Cilacap Usulkan Pembangunan Bendungan Antisipasi Banjir

Editor: Koko Triarko

CILACAP – Bencana banjir yang terjadi di Kabupaten Cilacap terus meluas. Saat ini tercatat ada 15 kecamatan dan 46 desa yang terdampak banjir. Untuk menanggulangi banjir pada tahun berikutnya, akan segera dibangun bendungan di Kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap.

Bupati Cilacap, Tatto Suwarto Pamuji, mengatakan saat ini pembangunan bendungan tersebut sudah dalam pembahasan di Pemprov Jateng dan akan direalisasikan tahun depan.

“Kita sudah lama berkoordinasi dengan pemerintah pusat maupun kementrian pekerjaan umum dan perumahan rakyat (PUPR), dan sekarang rencana pembangunan bendungan sudah dalam pembahasan di Pemprov Jateng,” kata Tatto, Jumat (20/11/2020).

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Tri Komara Sidhy, di kantornya, Jumat (20/11/2020). -Foto: Hermiana E. Effendi

Jika bendungan tersebut terealisasi, lanjutnya, maka akan menjadi salah satu solusi untuk mencegah banjir di wilayah Kecamatan Sidareja dan sekitarnya. Serta akan mampu mengairi area persawahan seluas 2.000 hektare saat kemarau.

“Semoga saja segera terealisasi pada tahun depan, sehingga banjir di Cilacap dapat teratasi, dan saat kemarau juga petani tetap berkecukupan air,” tuturnya.

Kecamatan Sidareja merupakan salah satu kecamatan yang terdampak banjir cukup parah di Cilacap. Ada enam desa yang terdampak, dan warga sampai mengungsi di balai pertemuan kantor KB Sidareja. Jumlah warga yang mengungsi mencapai 1.292 jiwa.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Tri Komara Sidhy, mengatakan sampai dengan hari ini 1.463 kepala keluarga (KK) atau 4.275 jiwa masih mengungsi. Banjir juga masih menggenangi 15 kecamatan dan 46 desa.

“Dari catatan kami, ada 24 titik tanggul yang jebol, sehingga banjir masih terus meluas, karena curah hujan tinggi dan sungai-sungai tidak mampu menampung peningkatan debit air,” jelasnya.

Selain banjir, Kabupaten Cilacap juga dilanda longsor serta angin kencang. Longsor terjadi di tiga kecamatan dan 14 desa. Tercatat ada 4 rumah warga yang roboh akibat longsor, 11 rumah rusak berat, 2 rumah rusak sedang dan 44 rumah rusak ringan.

Sedangkan angin kencang terjadi di Kecamatan Sampang, melanda tiga desa di kecamatan tersebut, yaitu Desa Sidasari, Karangjati dan Desa Paketingan. Terdapat 1 rumah rusak berat dan 3 rumah rusak sedang.

“Untuk wilayah yang terkena bencana longsor dan angin kencang, tidak sampai ada pengungsian, karena rumah-rumah warga masih bisa ditempati. Jadi yang paling parah memang banjir, yang terdampak sampai ribuan KK dan mereka harus mengungsi,” ungkapnya.

Lihat juga...