Di Sulsel, Realisasi Penyaluran Pupuk Subsidi Petrokimia Gresik Capai 82 Persen

Pekerja mengangkut dan menata pupuk organik bersubsidi di Gudang Penyangga Petrokimia Gresik Desa Ujong Drien, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Aceh – Foto Ant

MAKASSAR – Anak perusahaan PT Pupuk Indonesia, PT Petrokimia Gresik menyebut, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi di Sulawesi Selatan (Sulsel) per-10 November 2020, telah mencapai 82,66 persen.

Penyaluran pupuk bersubsidi tersebut terdiri dari empat jenis yaitu pupuk ZA (60.739 ton), NPK Phonska (179.308ton), SP 36 (35.205ton), dan Petroganik (15.559ton).  “Ada lima jenis pupuk subsidi di Sulsel dan satu jenis lainnya yakni pupuk urea, dikoordinir oleh Pupuk Kaltim yang secara kuantitas jumlahnya lebih besar dibanding empat jenis pupuk subsidi yang kami tangani,” ungkap Staf Perwakilan Daerah Penjualan (SPDP) Sulawesi Selatan PT Petrokimia Gresik, Setiawan Suryo Kuncoro Jabbaro di Makassar, Rabu (11/11/2020).

Setiawan menjamin, stok pupuk subsidi untuk mencapai target penyaluran hingga Desember 2020 tetap aman. Pupuk yang diproduksi dari Surabaya Jawa Timur tersebut telah berada di 20 gudang yang tersebar se-Sulawesi Selatan.

Pihak PT Petrokimia Gresik diklaimnya, telah menginstruksikan ke para distributor, untuk melakukan penebusan agar pupuk subsidi bisa segera diakses di kios-kios resmi oleh para petani. “Penyaluran pupuk bersubsidi lancar, karena inti dari penyaluran pupuk ini ada di store, dan saat ini stok kita aman. Terdapat 20 gudang dengan kapasitas total 180 ribu ton. Kami menyatakan siap menghadapi musim tanam ke-3 di 2020,” urai Setiawan.

PT Petrokimia Gresik mencatat penebusan pupuk subsidi oleh distributor pada masing-masing jenis yaitu pupuk ZA 51.055 ton (84,06 persen), NPK Phonska 148.355 ton (82,74 persen), SP 36 29.368ton (83,42 persen) dan Petroganik 11.608 ton (74,61 persen).

Setiawan mengakui, sempat ada keterlambatan penyaluran. Hal itu dikarenakan, sesuai kebijakan Kementerian Pertanian (Kementan), penyaluran pupuk bersubsidi harus sesuai e-RDKK (elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok). “Jadi kendala di 2020 agak berbeda dari sebelumnya. Jadi petani yang mendapatkan pupuk subsidi harus terdaftar di e-RDKK. Secara sistem, ini memakan waktu untuk input datanya. Ini menjadi kendala,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...