Dampak Kekeringan, Peternak di Sikka Kesulitan Cari Pakan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Dampak kekeringan berkepanjangan di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) membuat para peternak sapi dan kambing pun mengalami kesulitan mencari pakan.

Meskipun sudah beberapa kali turun hujan sejak bulan Oktober 2020, namun intensitas hujan kecil, hanya satu-dua jam dan hanya terjadi sehari. Setelahnya, seminggu bahkan dua minggu, baru turun hujan lagi.

“Meskipun sudah dua tiga kali turun hujan, namun rumput belum tumbuh sama sekali. Kami kesulitan untuk pakan sapi dan kambing,” ungkap Yosef Efendi warga Dusun Brai, Desa Watugong, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, NTT saat ditemui Cendana News di pondoknya, Senin (16/11/2020).

Warga Desa Watugong, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, NTT, Yosef Efendi, saat ditemui di kebunnya, Senin (16/11/2020). Foto: Ebed de Rosary

Yosef menyebutkan, dirinya terpaksa mencari dedaunan dan rumput apa saja yang masih tumbuh di samping jalan dan di areal tanah kosong yang jauh dari kebunnya.

Ia mengatakan, seharusnya diberi makan rumput gajah, namun rumput gajah di kebunnya pun mati akibat panas berkepanjangan, dan akan tumbuh kembali saat musim hujan tiba.

“Kami beri makan daun apa saja yang bisa kami jumpai. Sebab saat musim kemarau panjang ini sulit sekali mencari rumput. Kadang harus memotong rumput kering untuk dijadikan pakan sapi,” ucapnya.

Selain untuk pakan sapi, Yosef juga mengaku kesulitan untuk memberi makan 2 ekor kambing miliknya yang baru saja beranak. Sebab daun gamal sebagai pakan juga banyak yang kering.

Padahal menurutnya, kambing biasa makan daun gamal yang sudah tua. Sementara yang masih muda tidak disukai sehingga pihaknya pun memberi kambing makan daun pisang atau kesambi, sejenis pohon lokal berkayu keras.

“Paling yang bisa bertahan hidup pohon kesambi sehingga terpaksa dijadikan pakan buat kambing. Untuk menambah nafsu makan kambing dan sapi, saya memberi minum air garam biar nafsu makannya meningkat,” ungkapnya.

Fredinandus Keso, warga lainnya yang ditemui di Desa Watugong juga mengaku, kesulitan mencari pakan untuk 2 ekor sapinya sehingga dirinya pun harus menyewa mobil pick up membeli rumput gajah di desa yang wilayahnya dekat air kali.

Sekali perjalanan kata Fredi, dirinya harus mengeluarkan biaya sewa kendaraan minimal Rp300 ribu sekali angkut, dan rumput gajah yang dibeli bisa bertahan selama 2 minggu dengan cara dikeringkan.

“Sebelumnya, saya mempunyai 3 ekor sapi. Namun satu ekor sapi jantan sudah saya jual dengan harga Rp6 juta bulan Oktober lalu, karena tidak sanggup memberi makan,” ucapnya.

Lihat juga...