Cagar Budaya Pasar Peterongan dan Asal Usul Kota Semarang

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Hiruk pikuk aktivitas pedagang dan pembeli di Pasar Peterongan, berjalan seperti hari-hari biasa. Bongkar muat berbagai barang, hingga hilir mudik pengunjung, menjadi cerita keseharian pasar yang terletak di jalan MT Haryono, Peterongan Semarang.

Pedagang pasar Peterongan Semarang, Kartini, saat ditemui di sela berdagang di pasar tersebut, Minggu (1/11/2020). Foto Arixc Ardana

Terlepas dari segala kegiatannya, Pasar Peterongan termasuk salah satu pasar tertua di Kota Semarang. Berdasarkan catatan Komunitas Penggiat Sejarah (KPS) Semarang, pasar tersebut dibangun pada 1916, dengan nilai sejarah sosial ekonomi dan ilmu pengetahuan perkonstruksian.

Teknologi beton tulang pada bangunan kuno Pasar Peterongan tersebut, bahkan lebih tua dibanding bangunan pasar tradisional lain, di Kota Semarang yang juga masuk sebagai cagar budaya. Bila dirunut sejarahnya, bangunan kuno Pasar Peterongan ini lebih tua dibanding Pasar Johar (1933-1938), Pasar Jatingaleh (1930), dan Pasar Randusari (1920-an).

Waktu itu konstruksi bangunan pasar dibuat dari beton permanen, dan dikerjakan oleh de Hollandsche Beton Maatschappij (HBM). Beton permanen tersebut merupakan konstruksi pertama untuk pembangunan pasar di Semarang. Mengingat sejarah panjang pasar tersebut, maka tidak mengherankan jika pada 17 Januari 2017 Pasar Peterongan ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya, dengan SK Walikota Nomor 050/135/2015.

Tidak hanya dari segi cagar budaya, daya tarik pasar tersebut juga terletak pada keberadaan pohon asam dan punden, yang dihormati oleh warga, terutama para pedagang di pasar tersebut. Bahkan saat dilaksanakan revitalisasi pasar Peterongan, pohon asam tersebut tetap dibiarkan tumbuh dan kini menjadi tetenger pasar.

“Pohon asam ini sudah ada sejak pertama saya berjualan di Pasar Peterongan, bahkan dari jaman ibu saya, kata beliau pohon asam ini juga sudah ada,” papar pedagang pasar Peterongan, Supriyadi, yang memiliki kios tepat di pintu masuk atau di belakang pohon asam tersebut, saat ditemui di sela berdagang, Minggu (1/11/2020).

Termasuk juga keberadaan punden di lokasi tersebut, yang dikenal dengan Punden Mbah Gosang. Masyarakat khususnya pedagang percaya, jika berziarah di lokasi itu akan diberikan kelancaran usaha dalam berdagang.

“Ya antara percaya atau tidak percaya, namun diyakini seperti itu. Termasuk pohon asam yang tumbuh, juga kita yakini usianya sudah ratusan tahun, bahkan sudah ada sebelum pasar Peterongan ini dibangun,” terangnya.

Uniknya lagi, buah asam pada pohon tersebut, tidak memiliki biji, selayaknya pohon asam yang lain. Bahkan banyak yang percaya, bahwa pohon asam ini sudah berumur ratusan tahun dan menjadi salah satu saksi hidup perkembangan Kota Semarang.

Hal senada juga disampaikan pedagang lainnya, Kartini. Meski tidak mengetahui secara pasti, namun dari cerita turun temurun antar pedagang, juga meyakini bahwa pohon asam tersebut menjadi bagian dari sejarah Kota Semarang.

“Nama Semarang sendiri kan dari kata asem dan arang, ada kaitannya dengan pohon asam, yang dulu ditemukan di wilayah sini,” paparnya.

Sementara, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fravarta Sadman saat dihubungi, juga menandaskan bahwa Pasar Peterongan merupakan salah satu bangunan cagar budaya di Kota Semarang, yang harus dilindungi.

Sedangkan terkait keberadaan pohon asam, yang ada di pasar tersebut, dirinya mengaku tidak banyak informasi yang diketahuinya.

“Terlepas dari kepercayaan masyarakat atau pedagang, saya pastikan di masa pandemi covid-19 ini, penataan pasar tradisional telah dilakukan di semua pasar, termasuk di Pasar Peterongan, untuk menjaga physical distancing. Demikian juga dengan penerapan protokol kesehatan, untuk mencegah covid-19,” terangnya.

Pihaknya juga menyediakan tempat cuci tangan di masing-masing pasar tradisional. Fravarta meminta, pedagang dan pembeli untuk mencuci tangan saat masuk ke pasar. Mereka juga wajib memakai masker.

“Pedagang yang tidak memakai masker, tidak boleh berjualan. Demikian juga dengan pembeli, tidak boleh memasuki pasar jika tidak memakai masker. Hal ini sebagai upaya kita dalam pencegahan covid-19,” pungkasnya.

Lihat juga...