Bangkit, Kampung Budaya Polowijen Gelar Panawijen Njaman Mbiyen

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MALANG — Kampung tematik di kota Malang kembali bergeliat setelah kurang lebih tujuh bulan terpaksa vakum dari berbagai kegiatan wisata akibat pandemi covid-19.

Ketua Pokdarwis kota Malang, sekaligus penggagas Kampung Budaya Polowijen, Isa Wahyudi (Ki Demang) saat ditemui di kampung Budaya Polowijen, Minggu (1/11/2020). Foto: Agus Nurchaliq

Kampung budaya Polowijen menjadi salah satu kampung tematik di kota yang mulai hari ini kembali membuka agenda wisatanya melalui gelaran Panawijen Njaman Mbiyen.

Berbagai pertunjukkan seni ditampilkan untuk menandai kembali dibukanya kampung budaya yang berlokasi di kelurahan Polowijen, kecamatan Blimbing, kota Malang tersebut.

“Ada pentas tari topeng dan tari tradisional, sinau ageman jaman mbiyen, musik dolanan jaman mbiyen dan dongeng panawijen,” jelas Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) kota Malang, sekaligus penggagas Kampung Budaya Polowijen, Isa Wahyudi (Ki Demang) kepada wartawan saat ditemui di kampung Budaya Polowijen, Minggu (1/11/2020).

Berbagai kesenian yang ditampilkan tersebut menurut Ki Demang beberapa di antaranya dibawakan oleh anak-anak Polowijen yang sudah sangat merindukan aktivitas untuk berkesenian. Sebab sejak bulan Maret berbagai kegiatan wisata dan kesenian di berbagai kampung tematik di kota Malang sangat dibatasi bahkan ditiadakan akibat pandemi covid-19.

Tapi sekarang di era new normal kampung Budaya Polowijen mulai bangkit sudah kembali melakukan aktivitas kesenian dan menerima kunjungan wisata meskipun masih dalam jumlah yang terbatas.

“Jadi mereka yang datang kesini sekarang merupakan undangan khusus. Sedangkan masyarakat umum sementara ini masih belum bisa, sehingga kami sarankan untuk mengikuti kegiatan ini melalui live steaming di Youtube maupun Instagram kampung Budaya Polowijen,” jelasnya.

Hal ini perlu dilakukan mengingat pandemi covid-19 belum selesai sehingga semua kegiatan yang ada di kampung Budaya Polowijen divirtualkan agar bisa ditonton dan dinikmati masyarakat luas.

“Saya juga sudah sampaikan kepada kampung-kampung tematik lainnya agar memvirtualkan kegiatan mereka,” tandasnya.

Lebih lanjut disampaikan Ki Demang, gelaran acara Panawijen Njaman Mbiyen tersebut juga merupakan acara untuk memperingatan hari jadi Polowijen ke 1076 berdasarkan perhitungan yang dibuat arkeolog M Dwicahyono yang sebenarnya jatuh pada tanggal 7 November.

“Dasarnya adalah parasasti karundungan Kanjuruhan B, dimana di dalam prasasti tersebut menyebutkan bahwa Panawijen adalah daerah Sima yang ditetapkan sebagai salah satu daerah Otono yang digunakan untuk pusat kegiatan pendidikan dan keagamaan,” sebutnya.

Sementara itu, ketua komisi A DPRD kota Malang Eddy Widjanarko, yang turut hadir dalam acara tersebut mengaku sangat mengapresiasi acara Panawijen Njaman Mbiyen.
Karena menurutnya, kegiatan tersebut bisa menyegarkan kembali ingatan generasi muda terhadap budayanya sendiri. Sebab sekarang banyak anak muda yang sudah tidak mengingat bahkan tidak mengenal budayanya sendiri, termasuk permainan-permainan tradisional.

“Jadi saya harap acara ini bisa mengingatkan sekaligus mengenalkan kepada generasi muda khususnya, bahwa bangsa ini kaya akan seni dan budaya,” ucapnya. Tapi saya ingatkan juga agar tetap menerapkan protokol kesehatan dalam berbagai kegiatan karena covid-19 belum selesai, pungkasnya.

Lihat juga...