Di Bubus, Ponton-ponton Itu Terus Memanjang

CERPEN SUNLIE THOMAS ALEXANDER

DI Bubus tak ada wayang, selain ponton-ponton (1) yang terus memanjang. Hm, alangkah serupa dengan armada perang. Berjejer dari ujung ke ujung; dari landai pantai hingga jauh ke tengah Laut Cina Selatan.

Membuat ombak yang biru berubah kecokelatan oleh solar, lumpur dan sampah polutan. Ya, ratusan ponton itu terus memanjang menjejali lautan. Ada yang bertolak kencang membelah riak ke titik lokasi tambang dengan gerung mesin memekakkan.

Ada yang perlahan merayap kembali ke tepian, sedikit limbung lantaran sarat beban—tentu dengan wajah awaknya yang legam terbakar namun sumringah. Ada pula yang terapung-apung dipermainkan gelombang. Kadang seperti melata, dengan lamat suara bagai dengkur halus sejumlah lelaki usai ejakulasi dini.

Kerap juga mereka saling menyalib. Hingga membuat ombak kian berbuih dan ketegangan pun terbangun diam-diam, memanas terpanggang matahari. Untung jarang terjadi perkelahian di tengah laut. Sebab, seperti juga adat yang berlaku di antara para nelayan, kukuh mereka berpantang tak boleh berseteru di lautan.

Ya, semata-mata karena percaya hal itu bakal membawa celaka: entah itu tipis rejeki atau yang lebih sial, mati tak berkubur di laut dalam. Kau tahu, laut di mana pun sama. Tak di Bubus, Buton, Makassar, Selat Sunda atau pesisir Jawa, semuanya mengandung tuah, kutuk dan amarah bila yang mencari makan tak bertata krama!

Maka jika ada selisih, di atas ponton atau di dasar kedalaman, baiknya selesaikan di darat saja. Yang lebih bersahaja, tentu sengketa tuntas di atas meja domino atau gaple. Dan ini kerap berakhir dengan minum-minum sampai Subuh di warung-warung yang berderet sepanjang pantai. Bir, KTI, kolesom, AO, Ciu, oh semua lengkap tersedia.

Mungkin tak ada yang dapat menjawab dari mana saja ponton-ponton ini bertandang. Kian hari bertambah banyak. Tiga unit, tujuh unit, sepuluh, dua puluh.

Mereka terus membuat palung baru di dasar laut, menciptakan lubang-lubang sebesar kawah. Hingga terumbu-terumbu karang gompal, krowak tinggal serpihan; hingga ikan-ikan, cumi, udang satang lenyap perlahan. Begitulah pernah kubaca keprihatinan di koran lokal.

Namun ponton-ponton itu terus saja berdatangan. Menderu di tengah panas atau deras guyuran hujan, menjemput nasib selegam pasir timah; atau mungkin sejumput harap kaya mendadak—setelah bukit-bukit di darat merata jadi hamparan gurun, hutan-hutan dan ladang amblas jadi lubang-lubang besar menganga.

Tatkala petang jatuh, kau bakal melihat pria-pria dengan tubuh sekokoh perunggu, kuyup dan dekil mengusung pipa-pipa panjang dari arah laut, tentunya pula berkarung-karung pasir timah yang diseret turun dari ponton.

Lalu malam akan bertandang tak ubahnya pasar malam. Warung-warung nampak semarak berjejer dengan aroma alkohol dan harum sate meruap santer. Ada mie rebus, kerang bakar, dan ikan panggang.

Aneka permainan judi juga tergelar: kodok-kodok, gaple, domino, rolex. Perempuan-perempuan muda dengan dandanan menor pun berseliweran, hilir-mudik menggoda atau duduk di muka warung menyilangkan mulus paha, menuangkan bir sambil rendahkan dada, mengocok kartu, dan bergelayut genit di bahu pria-pria perunggu.

Malam merangkak dalam kemeriahan. Dengarlah betapa ramainya cekikikan, tawa terbahak, rayuan kenes, kata-kata gombal, suara botol pecah, makian jorok… Musik terus bergoyang. Langit tampak muram.

