Desa Indudur Solok Ubah Karakter Masyarakat untuk Peduli Lingkungan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SOLOK — Nagari/Desa Indudur, Kecamatan IX Koto Sungai Lasi, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, adalah sebuah tempat yang belum lama ini mendapat perhatian dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui penghargaan Kalpataru. Hal ini didasari dari desa itu yang telah berhasil mengubah sebuah desa menjadi indah dan tertata.

Zofrawandi saat memperlihatkan keindahan desa Indudur dimana alam masih terlihat asri dan terjaga, Rabu (11/11/2020). Foto: M Noli Hendra

Zofrawandi adalah sosok pemimpin di Nagari Indudur, yang meraih penghargaan di bidang lingkungan perorangan itu. Karena dia telah membawa perubahan untuk nagari/desanya dari entah berantah menjadi sebuah desa yang menarik perhatian banyak orang dan pemerintah pusat.

Kini dia menjabat sebagai Wali Nagari atau Kepala Desa di Indudur. Jabatan yang diembannya itu bukanlah hal yang baru. Tapi dia telah dipercaya oleh masyarakat setempat menjadi Wali Nagari Indudur sejak tahun 2007 silam.

Banyak alasan kenapa pria kelahiran 11 April 1970 ini mendapat tempat di hati masyarakatnya. Sehingga membuatnya terus bersemangat untuk menciptakan sebuah desa yang begitu bersih, nyaman, dengan konsep sebuah penataan layaknya menata sebuah kota besar.

Zofrawandi menjelaskan dengan dipercaya sebagai Wali Nagari Indudur, penataan desa itu dilakukan dengan menerbitkan sejumlah Peraturan Nagari (Perna) yang mengatur berbagai lini kondisi Indudur.

“Saya telah menerbitkan 20 Perna sejak dipercaya memimpin di Nagari Indudur ini. 20 Perna itu sebagian besarnya mengatur tentang lingkungan, ekonomi, dan perilaku masyarakat. Atau setidaknya ada 13 Perna menyinggung soal peran lingkungan,” katanya kepada Cendana News yang ditemui di Desa Indudur, Rabu (11/11/2020).

20 Perna itu yakni Perna tentang Gotong Royong dan Pemberantasan Hama, Perna tentang Peningkatan Ekonomi Masyarakat Nagari Indudur, Perna tentang Busana Muslim dan Muslimah, Perna tentang Pelaksanaan Perkawinan Masyarakat, Perna tentang Anak-Anak Mengaji di Surau atau TPA, Perna tentang Main Domino, Perna tentang Pencegahan dan Pemberantasan Rabies, Perna tentang Pemeliharaan Tanaman Kehutanan dan Perkebunan, Perna tentang Musyawarah Tungku Tigo Sajarangan dan Tali Tigo Sapilin.

Lalu ada Perna tentang Standar Biaya Pelayanan Pamsimas, Perna tentang Magrib Mengaji, Perna tentang Jumat Aniang, Perna tentang Rencana Nagari, Perna tentang Kebun Toga untuk Meningkatkan Ekonomi Masyarakat Nagari Indudur, Perna tentang Penanaman Bibit Manggis dalam Rangka Meningkatkan Ekonomi Masyarakat Nagari Indudur, dan Perna tentang Penangkapan Hewan yang Dilindungi di Nagari Indudur,

Serta Perna tentang Jual Beli Hasil Tanaman Perkebunan, Perna tentang Badan Usaha Milik Nagari Rumah Sejahtera, Perna tentang Meracun dan Menyetrum Ikan di Sungai, dan Perna tentang Curi Maling untuk Meningkatkan Keamanan.

“Dengan adanya 20 Perna itu, kita menata satu demi satu kondisi lingkungan dengan target bisa berdampak baik pula dengan perekonomian masyarakat desa,” ujarnya.

Dia menilai Perna itu dapat menjadi pijakan untuk mengubah Desa Indudur dari yang sebelumnya terlihat tidak tertata. Dimana masyarakat masih abai dengan menjaga lingkungan, hutan masih di babat alias illegal logging, perburuan hewan dilindungi, serta banyak membiarkan lahan produktif tidur, dan beberapa hal lainnya.

Di Indudur saat ini ada sekitar 700 lebih penduduk dengan 98 persennya berprofesi sebagai petani. Dari jumlah itu hasil data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan hanya 31 orang penduduk tergolong miskin, dan itu pun terdiri para lansia yang tidak bisa beraktifitas lagi dan ditinggal merantau oleh anak-anaknya.

Hal tersebut sebagai bukti nyata peran Zofrawandi yang begitu besar terhadap Desa Indudur. Lingkungan tertata dan perekonomian masyarakat pun terangkat dan strata sosial pun membaik.

“Apa yang saya lakukan hingga sekarang itu, adalah keprihatinan saya terhadap kampung halam saya itu, serta juga merupakan janji saya kepada masyarakat untuk menjadi Desa Indudur sebagai desa yang benar-benar sejahtera,” jelasnya.

