Desa Wisata Sidomulyo, Surga Tanaman Hias di Kota Batu

Editor: Koko Triarko

BATU – Desa wisata Sidomulyo merupakan salah satu desa wisata di kota Batu, yang layak untuk dikunjungi wisatawan, khususnya pecinta tanaman hias. Pasalnya, desa yang terletak di bagian utara kota Batu ini sudah sejak lama terkenal dengan pesonanya sebagai ‘surga’ tanaman hias. 

Berbagai jenis tanaman hias dengan harga yang ramah di kantong, hingga tanaman hias untuk koleksi dengan harga jutaan rupiah bisa ditemukan di desa wisata ini. Bahkan, sekitar 85 persen penduduknya merupakan petani dan pedagang tanaman hias.

Melihat potensi tersebut, tim Pengabdian Masyarakat Mitra Desa (PPDM) Universitas Brawijaya (UB) menjadikan desa wisata Sidomulyo sebagai mitra desa binaanya.

Anggota tim PPDM UB, Aris Subagiyo, berada di salah satu kios di desa wisata Sidomulyo, Minggu (8/11/2020). -Foto: Agus Nurchaliq

Anggota tim PPDM UB, Aris Subagiyo, menjelaskan, alasan pemilihan desa Sidomulyo sebagai mitra binaan lebih kepada potensi besar yang bisa dikemas menjadi destinasi menarik untuk melengkapi destinasi wisata lain yang ada di kota Batu.

Ada sekitar 5,6 juta wisatawan yang pada 2019 kemarin datang ke kota Batu. Namun, sayangnya mereka rata-rata hanya berkunjung ke lokasi-lokasi wisata buatan.

“Sebab itu, tim kami ingin menarik wisatawa yang datang ke kota Batu supaya tidak hanya berkunjung ke tempat wisata buatan saja, tapi juga bisa mendatangi desa wisata Sidomulyo,” jelasnya, kepada Cendana News saat ditemui di desa wisata Sidomulyo, Minggu (8/11/2020).

Menurutnya, selama ini desa wisata Sidomulyo memang sudah sering didatangi wisatawan. Sayangnya, mereka yang datang kebanyakan hanya sekadar mampir untuk membeli bunga, setelah itu pulang.

“Kami berharap tidak sebatas beli bunga saja, tapi kami ingin wisatawan yang datang bisa mendapatkan edukasi tentang tanaman hias. Mulai dari mengenal berbagai nama tanaman hias, jenis media tanam, cara budi daya, cara merawat, teknik perbanyakan tanaman hias, termasuk juga cara membuat kreasi tanaman hias berupa Kokedama,” terangnya.

Selain tanaman hias, di desa ini juga ada UMKM potensial, misalnya UMKM batik maupun kuliner makanan deso.

Menurut Aris, PPDM UB ingin menjadikan desa wisata Sidomulyo semacam one stop destination, sehingga orang-orang yang datang  bisa membeli bunga, mendapatkan edukasi, kulinernya siap, oleh-olehnya juga ada.

“Ada beberapa paket wisata yang bisa dipilih wisatawan, mulai dari edukasi tanaman hias, edukasi batik, adventure jeep, petik buah, kuliner dan penginapan. Informasi tentang paket wisata tersebut, mekanisme pembayaran, semuanya bisa diakses di www.desawisatasidomulyo.com ,” ungkapnya.

Untuk memudahkan wisatawan yang datang, pihaknya juga telah menyediakan tourism center.

Sementara kepala desa Sidomulyo, Suharto, menyampaikan, pertanian tanaman hias selama ini telah menjadi penyokong utama roda perekonomian desa Sidomulyo.

“Dari sekitar 8.000 jumlah penduduk desa Sidomulyo, 85 persen berprofesi sebagai petani dan pedagang tanaman hias,” sebutnya.

Menurutnya, meskipun selama ini Sidomulyo telah menjadi desa wisata, namun belum dikelola dan ditata dengan baik. Tapi setelah ada pendampingan dari UB, sekarang pengelolaan desa wisatanya sudah mulai terarah.

“Sekarang juga sudah ada pilihan paket wisata bagi para wisatawan. Jadi, yang datang ke sini bukan sekadar beli bunga, tapi juga bisa sekaligus berwisata,” ucapnya.

Lebih lanjut, ketua desa wisata, Agus Triono, menceritakan bahwa kondisi perekonomian warga desa Sidomulyo sudah jauh lebih baik, jika dibandingkan awal pandemi. Menurutnya, di awal masa pandemi, ekonomi sangat terpuruk karena bunga tidak ada yang laku. Dalam kondisi itu, warga mensiasatinya dengan memanfaatkan waktu untuk memperbanyak tanaman.

“Tapi setelah lebaran, baru banyak orang luar yang berdatangan ke sini untuk membeli bunga. Bahkan, sekarang banyak bunga yang kosong karena sudah laku terjual,” pungkasnya.

Lihat juga...