Butuh Modal, Pelaku Usaha Berjuang Peroleh Banpres UMKM

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Tambahan modal untuk pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) jadi kebutuhan bagi Veronica Sundari. Selama ini ia mengaku memiliki usaha kecil pembuatan kue kering. Sejak dicanangkan bantuan presiden (Banpres) UMKM pada pertengahan Agustus 2020 silam ia belum mendapat bantuan, meski usahanya ikut terdampak pandemi Covid-19.

Sejumlah pelaku usaha kecil di desanya menurut Veronica Sundari telah mendapat bantuan melalui desa. Ia mengaku memilih menggunakan jalur pendaftaran koperasi tempatnya bernaung. Ia juga telah melakukan pengecekan potensi menerima bantuan sebesar Rp2,4 juta melalui laman eform.bri.co.id meski hasilnya ia tidak menerima bantuan.

Ia mengaku masih tetap mencoba melalui jalur koperasi. Pendaftaran dilakukan olehnya secara online melalui Dinas Koperasi dan UMKM Lampung Selatan. Melalui laman http://bit.ly/PendaftaranUMKMLampungSelatan ia dipandu oleh pengurus koperasi. Ia berharap bantuan dengan sistem pendaftaran online bisa diperolehnya.

“Bagi pelaku usaha kecil seperti saya dampaknya sangat terasa karena biaya operasional tetap harus dibayar seperti tenaga kerja, listrik, distribusi belum termasuk biaya pendidikan anak yang tetap harus dikeluarkan, Banpres UMKM masih tetap saya usahakan dengan pendaftaran online,” terang Veronica Sundari saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (3/11/2020).

Sejumlah persyaratan yang disiapkan menurut Veronica Sundari cukup banyak. Sejumlah syarat yang harus diinput pada eform diantaranya E-KTP, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), surat izin usaha dengan aplikasi online OSS, surat keterangan domisili usaha, memiliki rekening BRI, foto produk atau usaha, Kartu Keluarga. Ia harus mendaftarkannya secara online. Kini ia tinggal menunggu aplikasi diterima dan bantuan masuk rekening.

Veronica Sundari berharap pihak terkait terutama Dinas Koperasi dan UMKM bisa menilai kelayakan usahanya. Sembari melakukan proses pendaftaran ia mengaku tetap melakukan produksi kue kering. Permintaan kue kering yang sebelumnya mencapai ratusan kilogram alami penurunan selama masa pandemi Covid-19.

“Berkurangnya warga yang melakukan hajatan, berkurangnya permintaan dari toko oleh oleh mempengaruhi permintaan pembuatan kue,” bebernya.

Tambahan modal untuk usaha sebutnya sangat diperlukan untuk pengembangan usaha selama masa pandemi. Terlebih dalam proses produksi kue ia kerap membutuhkan tambahan tenaga kerja. Upah bagi tenaga kerja kerap akan dibayar dari hasil penjualan kue yang telah dibuat. Ia menyayangkan usahanya yang telah berjalan belasan tahun tidak tersentuh bantuan.

Selama melakukan produksi kue kering Veronica Sundari memberdayakan warga sekitar. Kue kering yang dibuat meliputi keripik singkong, keripik pisang,kue babon, semprong, jipang,nastar dan kue kering lain. Permintaan dari pelanggan sebutnya masih dominan berasal dari warga yang akan melakukan acara hajatan.

“Masih ada pesanan namun jumlahnya lebih sedikit dibanding dengan sebelum pandemi Covid-19,” cetusnya.

Siti, salah satu pekerja yang didampingi Nining menyebut tanpa adanya pesanan pembuatan kue kerap terhenti. Selama pandemi Covid-19 pembuatan kue kering ikut terdampak dengan sepinya permintaan. Peluang membuat kue untuk pesanan sejumlah toko oleh oleh sebutnya mulai berkurang. Sebab saat libur panjang Maulid Nabi Muhammad dan cuti bersama tidak mempengaruhi penjualan oleh oleh.

Program pemberdayaan bagi kelompok wanita usaha kecil melalui desa sebutnya masih minim. Program Banpres UMKM yang sebagian diberikan melalui pemilik rekening BRI sebutnya hanya diperoleh bagi yang memenuhi syarat. Ia juga berharap pandemi Covid-19 segera berakhir dan sektor usaha kecil pembuatan kue bisa berjalan normal.

Lihat juga...