Curah Hujan Tinggi, Waspada Banjir hingga Angin Kencang di Jateng

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Kasi Data dan Informasi BMKG Kelas I Semarang, Iis Widya Harmoko, saat dihubungi di Semarang, Rabu (18/11/2020). Foto Arixc Ardana

SEMARANG — Data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Klas I Semarang, menunjukkan sebagian besar wilayah di Jateng, telah memasuki musim hujan. Untuk itu, masyarakat diimbau agar lebih waspada akan terjadinya hujan lebat dan cuaca ekstrem, yang berdampak pada bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.

“Berdasarkan data Dasarian II November 2020, peluang terjadinya curah hujan menengah 51 – 150 milimetern mencakup 70 persen, wilayah Jateng , kecuali seluruh wilayah kabupaten Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, sebagian besar wilayah Kabupaten Demak, Cilacap, Banyumas sebagian Kabupaten Grobogan sebagian kecil Kabupaten Kebumen, Banjarnegara, Purbalingga,” papar Kasi Data dan Informasi BMKG Kelas I Semarang, Iis Widya Harmoko, saat dihubungi di Semarang, Rabu (18/11/2020).

Sementara, peluang terjadinya curah hujan tinggi antara 151-300 milimeter, mencakup 60 persen wilayah di Kabupaten Banyumas dan sebagian kecil Kabupaten Cilacap. Wilayah tersebut, juga berpotensi terjadi curah hujan sangat tinggi, di atas 300 milimeter, yang mencakup Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Kebumen, Cilacap serta sebagian kecil wilayah kabupaten Pekalongan.

“Kita perkirakan, pada musim hujan ini curah hujan akan lebih tinggi. Melihat hal tersebut, kita mengimbau masyarakat untuk meningkatkan mitigasi potensi bencana, seperti banjir dan tanah longsor. Terlebih saat ini sudah ada sebagain wilayah di Jateng, yang dilanda bencana banjir, hingga tanah longsor. Termasuk juga potensi hujan deras, disertai angin puting beliung dan petir,” tegasnya.

Terpisah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, mencatat sudah ada beberapa kejadian bencana alam di kota Semarang, termasuk tanah longsor dan angin kencang atau puting beliung, yang mengakibatkan beberapa bagian rumah warga rusak.

“Sejumlah laporan sudah masuk dan kita tangani, termasuk tanhya lonsgsor di wilayah Ngasinan Srondol, kemudian puting beliung atau angin kencang di wilayah Cinde Timur, Candisari, lalu di Bugangan, Sekayu hingga Tembalang. Kami harapkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan bencana,” paparnya.

Dijelaskan meski laporan yang masuk masih belum banyak, namun pihaknya memperkirakan angka tersebut akan naik seiring musim penghujan. Sebagai perbandingan, selama 2019 di Kota Semarang terjadi 20 laporan terkait angin kencangm, kemudian 18 laporan banjir, tanah longsor 83 laporan, 52 laporan rumah roboh, pohon tumbang 45 laporan, dan kebaran 102 laporan.

“Kita berharap tahun ini, bisa berkurang, seiring dengan peningkatan kewaspadaan masyarakat terkait becana,” pungkasnya.

Lihat juga...