Belajar Secara Daring dan Luring, Perlu Pendampingan Orangtua

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) masih tetap dilakukan oleh Dinas Pendidikan Lampung Selatan. Sistem belajar menerapkan media dalam jaringan (daring) memanfaatkan aplikasi WhatsApp dan sebagian menerapkan sistem luar jaringan (luring). Peranan orangtua mendampingi anak saat belajar sangat penting.

Rohana, salah satu orangtua di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni menyebut anak-anak usia sekolah mulai terbiasa dengan sistem belajar daring. Penggunaan gawai lengkap dengan kebutuhan kuota belajar jadi kebutuhan pokok. Namun terkendala oleh jaringan dan sinyal internet sebagian sekolah menerapkan sistem belajar luring. Cara tersebut tetap memerlukan dukungan orangtua.

Dukungan dari orangtua sebutnya dengan aktif berkomunikasi pada guru, tenaga pendidik di sekolah. Sebagian tugas yang diberikan sebagian diberikan menerapkan sistem pengiriman tugas fisik berupa kertas yang di-fotocopy. Cara tersebut lazim digunakan karena keterbatasan internet serta lokasi sekolah di pedesaan yang dekat dengan tempat tinggal anak.

“Bagi sebagian sekolah menerapkan sistem belajar daring memakai gawai, namun sebagian menerapkan sistem luring, caranya dengan memaksimalkan setiap ketua kelas untuk mengambil tugas dari wali kelas pada setiap buku siswa,” terang Rohana saat ditemui Cendana News, Kamis (12/11/2020).

Rohana bilang mendampingi anak saat kesulitan mengerjakan tugas dari sekolah. Kedisplinan dalam mengatur waktu bermain dengan gawai dan sejumlah tugas butuh dukungan orangtua. Ia menyebut memasuki waktu mid semester pada semester ganjil anak tetap bisa belajar dan mengerjakan tugas. Tanpa harus datang ke sekolah anak-anak tetap bisa memenuhi kewajiban belajar.

Nurkholis, salah satu guru di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Hidayah, Desa Padan, Kecamatan Penengahan menyebut menerapkan dua sistem pembelajaran. Sistem daring telah diterapkan pada saat semester genap pada tahun ajaran 2019/2020. Namun selama semester ganjil tahun ajaran baru 2020/2021 belajar luring juga diterapkan.

“Sekolah telah membagikan kuota internet gratis kepada siswa, namun kami menerapkan sistem belajar luar jaringan,” cetusnya.

Nurkholis (kanan) salah satu guru di MI Nurul Hidayah, Kamis (12/11/2020). -Foto Henk Widi

Setiap pekan sekali dalam sepekan ia menyebut tetap mewajibkan anak datang ke sekolah. Meski tidak memakai seragam karena secara resmi aktivitas KBM belum diperbolehkan,siswa hanya mengambil tugas. Siswa akan diberi materi sesuai dengan mata pelajaran yang diampu dan akan diberikan tugas untuk jangka sepekan. Salah satu siswa ditunjuk untuk mendatangi rekan rekan sekelas mengumpulkan buku tugas.

Pengumpulan tugas sebut Nurkholis telah dikoordinasikan dengan pihak orangtua dan sangat mendukung. Sebab orangtua tetap menginginkan anak mendapat pelajaran dari sekolah secara fisik. Pengaturan KBM menerapkan protokol kesehatan sebutnya selama masa pandemi Covid-19 juga telah diterapkan. Cara itu membuat anak tetap menerima haknya untuk mendapat materi dari sekolah.

“Saat pandemi ini orangtua juga sebagian ingin cepat kegiatan sekolah tatap muka digelar, jadi kreativitas guru diperlukan,” cetusnya.

Pembelajaran tatap muka di alam jadi alternatif hilangkan kebosanan anak. Taranita, pengajar di sekolah alam Ruang Aksara menyebut tetap rutin melakukan kegiatan belajar langsung. Berada di wilayah pedesaan tanpa ada kedatangan pihak luar membuat kegiatan belajar tatap muka tetap dilakukan. Belajar di ruang terbuka menjadi alasan sistem luring diperlukan

“Sekolah alam tidak memberikan materi pelajaran wajib sekolah,hanya tambahan bahasa Inggris, bercocok tanam dan kegiatan edukatif lain,” terang Taranita.

Dukungan dari orangtua untuk kegiatan belajar luring membuat siswa sekolah alam bertambah. Kegiatan belajar Ruang Aksara di Desa Mekar Mulya Kecamatan Palas hanya sebagai pelengkap. Sebab selama masa PJJ anak anak kerap alami kebosanan. Alternatif belajar di luar ruangan membuat anak tetap menyukai kegiatan edukatif yang positif.

Lihat juga...