Budi Daya Terong Ungu Janjikan Tambahan Penghasilan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Menambah keragaman budi daya tanaman hortikultura di lahan terbatas, jenis sayuran terong ungu menjanjikan tambahan penghasilan.

Petani di Kota Bekasi biasa membudidayakan terong sebagai tanaman tambahan dengan jumlah pohon terbatas. Misalnya hanya 150 pohon terong. Mereka mengaku, selain sebagai tambahan penghasilan, budi daya terong cukup mudah dan bisa bertahan lama.

“Saya sengaja budi daya terong disamping tanaman lainnya seperti kangkung. Tapi hanya sebagai pendamping, terong masa tanamnya bisa mencapai 2 tahunan panen terus, asal perawatannya bagus,” ungkap Ucok, petani hortikultura di Jatisampurna, Kota Bekasi, kepada Cendana News, Senin (16/11/2020).

Ucok mengaku, sudah dua tahun budi daya aneka tanaman hortikultura dengan memanfaatkan lahan kosong di beberapa lokasi di Kota Bekasi. Menurutnya, jika hanya satu tempat bercocok tanam sayur, maka tidak kembali modal.

Untuk beberapa lokasi, Ucok menanam beberapa jenis tanaman seperti bayam dan kangkung yang lebih cepat perputarannya. Terong tegasnya, memang hanya sebagai tanaman pendamping, harganya lumayan satu kilogram mencapai Rp5000.

Hal yang sama dilakukan oleh Cakil, petani penggarap lahan di sekitaran Bantargebang. Dia budi daya terong ungu sebagai tanaman pendamping. Hal itu dilakukan dari masa tanam hingga panen pertama membutuhkan waktu empat bulan.

Cakil pembudi daya terong ungu sebagai pendamping tanaman sayuran saat dijumpai Cendana News, Senin (16/11/2020) – Foto: Muhammad Amin

“Terlalu lama nunggu panen sampai empat bulan. Maka kebanyakan sebagai tanaman pendamping. Tapi, setelah panen pertama, jika perawatan bagus, tanaman terong bisa bertahan sampai dua tahun,” ujar Cakil.

Namun demikian, imbuhnya, tanaman terong takut air. Lokasi Bantargebang biasanya banjir, kalau sudah demikian maka tanaman terong ungu bisa mati semua jika terendam banjir.

“Tanaman terong hampir sama dengan cabai, tidak berani air. Jika terjadi banjir, dipastikan akan mati,” tukasnya.

Cakil menggarap lahan yang diakuinya milik koperasi. Ia diminta merawat agar lahan tidak kosong. Meski sudah budi daya beragam tanaman, dia mengaku, hanya cukup buat makan sehari-hari saja.

“Saya hanya menggarap lahan diminta pihak koperasi agar lahan tersebut tidak kosong. Tapi terus terang banyak jebolnya, nggak kembali modallah kalau hitungan tenaga sama pengeluaran harian. Apalagi sampai menunggu masa panen,” tegasnya.

Memang, bertani harus punya modal, dan ada penghasilan lain tidak hanya berharap dari hasil tanaman saja. Meski memiliki lahan kosong satu hektare, dia mengakui, hanya sekitar 3000 meter yang dimanfaatkan, karena hanya menggunakan tenaga sendiri.

Semua budi daya yang dilakukan juga hanya tanaman yang berlangsung singkat, misalnya hanya dalam waktu 2 bulan. Tanaman terong jelasnya, cocok jika ditanam di musim kemarau. Harganya konsisten dan selalu banyak peminat.

Lihat juga...