Cegah Klaster Covid-19 Penerapan Prokes dalam Penanganan Bencana, Penting

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Penerapan protokol kesehatan (prokes) di lokasi pengungsian, berupa kewajiban memakai masker, hingga menjaga jarak antarpengungsi, menjadi keharusan. Jika tidak, dikhawatirkan justru akan menimbulkan persoalan baru, termasuk munculnya klaster Covid-19 dari pengungsian.

Hal tersebut ditegaskan Ketua Pusat Studi Bencana Universitas Negeri Semarang (Unnes), Rahma Hayati, di sela diskusi ‘Siaga La Nina Saat Pandemi’ di Hotel Noormans Semarang, Jumat (6/11/2020).

“Di saat masih pandemi Covid-19, penerapan protokol kesehatan tetap harus diperhatikan, termasuk pada saat evakuasi korban atau pun di lokasi pengungsian. Jangan sampai ada bencana di atas bencana, artinya di saat kita fokus pada penanganan bencana banjir atau tanah longsor, muncul bencana baru berupa klaster Covid-19 dari pengungsian,” paparnya.

Ditegaskan, untuk mencegah terjadinya klaster baru Covid-19 dari pengungsian tersebut, perlu dilakukan koordinasi antar-lini dan lembaga terkait.

“Kota Semarang ini rawan bencana banjir dan tanah longsor. Jika hal tersebut terjadi dan mengharuskan ada pengungsian, maka titik atau lokasi pengungsian harus sudah disiapkan dari sekarang. Termasuk juga dalam penerapan protokol kesehatan, khususnya dalam upaya menjaga jarak,” jelasnya.

Misalnya, tempat pengungsian dilakukan di gedung sekolah, maka kapasitasnya tidak boleh lebih dari 50 persen. “Harus dibuat sekat-sekat, yang memisahkan antar-pengungsi. Tujuannya agar memberi jarak. Termasuk kewajiban memakai masker juga diwajibkan,” lanjutnya.

Terkait masker yang digunakan pun, sebaiknya berupa masker medis yang sudah terbukti mampu mencegah penularan virus Covid-19.

“Jika terpaksa menggunakan masker kain, gunakan masker yang minimal memiliki dua lapis. Jika menggunakan masker scuba tidak direkomendasikan, karena virus tetap bisa lolos,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga mendorong agar bahan pangan logistik untuk tempat pengungsian, harus memenuhi kecukupan gizi. Harapannya, dengan asupan gizi yang cukup, imunitas para pengungsi juga terjaga, sehingga tidak mudah sakit. Termasuk tidak terpapar virus Covid-19.

“Selama ini, kita melihat kalau pengungsian itu logistiknya lebih banyak mie instan. Dari segi gizi tentu masih kurang, apalagi untuk diberikan kepada para pengungsi. Asupan gizinya relatif rendah, sementara para pengungsi ini, membutuhkan asupan gizi tinggi untuk menjaga kondisi tubuh mereka agar tidak mudah sakit,” tegas Rahma.

Sementara, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Rudianto, menandaskan, pihaknya sudah menginstruksikan kepada seluruh jajaran dan relawan, untuk terus menerapkan protokol kesehatan.

Kepala BPBD Kota Semarang, Rudianto menandaskan, pihaknya sudah menginstruksikan kepada seluruh jajaran dan relawan, untuk terus menerapkan protokol kesehatan dalam penanganan bencana, saat ditemui di Semarang, Jumat (6/11/2020). Foto: Arixc Ardana

“Sudah disampaikan agar para anggota dan relawan untuk lebih berhati-hati di masa pandemi Covid-19 ini, untuk terus menerapkan protokol kesehatan. Sejauh ini, hal tersebut sudah dilakukan terhadap penanganan sejumlah kejadian yang terjadi,” terang Rudi.

Dirinya mencontohkan kejadian tanah longsor di kelurahan Gajahmungkur dan Tlogomulyo, para petugas yang melakukan evakuasi longsoran, juga menerapkan protokol kesehatan.

“Sejauh ini, di Kota Semarang masih belum ada pengungsian akibat bencana, dan kita berharap hal tersebut tidak terjadi. Namun jika nanti terjadi, kita sudah siap. Termasuk dalam penyiapan lokasi pengungsian dengan menerapkan protokol kesehatan,” tegasnya.

Lihat juga...