Dan ponton-ponton di laut itu seperti menjelma jadi makhluk-makhluk asing yang berjaga di keremangan. Ah, dengarlah suara debur laut Bubus seperti mengisak tertahan.

Ya kau benar, aku salah seorang perempuan penghibur di pantai ini. Namaku sebetulnya Seruni, tapi kau boleh memanggilku Selly…

Demikianlah aku menjalani hari-hariku di tepian pulau indah yang porak-poranda ini. Menjadi penawar kesepian pria-pria perunggu yang bernasib selegam biji timah. Dari pelukan ke pelukan, dari lenguhan ke lenguhan. Tentu, di kamar-kamar pengap belakang warung, di balik batu seperti sembunyi udang atau dalam perahu rusak tertambat gamang.

Oh, terkadang, kau tahu, di atas ponton yang terapung-apung liar! Terombang-ambing ke kiri ke kanan.  Kata mereka bibirku seranum perawan, tapi tentu saja aku janda kembang. Uuh, di Bubus, kau tahu, semua bakal lampus! (2)
***
SUNGGUH, ponton-ponton itu memanjang di laut bagai armada perang. Terus-menerus bertambah setiap hari. Tetapi kepada-Mu, nampaknya aku memang mesti bersyukur, Gusti.

Lantaran bertambahnya ponton dan para pria perunggu berarti bertambah pula rejekiku di pantai rawan ini, yang setiap bulan mesti kukirim ke rumah di pesisir Lampung sana; tanah transmigrasi yang gersang, tempat bapak dan simbokku menggarap tandus sepetak sawah.

Kalau tidak, dari mana Bapak bakal peroleh uang untuk memperluas sawah dan memperbaiki rumah, juga adik-adikku punya sekadar biaya buat sekolah? Walau rasanya seperti menghisap cucuran keringat para pria itu di atas ponton membara, mencekik jalan nafas mereka yang tersengal menghirup udara kompresor di kedalaman laut layaknya.

Sekali lagi, namaku Seruni, tapi kau boleh memanggilku Selly. Ya, aku salah seorang dari puluhan perempuan penghibur yang padati warung-warung remang di Bubus ini.

Tentu awalnya tak pernah terbayang olehku bakal jadi seorang perempuan penghibur di tepi pantai. Oh, tak terbayangkan! Mulanya, seorang tetanggalah yang mengenaliku pada Mbak Marni yang datang ke kampung kami.

Kepadaku dan kedua orang tuaku, dijanjikannya aku bekerja di sebuah restoran seafood di Pangkalpinang. Namun nyatanya, ya seperti bisa kau duga, aku dibawa ke sebuah lokalisasi terkenal di pulau ini.

Umurku waktu itu 17 tahun lewat, baru tiga minggu diceraikan Mas Parjo yang menikah lagi untuk ketiga kalinya dengan seorang gadis pendatang baru dari Jawa. Waktu itu, aku hanya bisa menangis menyadari diriku telah terjebak.

Tak ada sesiapa yang bisa menolong. Sungguh, walau tak perawan, tak rela aku melayani birahi lelaki-lelaki asing bergantian. Tetapi apalah dayaku, duh Gusti, selain pasrah menerima nasib yang selalu mesti kita bagi bersama ini? Duh, di tangan-Mu aku seolah wayang, walau dalam kisah carangan…

Setahun lamanya, bisa kulunasi juga hutang pada Mbak Marni—ah, lebih kerap kami sapa “Mami”. Tentu lantaran aku paling menawan, lantaran aku pintar menggoda lelaki, lantaran aku jago melayani… Oh, seabrek-abrek pujian yang terlontar dari mulut bau para lelaki yang bertandang ke Wisma Puteri Kejora.

Kutuk aku, Gusti. Laknatlah aku, Simbok! Bila kemudian aku ketagihan jadi perempuan jalang. Bukankah kau tahu, iblis sungguh lelaki elok rupawan? Maka kulampiaskan kemarahanku pada Mas Parjo yang menceraikanku dengan keliaran bercumbu, kukuras penghasilan para pria perunggu dengan rayuan maut. Bukankah enak bekerja begini?

