Cepokak Diminati Konsumen, Peluang Tambah Pendapatan Keluarga

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Keberadaan tanaman cepokak di kebun miliknya, menjadi berkah tersendiri bagi Mariyanah. Warga Tembalang Kota Semarang tersebut, memanfaatkan sayur dari suku terung-terungan tersebut, untuk menambah pendapatan keluarga.

“Ada banyak pohon cepokak yang tumbuh di kebun milik saya. Tumbuh sendiri, tidak ada yang menanam. Buahnya juga banyak, sehingga tidak habis kalau dimakan sendiri, jadi saya manfaatkan dengan dijual ke pedagang sayur,” paparnya, saat ditemui Cendana News di rumahnya, di kawasan Tembalang Semarang, Selasa (3/11/2020).

Dijelaskan, dari satu pohon cepokak rata-rata ada 8-10 gerombol buah. Cepokak tersebut kemudian dikumpulkan, ditimbang dan dimasukkan ke kantong plastik.

“Per kantong ukuran plastik kecil, saya jual Rp 5 ribu, bisanya nanti dijual lagi oleh pedagang sayur per kantong Rp 8 ribu,” lanjutnya.

Meski tidak bisa mengumpulkan buah cepokak setiap hari, namun dirinya mengaku setidaknya bisa mengantongi uang Rp 75 ribu – Rp 100 ribu per minggu.

“Panennya seminggu sekali. Setiap panen bisa terkumpul 10 -20 kantong plastik. Memang tidak bisa setiap hari, karena jumlah pohonnya tidak banyak sekitar 7-8 pohon. Kalau cepokaknya masih kecil, tidak dipanen dulu, tunggu biar agak besar,” terangnya.

Dirinya memastikan cepokak yang dijualnya merupakan hasil organik, karena selama ini tidak pernah menggunakan pupuk buatan atau pestisida. “Meski tumbuh liar, namun pohon cepokak tetap dirawat. Diberi pupuk kandang agar tetap tumbuh subur,” tambahnya.

Di satu sisi, meski hanya mendapatkan uang Rp 75 ribu – 100 ribu per minggu dari penjualan buah cepokak, dirinya mengaku pendapatan tersebut bisa untuk tambahan membeli kebutuhan keluarga. Mulai dari beras, hingga kebutuhan dapur.

“Ya namanya juga berusaha, dengan memanfaatkan lahan perkebunan, kebetulan ada pohon cepokak yang tumbuh, jadi buahnya bisa dijual. Kalau hasil pertanian utamanya, berupa ketela pohon dan kacang tanah. Kalau sudah musim penghujan nanti kebunnya diganti menjadi sawah, ditanami padi,” terangnya.

Selain cepokak, Mariyanah juga menanam cabai di kebun rumah, meski bukan sebagai tanaman utama. Hasilnya juga bisa dijual untuk menambah pemasukan. “Alhamdulillah, dari awalnya hanya sekadar menanam untuk kebutuhan sendiri, sekarang hasilnya bisa dijual juga. Meski hanya sedikit-sedikit, namun bisa menambah penghasilan,” tandas ibu dua anak tersebut.

Sementara, Anwar, pedagang sayur, mengaku permintaan buah cepokak cukup bagus. Terbukti, berapa pun cepokak yang dibawanya, selalu habis dibeli oleh konsumen.

“Cepokak ini termasuk sayuran yang laris. Banyak peminatnya, karena bisa diolah jadi berbagai jenis masakan, mulai asem-asem, botok, sampai di oseng juga bisa,” terangnya.

Tidak hanya itu, harganya yang relatif terjangkau juga menjadi pertimbangan konsumen. “Bisanya langsung habis dalam sehari. Banyak yang tanya, mas ada cepokak atau tidak, soalnya tidak bisa dipastikan selalu ada, karena yang menanam tidak banyak,” tambahnya.

Selama ini, dirinya mengaku selain berjualan, juga kerap membeli hasil kebun dari warga sekitar. Mulai dari cabai, daun ketela, daun pepaya, cepokak, hingga beragam buah seperti pepaya, matoa, hingga mangga.

“Di wilayah Tembalang ini, kebetulan masih banyak penduduk yang memiliki kebun atau pekarangan, yang ditanami beragam sayur mayur dan buah-buahan. Jadi mereka juga bisa mendapat penghasilan tambahan dari kebun mereka sendiri,” pungkasnya.

Lihat juga...