Cegah Banjir, BBWS Pemali Juana Fokus Normalisasi Sungai di Jateng

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, tengah fokus melakukan normalisasi sejumlah sungai di Jateng, sebagai upaya untuk mencegah terjadinya bencana banjir.

Di antaranya, Sungai Kalijajar di Kabupaten Demak, Sungai Juwana meliputi Kabupaten Pati – Kudus, Sungai Tuntang di Kabupaten Semarang serta Sungai Serang Welahan Drainage (SWD) di Kabupaten Jepara.

“Dua bulan lalu kita sudah melakukan penelusuran sungai, kita lakukan pemetaan daerah mana saja yang kondisi tanggul kritis atau rawan terhadap bencana banjir. Ini yang menjadi fokus kita dan ditangani satu per satu,” papar Kepala BBWS Pemali Juana, Muhammad Adek Rizaldi, saat dihubungi di Semarang, Rabu (4/11/2020).

Kepala BBWS Pemali Juana, Muhammad Adek Rizaldi, saat dihubungi di Semarang, Rabu (4/11/2020). Foto: Arixc Ardana

Termasuk, dengan melakukan penanganan berupa normalisasi sejumlah sungai di Jateng, dalam menghadapi musim penghujan, sebagai upaya untuk mencegah banjir.

“Termasuk juga di Banjir Kanal Timur (BKT) Kota Semarang, kita sudah membangun infrastruktur untuk pengendalian banjir, dari tahun 2016-2019. Kemudian, saat ini, yang kita kerjakan berupa pemeliharaan, kita lakukan pembersihan, sedimentasi yang terjadi juga dibersihkan. Kita kembalikan lagi ke dimensi sungai seperti awal pembangunan,” terangnya.

Pihaknya juga sudah melakukan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten/kota di Jateng, yang masuk dalam wilayah kerja BBWS Pemali Juana, terkait kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.

“Kita sampaikan potensi-potensi bencana dari titik yang sudah kita petakan, termasuk kesiapan kita dari segi infrastruktur, tim satgas bencana, hingga peralatan. Semua sudah kita informasikan, sehingga bila terjadi bencana, BPBD kabupaten/kota dapat menghubungi kita untuk membantu penanggulangan bencana,” tandas Adek.

Termasuk ketersediaan sand bag atau kantong pasir, sebagai materi untuk pembuatan tanggul sementara, jika terjadi bencana banjir.

“Berdasarkan pengalaman kita, sand bag ini kalau dilihat dari kekuatan dan umur pemakaian, sifatnya hanya sementara. Meski demikian kita tetap menyediakan karena sifatnya sementara dan penanganannya cepat. Kita ada stok sekitar 35 ribu, yang stand by,” terangnya.

Ke depan, penggunaan sand bag ini akan digantikan dengan geo bag, yakni kantong geo tekstil kekuatan tinggi yang diisi pasir, dengan fungsi yang sama dengan sand bag, namun memiliki kekuatan yang lebih bagus dan tahan lama.

“Ukurannya ada yang satu kantong bisa berisi satu meter kubik hingga 1,5 meter kubik. Kualitas lebih bagus, umur penggunaannya bisa 5-10 tahun, dibandingkan dengan sand bag yang hanya bisa bertahan 1-2 tahun,” tandasnya lagi.

Sejauh ini, untuk geo bag, stok yang dimiliki masih terbatas. “Saat ini baru ada sekitar 380-an, sehingga kita tengah mengajukan penambahan stok ke Dirjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR,” pungkas Adek.

Terpisah, salah seorang warga Semarang, Widodo yang tinggal di sekitar Banjir Kanal Timur (BKT) Kota Semarang, mendukung langkah antisipasi yang dilakukan pemerintah, termasuk melalui BBWS Pemali Juana, dalam upaya pengendalian atau pencegahan banjir.

“Dulu sebelum BKT ini dibangun, setiap hujan deras saya selalu khawatir, sebab BKT ini menjadi sungai utama yang menuju laut. Jadi semua sungai yang ada di sekitaran Semarang hingga Ungaran, semua menuju BKT. Kalau hujan deras, debit air meninggi,” terang warga Kelurahan Sambirejo tersebut.

Kini setelah dibangun, warga sekitar lebih tenang, karena relatif lebih aman. “Sudah ada pelebaran sungai, termasuk pembangunan tanggul di sepanjang BKT. Selain itu sekarang juga tengah dilakukan pengerukan sedimentasi, jadi mudah-mudahan, wilayah Kota Semarang tetap aman dari banjir,” tandasnya.

Lihat juga...