Dia menceritakan hal yang dilakukan selama ini adalah menggali potensi yang ada di Indudur, seperti halnya lahan. Setidaknya ada sekitar 1.400 hektar lahan di Indudur dan kini seluruh lahan telah dikelola dengan baik.

Dulu banyak lahan kosong yang tidak dikelola. Namun semenjak dirinya jadi Wali Nagari, melalui Perna dia pun mengajak masyarakat untuk mengelola lahan yang ada, seperti untuk bertanam pohon karet, manggis, dan tanaman produktif lainnya.

Penanaman hutan dan pembibitan itu adalah upaya pencegahan penanggulangan dan pemulihan kerusakan lingkungan. Setidaknya ada dari total lahan 1.400 hektar itu ada 558 hektar lahan yang terbilang kritis.

“Kini lahan itu telah ditanami tanaman tua seperti kemiri, mahoni, karet, cengkeh, kakao, kopi, dan tanaman lainnya,” sebut dia.

Zofrawandi juga menyebutkan upaya lain yang dilakukan adalah mengajak masyarakat untuk memanfaatkan halaman rumah dengan tanaman kebutuhan harian untuk peningkatan perekonomian, dan total lahan di halaman rumah itu sekitar 140 hektare.

Selanjutnya juga melakukan pemulihan anak sungai dan sumber sebagai efek dari penanaman hutan sekitar. Secara tidak langsung dengan adanya upaya menjaga alam itu, telah turut melindungi dan membiarkan satwa hutan hidup berkembang dengan kegiatan rehabilitas tersebut.

“Itu adalah untuk memanfaatkan lahan kosong atau kritis. Sekarang semuanya telah berubah. Lahan itu telah produktif, contohnya tanaman kemiri telah mampu menjadi salah satu pemasukan bagi ibu-ibu di Indudur,” ungkapnya.

Dimana untuk kemiri itu, per bulannya masyarakat bisa memproduksi 10 ton kemarin per bulannya. Dan produksi kemari itu telah ditampung langsung oleh Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag) Rumah Sejahtera yang ada di Indudur.

Selain itu juga ada pohon kubang yang dijadikan sebagai tempat habitatnya madu hutan. Dimana panen madu itu juga menjadi pemasukan bagi masyarakat desa setiap musim panennya dengan nila yang cukup fantastis.

“Dulu pohon-pohon itu malah ditebang oleh masyarakat. Sekarang semenjak ada Perna masyarakat telah bisa mengubah kebiasaan itu. Pohon itu jadi tempat habitat lebah dimana madunya bisa diambil dan dijual,” ujar Zofrawandi.

Dari madu hutan itu saja, per musim panennya masyarakat bisa memperoleh keuntungan mencapai ratusan juta. Zofrawandi menyebutkan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat saat ini itu, setelah mereka mau diajak untuk mengubah perilaku menjadi masyarakat yang cinta lingkungan dan menjaga alam seperti halnya hutan.

Begitu juga soal pertanian masyarakat, dari ratusan hektar lahan sawah di Indudur ada 3 hektarnya berada di sawah tadah hujan. Kini pengerjaan irigasi sepanjang 300 lebih hampir selesai, dan artinya untuk sawah tadah hujan bisa diatasi setelah nanti irigasi itu berfungsi.

“Irigasi untuk sawah tengah dikerjakan. Diperkirakan Desember sudah bisa digunakan. Semua ini dilakukan agar aliran anak sungai itu bisa dimanfaatkan untuk mengairi sawah-sawah milik petani,” sebutnya.

Dengan adanya upaya yang begitu brilian yang dilakukan oleh Zofrawandi itu, telah banyak penghargaan yang diraih. Baik itu penghargaan dari tingkat kabupaten, provinsi, maupun dari Kementerian LHK RI.

Sementara itu, Staf Bidang Peningkatan Kapasitas DLH Sumbar Rina Ariani di lokasi yang sama menambahkan bahwa Zofrawandi sebagai penerima penghargaan Kalpataru pada September 2020. Zofrawandi pun diusulkan oleh Pemkab Solok ke provinsi untuk bisa menjadi orang penerima penghargaan yang bergengsi itu.

“Zofrawandi sudah dipantau. Ternyata benar, apa yang telah dilakukan benar-benar telah membuat desa Indudur terlihat indah dan tertata. Yang saya salutkan itu adalah Perna nya itu, sehingga mudah menata desa ini,” ungkapnya.

“Selain Zofrawandi yang telah mendapatkan penghargaan Kalpataru, Desa Indudur juga mendapatkan penghargaan Proklim. Karena apa yang telah dilakukan itu bila dinilai secara keseluruhan, Desa Indudur layak meraih penghargaan itu,” tutup Rina.

Lihat juga...