Berkat Budikdamber Bisa Raup Jutaan Rupiah Sekali Panen

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Restu (38) warga RT 014/RW 04 Cilandak Barat, Jakarta Selatan, sudah setahun belakangan ini menjalankan budidaya ikan lele dalam ember (Budikdamber). Selain, mudah dan murah, juga mampu memberikan penghasilan yang cukup memuaskan.

“Kalau pengelolaan dan benihnya bagus, kita bisa menghasilkan lebih dari 500 kilogram dalam sekali panen. Kita panen itu biasanya 3 bulan sekai. Harga lele sekitar Rp15.000 per kilogram. Jadi kalau 500 kilogram sekali panen, kita bisa dapat Rp7,5 juta,” ujar Restu kepada Cendana News, Selasa (3/11/2020).

Untuk distribusi lele sendiri, Restu dan sejumlah kelompok pembudidaya di sekitar tempat tinggalnya itu, menjualnya langsung lele kepada pemerintah. Namun bisa juga menjualnya ke para pedagang warung pecel lele di sekitar.

Restu mengaku, dalam setiap usaha tentu ada risiko gagal, hal itu pun pernah dialaminya. Ketika pengelolaanya tidak bagus, kadang benih akan lebih mudah mati.

“Jadi tingkat ketahanan hidup ikan dengan model budidaya semacam ini itu 40-100 persen. Semua tergantung kitanya juga sih. Kalau bisa air itu diganti tiap 15 hari sekali. Dan lebih bagus lagi, kalau kita siapkan kolam yang agak besar, untuk menampung lele yang juga sudah berukuran besar,” tandas Restu.

Adapun untuk tanaman sayuran yang ditanam di atas ember bisa bermacam-macam. Namun umumnya, pembudidaya menaman kangkung. Selain murah, kangkung juga bisa lebih cepat dipanen dan hanya untuk konsumsi rumah tangga pribadi.

“Kangkung itu bisa dipanen sekitar 2 sampai 3 minggu. Jadi cara tanamnya pakai arang, kemudian ditaruh di dalam gelas plastik yang sudah dilubangi, dan diletakkan di atas tutup ember juga yang sudah dilubangi sesuai ukuran ember. Udah banyak sih contohnya di YouTube,” kata Restu.

Untuk menjalankan budikdamber, dibutuhkan bahan-bahan seperti ember 80 liter, arang batok kelapa, gelas plastik, benih lele ukuran 5-12 cm sejumlah 60-100 ekor, tang, kawat, bibit kangkung dan solder.

Babeh Rojali, Ketua RT 014/RW 04 Kelurahan Cilandak, Jakarta Selatan menunjukkan salah satu contoh Budikdamber yang dilakukan sejumlah warganya, Selasa (3/11/2020) di Jakarta. -Foto Amar Faizal Haidar

Sementara itu, Babeh Rojali (61), Ketua RT setempat mengatakan, program Budikdamber awalnya diinisiasi oleh kelurahan. Saat itu, masyarakat yang ingin menjalankan budikdamber difasilitasi seluruhnya, mulai dari pengadaan benih lele, ember, hingga bibit kangkung yang juga turut ditanam di atas ember tersebut.

“Awalnya memang ngga terlalu banyak, sekitar 10 orang aja atau satu kelompok. Sekarang di RT sini sudah ada empat kelompok yang aktif jalanin budikdamber,” kata Babeh Rojali kepada Cendana News, Selasa (3/11) di kediamannya.

Sebagai Ketua RT, Rojali mengaku senang warganya memiliki kegiatan yang positif semacam itu. Ia pun menilai, Budikdamber cukup berhasil meningkatkan perekonomian para pelakunya.

“Iya kita sih tentunya senang dengan budidaya ini. Sekarang mereka sudah mulai mandiri, karena memang bantuan dari pemerintah hanya sekali, setelah itu ya jalan sendiri. Tapi saya liat sudah bagus lah,” terang Babeh Rojali.

Lihat juga...