Baca Juga

Hutan Lapar

Lukisan

Keberangkatan

Tinggal mengelus dada para lelaki, lenggangkan paha, dapat kau elus pula dompet mereka yang baru menebal. Oho, diam-diam aku pun berhasrat menjadi dalang!

Mungkin aku memang berbakat jadi perempuan penggoda lelaki. Mungkin aku memang telah Kau takdirkan jadi pelacur paling memukau di sini. Entah dari mana kuperoleh kepiawaian bercinta hingga setiap lelaki bakal mabok kepayang dalam pelukanku.

Padahal saat dipinang Mas Parjo, aku masih seorang gadis remaja kencur yang menggigil ketakutan di sudut ranjang. Karena itu, namaku bukan lagi Seruni, panggil aku Selly…

Ya di tepi pantai Bubus ini, selanjutnya kuteruskan petualanganku bersama pria-pria perunggu, oh para penambang perkasa! Kutawar sepi mereka di pantai yang rawan dengan lenguh birahi, kurengkuh nasib mereka yang legam dengan napas memburu. Membuat mereka menggelepar bak ikan terjaring pukat.

Semenjak penambangan lepas pantai di pulau ini mulai semarak, satu per satu kami pun hengkang dari lokalisasi ke pantai-pantai indah yang perlahan amblas: Pantai Tikus, Rebo, Batu Atap, Pesaren, Bubus…

Kau tahu, pria-pria perunggu itu, sebagaimana kami (sebut saja lonte jika kau mau!) dan para pemilik warung, datang dari beragam penjuru. Dari Riau Silip hingga pulau Buton yang jauh. Dari Dabo-Singkep sampai pesisir timur Jawa.

Terang, mereka penyelam tangguh yang dibesarkan oleh alam. Tapi laut, alangkah garang, siapa bisa menduga, selalu memanggil korban, meminta tumbal! Meski orang-orang Melayu kerap melaksanakan upacara Taber (3), walau orang-orang Tionghoa sering membakar dupa dan gelar sesajen.

Di Bubus, seandainya kau tahu, betapa batas hidup dan mati sungguh seperti sehelai rambutmu yang terbasuh asin air Laut Cina Selatan!

Duh, beban-risiko sebagai penyelam di penambangan lepas pantai (mereka menyebutnya tambang apung) sungguh tak sepadan dengan upahmu yang begitu menggiurkan. Kau mesti menyelam sampai ke dasar hanya dengan sebuah kacamata selam murahan dan bantuan udara dari selang kompresor.

Ya, tak mungkin disediakan untukmu tabung oksigen sebagaimana para penyelam profesional. Dan risiko terbesar adalah jika mendadak saja mesin kompresor mati ketika kau sedang berada di kedalaman. Bila tak cepat kau menyembul ke permukaan atau tanganmu tak keburu mencengkeram selang, alamat biji matamu pun bakal tersedot keluar!

Betapa aku masih bergidik mengenang seorang pria perunggu yang menjerit-jerit dengan dua mata bolong mengerikan saat diangkat beramai-ramai dari dasar lautan. Atau tiba-tiba kau telah tertimbun hidup-hidup di bawah sana karena gundukan pasir mendadak longsor ketika kau sedang menyedot biji timah dengan pipa ke atas ponton.

Tentu tak ada asuransi. Kendati sejumlah bank dan perusahaan asuransi sudah menawarkan jasa kepada para pemilik tambang. Tapi begitulah, mereka selalu bergeming. Seolah kecelakaan bagimu memang kewajaran, risiko penyelam yang telah disepakati tanpa harus dituliskan.

Ya ponton-ponton itu terus memanjang di laut, terombang-ambing bagai nasib yang tak terteka. Adakah kau tahu bagaimana rasanya melihat jenazah seorang lelaki yang semalam bercinta denganmu tahu-tahu telah mati mengenaskan?

