Digempur Minuman Kekinian, Usaha Kedai Kopi Masih Menjanjikan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MALANG – Di tengah gempuran berbagai jenis minuman kekinian, potensi usaha kopi dirasa masih cukup menjajikan. Pasalnya, kopi sudah menjadi minuman untuk berbagai kalangan dan usia, terlebih usaha kopi bukan merupakan usaha musiman.

Salah satu pelaku usaha kopi di Malang, Celvin Andreas Tangka, mengaku tidak merasa khawatir dengan semakin banyaknya kedai kopi yang bermunculan. Sebab menurutnya meskipun yang dijual sama-sama kopi, tapi setiap kedai pasti memiliki karakter dan pangsa pasarnya masing-masing.

“Misalnya kalau di tempat saya menawarkan kopi yang soft, maka konsumen yang datang pasti orang-orang yang suka dengan rasa kopi yang soft. Karena kalau tidak, mereka pasti akan datang ke kedai kopi lainnya,” jelas owner kedai kopi Popeye Coffee, di salah satu kedai kopi di Malang, Selasa (3/11/2020).

Selain itu, pelaku usaha kopi seharusnya memiliki pengetahuan yang cukup dan paham berbagai hal tentang kopi. Sebab sekarang sudah banyak orang yang bisa merosting maupun menyeduh kopi, tapi masih jarang orang yang paham tentang kopi.

“Mereka tahu cara membuat kopi, tapi tidak paham tentang kopi, termasuk karakter kopi yang mereka gunakan,” ungkapnya.

Inilah alasanya, kenapa pelaku usaha kopi harus memiliki pengetahuan dan paham tentang kopi.

Lebih lanjut disampaikan Celvin, bagi dirinya, membuka usaha kopi bukan sekedar untuk mendapatkan uang dari usaha tersebut. Tapi yang terpenting adalah bisa mengedukasi masyarakat tentang kopi.

“Iya memang kita membuka usaha untuk cari uang, tapi saya lebih memilih mendahulukan untuk mengedukasi sekaligus mengenalkan kepada masyarakat tentang kopi. Jadi ketika pembeli datang, sambil menyeduhkan kopi yang dipesan, kita bercerita tentang kopi. Tapi memang kendalanya, tidak semua orang mau diedukasi,” imbuhnya.

Sementara itu, owner Himung kopi, Andik Destanto, mengatakan bahwa peluang usaha kopi masih terbuka lebar. Sebab, semakin orang mengenal tentang kopi maka secara otomatis orang tersebut akan selalu mencari kopi. Apalagi kopi itu bukan suatu usaha yang musiman, karena kopi bisa terus diperbaharui dan ada terus.

“Berbeda dengan minuman-minuman kekinian yang biasanya hanya musiman. Tapi kalau kopi ini tidak lekang oleh waktu,” ucapnya.

Kendala yang saat ini sering ia rasakan dalam menjalankan usaha kopi adalah adanya kesan bahwa kopi yang enak itu harganya mahal, padahal tidak.

“Jadi saya berpikir bagaimana caranya harga kopi bisa murah sehingga semua konsumem bisa merasakan nikmatnya minum kopi, tapi petani kopi juga bisa tetap sejahtera. Jadi kami hadir untuk mengenalkan kepada orang-orang bahwa kopi enak itu tidak selalu mahal,” tuturnya.

Menurutnya, kunci agar sebuah usaha kopi tetap bisa bertahan adalah harus konsisten dan jangan menganggap kedai kopi lainnya sebagai pesaing.

“Kami tidak pernah merasa bersaing dengan teman-teman lainnya. Karena setiap kedai punya karakternya masing-masing dan pangsa pasarnya sendiri,” tegasnya.

Lihat juga...