Banjir Rendam 500 Hektare Lahan Pertanian di Banyumas

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BANYUMAS – Banjir yang terjadi di wilayah Banyumas bagian timur menyebabkan lahan pertanian seluas 500 hektare terendam sampai dengan hari ini. Beruntung petani baru panen, sehingga lahan tersebut belum ditanami padi.

Kepala Dinas Pertanian (Dinpertan) Kabupaten Banyumas, Widarso, mengatakan, saat banjir, petani di wilayah Kemranjen, Tambak dan Sumpiuh baru mulai mengolah lahan. Sehingga kerugian akibat lahan terendam banjir tidak terlalu dirasakan. Hanya saja, petani terpaksa menunda untuk mulai menanam padi.

Kepala Dinas Pertanian (Dinpertan) Kabupaten Banyumas, Widarso dijumpai di kantornya, Senin (9/11/2020). Foto: Hermiana E. Effendi

“Lahan pertanian yang terendam banjir belum ditanami, sehingga petani tidak terlalu terdampak. Hanya masa tanam saja yang mundur, seharusnya mereka sudah mulai menanam seminggu lalu, namun karena area sawah masih terendam, kegiatan tanam ditunda menunggu air surut,” kata Widarso, Senin (9/11/2020).

Namun, lanjutnya, jika dibandingkan dengan musim tanam tahun lalu, sebenarnya saat ini terbilang belum terlalu terlambat. Sebab, pada tahun sebelumnya, petani di wilayah tersebut baru mulai menanam padi pada bulan Desember.

Banjir yang terjadi di wilayah Banyumas bagian timur sudah seminggu lebih, air sudah surut dan masyarakat yang mengungsi juga sudah kembali ke rumah masing-masing. Namun, sampai saat ini air masih menggenangi beberapa lahan pertanian.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pekerjaan Umum (PU) Wilayah Tambak-Sumpiuh, Edy Furyanto mengatakan, saat ini curah hujan masih tinggi. Dan setiap kali turun hujan, area sawah pasti terendam. Sehingga para petani belum berani mengambil risiko untuk mulai menanam padi.

“Kemarin sempat surut, tetapi kemudian turun hujan cukup lama dan sawah terendam lagi,” jelasnya.

Lebih lanjut Edy mengatakan, jika berdasarkan perhitungan masa tanam, seharusnya para petani sudah mulai menanam padi pada bulan Oktober lalu. Namun, pada bulan tersebut, sebagian petani baru panen. Dan saat mulai mengolah lahan, kemudian terjadi banjir dan menggenangi lahan mereka.

Meskipun banjir tidak berdampak yang merugikan petani, namun mundurnya masa tanam yang terlalu lama, tentu sangat merugikan petani.

Sementara itu, salah satu petani di Kemranjen, Sugito mengatakan, sampai hari ini sawahnya masih terendam, sehingga belum bisa memulai mengolah lahan. Sebelum banjir, ia sudah mulai mengolah lahan dan akan mulai menyemai bibit. Namun, semuanya tertunda sampai sekarang.

“Air terkadang sudah surut, tetapi kalau hujan tergenang lagi, jadi saya belum berani untuk mulai tanam. Paling tidak menunggu sampai satu-dua minggu jika tidak turun hujan, baru turun untuk mengolah lahan,” tuturnya.

Lihat juga...