Cari Rezeki dengan Cara yang Halal

OLEH HASANUDDIN

ALLAH SWT berfirman, dalam Al-Quran Surah An-Nisa 29-31:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا (29) وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (30) إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا (31)

Terjemahan berdasarkan tafsir The Message, Muhammad Asad.

Wahai kalian yang telah meraih iman! Janganlah kalian saling memakan harta sesama secara batil– bahkan tidak pula melalui perdagangan yang berdasarkan persetujuan bersama–dan janganlah saling membinasakan: sebab, perhatikanlah, sungguh Allah Maha Pemberi Rahmat kepada kalian! (29)

Dan, adapun orang yang melakukan hal imi dengan maksud jahat dan dengan suatu keinginan untuk berbuat zalim–kelak dia alan Kami jadikan menanggung (penderitaan berupa) api: sebab, hal ini sungguh mudah bagi Allah. (30),

Jika kalian menghindari dosa-dosa besar yang telah diperintahkan kepada kalian untuk menjauhinya, Kami akan menghapus perbuatan-perbuatan buruk kalian (yang kecil), dan akan menjadikan kalian memasuki tempat tinggal kemuliaan. (31). (QS. An-Nisa 29-31).

Pada catatan kaki, dari terjemahan The Message, dituliskan sebagai berikut:

“Jika partikel (kata sambung) “illa” sebelum anak kalimat di atas diberi maknanya yang lazim dengan “kecuali” atau “kecuali kalau ia”, frase tersebut harus diterjemahkan demikian: “kecuali kalau ia merupakan (suatu kegiatan) perdagangan yang berdasarkan persetujuan bersama”.

Namun, rumusan ini telah membingungkan banyak mufassir: sebab, jika dipahami secara harfiah, hal itu berarti bahwa keuntungan yang batil dan perdagangan yang berdasarkan persetujuan bersama dikecualikan dari larangan umum, “Janganlah saling memakan harta secara batil”–sebuah anggapan yang mustahil dipertahankan mengingat prinsip etika yang dipostulatkan oleh Al-Quran.

Untuk menghalangi kesukaran ini, mayoritas mufassir mengatakan pandangannya bahwa partikel “illa” dalam konteks ini berarti “tetapi”, dan bahwa anak kalimat itu harus dipahami sebagai berikut: “tetapi halal bagi kalian melalui perdagangan yang sah berdasarkan persetujuan bersama”.

Namun, selain fakta bahwa tafsiran ini terlalu dibuat buat dan tidak wajar, ia tidak menjelaskan mengapa “perdagangan yang sah” harus dikhususkan di sini sebagai satu-satunya cara untuk saling memperoleh keuntungan ekonomis–sebab, sebagaimana dinyatakan Al-Razi dalam tafsirnya tentang ayat ini, “mengambil keuntungan ekonomis melalui hadiah, pusaka, warisan yang sah, sedekah, mahar, atau ganti rugi karena kecelakaan, tidaklah kurang halalnya: sebab, selain perdagangan, ada banyak cara untuk memperoleh harta secara halal.”

Lalu mengapa hanya perdagangan yang ditekankan?, dan lagi pula, mengapa hal ini ditekankan dalam sebuah konteks yang tidak secara khusus membahas masalah-masalah perdagangan?. Menurut saya (Asad) jawaban yang benar-benar memuaskan atas teka teki ini hanya dapat diperoleh melalui pertimbangan linguistik terhadap partikel “illa”, terlepas dari konotasi illa yang lazim, yakni “kecuali” atau “kecuali kalau ia”, partikel itu–seperti telah ditunjukkan baik dalam Alqamus maupun dalam Al-mughni–kadang-kadang berarti “dan” (wa), demikian juga, apabila partikel itu di dahului oleh anak kalimat negatif, ia dapat bersinonim dengan “tidak pula” atau “dan bukan pula” (wa-la) seperti dalam surah Al-Naml ayat 10-11, “Para rasul tidak perlu takut dalam kehadiran-Ku, dan tiada pula (illa) orang yang…”, dan seterusnya.

Sekarang  jika kita menerapkan penggunaan illa yang khusus ini pada kalimat  di atas, kita akan sampai pada pembacaan demikian: “tidak pula kalian boleh melakukannya melalui perdagangan yang berdasarkan persetujuan bersama”, atau lebih sederhananya “bahkan tidak pula melalui perdagangan yang berdasarkan persetujuan bersama”–sehingga maknanya kemudian segera menjadi jelas, yakni “orang-orang beriman dilarang saling memakan harta sesama secara batil, meskipun orang itu–karena berada pada pihak yang lemah–setuju perampasan atau pengeksploitasian semacam itu karena tekanan keadaan. Tambahan pula, pembacaan yang saya (Asad) pilih ini secara logis berkaitan dengan ayat 32 yang mengingatkan orang-orang beriman untuk tidak iri hati dan mendambakan harta yang bukan miliknya (orang lain).

Marilah kita memperbanyak bersyukur atas nikmat karunia Allah, karena tiadanya syukur atas nikmat Allah itulah yang menjadi sebab mengapa persoalan-persoalan kebangsaan kita akhir-akhir ini semakin kurang menggembirakan. Allah senantiasa menyampaikan kebenaran, lagi senantiasa memberi jalan. ***

Depok, 27 November 2020

Lihat juga...