Sekali lagi, sebetulnya namaku Seruni, tapi panggil saja aku Selly. Aku memang perempuan penghibur di pantai celaka ini. Pantai molek yang porak-poranda dengan laut biru terjarah habis-habisan. Hm, hiruplah udara bertuba ini, niscaya akan berkelenengan suara logam dalam perutmu! (4)

Terkadang, aku begitu merindukan kampung… Merindukan Bapak dan Simbok, merindukan jathilan, tari gambyong atau serimpi, campursari dan wayang.
***
MEMANG di Bubus tak ada wayang, tapi banyak dalang. (5) Bukankah sebagai pemilik tambang liar, kau mesti pintar bersiasat dengan para penguasa? Atau lihatlah, bagaimana para penguasa membungkam mulut para wartawan dan aktivis LSM agar tak banyak bacot tentang kerusakan lingkungan.

Atau pun para preman lokal yang kerap memasang gertak-sambal serupa pukat harimau untuk menjerat jatah lebih dari pembagian untung para penambang.

Karena itu, di pantai rawan ini, diam-diam aku pun belajar jadi dalang. Ya, kau boleh menyebutku lonte, tapi sebenarnya aku dalang. Kupikat pria-pria perunggu dan para cukong tambang yang tertarik pada kemolekan tubuhku hingga mereka mabok kasmaran.

Serupa Engkau, duhai Gusti, kupermainkan cinta mereka hingga memujaku setengah teler! Ah, Ko A Khiong pemilik belasan unit ponton itu misalnya, mati-matian merayuku agar mau jadi gundiknya. Dijanjikan padaku rumah, rekening dan hidup mewah.

Tapi aku pura-pura bergeming, sembari melirik Mang Diding, bujangan tua yang selalu royal memanjakanku dengan apa saja kupinta: perhiasan, pakaian, ponsel. Atau Bang Amir yang dengan serius bersimpuh di kakiku sambil bilang, “Kalau sudah kukumpulkan banyak uang, ikutlah denganku pulang ke Bau-bau, Sayang.” Tentu bukan hanya mereka, masih sederet nama, cukong maupun penambang.

Ssstt, sebenarnya di antara mereka, ada seorang yang diam-diam aku suka. Ah, entahlah, kenapa aku selalu merasa tentram dalam dekapan Bang Rudi setiap kali kami bercumbu mesra. Silakan kau mencemooh, aku pun tak yakin apakah benar-benar telah jatuh cinta.

Atau lantaran aku memang tak punya keberanian lagi untuk mencinta? Duh, dalam teduh matanya Gusti, seolah dapat kusimak suara debur ombak Bubus yang mengisak tertahan.

Karena itu, biarlah ponton-ponton itu terus memanjang di laut serupa armada perang. Terus memanjang ke batas cakrawala, ke batas senja. Memanjang serupa sejarah timah di pulau celaka ini.

Ya, namaku Seruni, tapi kau boleh memanggilku Selly. Kau boleh menyebutku lonte, pelacur, kinet, atau apa pun yang kau inginkan. ***

Catatan:
1. Ponton adalah rakit besar yang terbuat dari drum-drum plastik dengan bekas ban mobil terikat kuat tali tambang di atas batang-batang kayu. Untuk penambangan timah lepas pantai (atau lebih lazim disebut Tambang Inkonvensional (TI) Apung — untuk membedakannya dengan TI darat).
2. Ingatan pada puisi Raudal Tanjung Banua, “Bubus” (Koran Tempo, 2006).
3. Upacara adat untuk mengusir sengkala atau sial.
4. Meminjam selarik puisi Nurhayat Arif Permana, “Lanskap Pulau Timah” dalam booklet puisi Suara Kota Utara Pulau Lada (KPSPB, 2000).
5. Ingatan samar pada sebuah puisi Willy Siswanto dalam Kaki-kaki Telanjang (Yayasan Aktualita Karsa, Pangkalpinang, 2005) yang terlupa judulnya.

Sunlie Thomas Alexander, sastrawan. Pemenang pertama lomba kritik sastra Dewan Kesenian Jakarta 2019. Buku karyanya Dari Belinyu ke Jalan Lain ke Rumbuk Randu mendapatkan penghargaan dari Badan Bahasa 2020.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...