Cina Larang Kedatangan WNA Cegah Kasus Impor Covid-19

BEIJING – Kenaikan kasus Covid-19 impor yang cukup signifikan, menjadi alasan bagi Cina untuk melarang kedatangan warga negara asing dalam tempo sementara.

“Situasi epidemi di luar negeri makin memburuk, Cina sangat menghadapi risiko besar terkait kasus impor,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Wang Wenbin, dalam keterangan tertulis yang diterima di Beijing, Sabtu (7/11/2020).

Ia menyebutkan, pada Oktober saja, Cina menerima 515 kasus impor atau meningkat 45 persen dibandingkan kasus bulan September. Di lain pihak, di Cna juga masih terdapat kasus domestik yang menimpa masyarakat lokal.

“Dalam situasi seperti ini, kami memperkuat pencegahan dan pengendalian bagi pendatang sebelum bepergian ke Cina. Ini membantu meminimalkan risiko,” ujarnya.

Memang, menurut dia para pendatang telah diwajibkan tes usap (swab test), baik sebelum berangkat maupun saat sudah tiba di Cina.

“Namun tidak ada metode tes yang akurat 100 persen,” ujarnya.

Dengan mengutip otoritas kesehatan, dia menyatakan, hasil tes antibodi lgM sangat stabil, sehingga jika digabungkan dengan tes usap maka hasilnya lebih akurat.

Karena itu, Cina mempersyaratkan tes lgM selain tes usap, termasuk yang ditetapkan oleh kedutaan dan perwakilannya di Indonesia kepada siapa saja yang hendak bepergian ke Cina sejak awal November ini.

“Kami mencoba di beberapa negara lain. Dan, hasilnya efektif,” ujarnya.

Selain itu, Cina juga mewajibkan siapa saja yang hendak datang ke negaranya harus dengan menggunakan penerbangan langsung tanpa transit di negara ke tiga.

Hal itu karena adanya kasus para penumpang pesawat yang hasil tes usapnya negatif sebelum terbang, namun begitu mendarat di Cina hasilnya positif lantaran transit di negara ke tiga.

Beberapa maskapai Cina, seperti China Southern Airlines, akhirnya membatalkan beberapa jadwal penerbangan transit di negara ke tiga.

Pada Rabu (4/11) dan Kamis (6/11), beberapa kedutaan Cina menangguhkan visa dan izin tinggal sementara warga negara asing yang hendak kembali ke Cina dari Inggris, Belgia, Bangladesh, Filipina, dan beberapa negara lain.

Dengan demikian, Cina sudah dua kali mengambil kebijakan tersebut karena tindakan serupa juga telah dilakukan pada 27 Maret hingga akhir Agustus 2020.

Sementara itu, situasi Bandar Udara Internasional Daxing Beijing (BDIA), Jumat (6/11), ramai oleh para penumpang, terutama penerbangan domestik.

Situasi bandara terbesar di Cina yang baru beroperasi pada Oktober 2019 itu sangat berbeda jauh dibandingkan situasi saat awal-awal Covid-19 melanda.

“Sekarang Beijing sudah aman. Berbeda dengan bulan Februari dulu yang sangat membahayakan,” kata sopir taksi bermarga Wang dalam perjalanan sejauh 80 kilometer dari BDIA menuju Dongzhimen. (Ant)

Lihat juga...