit saat melahirkan, instruktur dari terapi hypnobirthing ini adalah psikolog.

“Kami juga memiliki satu terapi unggulan untuk anak-anak KTD, yakni Yoga Sukhasana, yakni salah satu teknik dalam yoga. Manfaat Yoga Sukhasana salah satunya adalah untuk mengurangi rasa cemas, gelisah, emosional dan depresi,” kata I Ketut Supena.

Program Atensi diberikan kepada Anak KTD, karena mereka merupakan salah satu sasaran garapan dari 15 klaster anak yang memerlukan perlindungan khusus sesuai Pasal 59 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. (Ant)

Lihat juga...