Dinas Dorong Pelaku Wisata di Semarang Berinovasi Tingkatkan Daya Tarik

Editor: Koko Triarko

Kadisporapar Jateng, Sinoeng Rachmadi, saat dihubungi di Semarang, Minggu (15/11/2020). –Foto: Arixc Ardana

SEMARANG – Di masa pandemi Covid-19, dengan penurunan aktivitas pariwisata, Dinas Kepemudaan, Olah Raga dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah, mendorong penciptaan inovasi produk wisata baru yang dilakukan pengelola daya tarik wisata (DTW).

“Misalnya, mengembangkan wisata wellness, atau wisata minat khusus yang bertujuan untuk menjaga kebugaran tubuh di masa pandemi Covid-19. Selain itu, juga membuat inovasi-inovasi yang kreatif, supaya pengunjung dapat terkenang dengan DTW yang dikunjungi,” papar Kadisporapar Jateng, Sinoeng Rachmadi, saat dihubungi di Semarang, Minggu (15/11/2020).

Tidak hanya itu, juga diperlukan strategi dalam membangun trust (kepercayaan) bagi para wisatawan, agar mereka tertarik untuk datang.

“Pemulihan citra pariwisata ini bisa dilakukan dengan pembuatan video tentang penerapan protokol kesehatan, potensi wisata yang ada, hingga testimoni dari para pengunjung yang sudah datang. Ini dalam upaya membangun kepercayaan masyarakat, bahwa dengan penerapan protokol kesehatan yang baik dan disiplin, kita sudah aman berwisata,” terangnya.

Sejauh ini, sudah ada beberapa strategi pemulihan pariwisata yang sudah diterapkan di Jateng. Termasuk bekerja sama dengan stakeholders kepariwisataan, untuk pemulihan pariwisata di Jateng.

“Termasuk dengan memanfaatkan media sosial untuk terus menggencarkan promosi, sekaligus edukasi terkait dengan penerapan protokol kesehatan di masing-masing DTW. Harapannya, kepercayaan masyarakat meningkat seiring dengan jaminan keamanan ketika hendak mengunjungi DTW tersebut,” tandasnya.

Saat ini, tercatat sudah ada 432 DTW dari total 690 DTW di Jateng yang sudah beroperasi kembali di masa pandemi Covid-19. Sementara, sebagai sektor pendukung pariwisata, sebanyak 1.080 hotel di Jateng, juga sudah mulai beroperasi kembali.

Dihubungi secara terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari, sepakat inovasi baru harus dilakukan untuk memulihkan sektor pariwisata dari keterpurukan akibat Covid-19.

“Misalnya, Semarang Zoo, jika awalnya hanya menampilkan berbagai jenis satwa, kini seiring dengan beroperasinya kembali, kita tambahkan wahana permainan dengan menggandeng stakeholders lain. Pengembangan inovasi ini diharapkan juga mampu menarik minat wisatawan. Tentu saja tetap dengan menerapkan protokol kesehatan secara disiplin,” terangnya.

Di satu sisi, dirinya juga menambahkan sektor perhotelan hingga restoran yang selama ini menjadi sektor pendukung pariwisata, juga turut terimbas akibat pandemi Covid-19.

“Ketika sektor pariwisata ini mati suri akibat pademi Covid-19, hal tersebut juga berimbas pada hotel, kafe dan restoran yang selama ini juga bergantung pada para wisatawan,” paparnya.

Maka ketika pemerintah melalui Kemenparekraf menawarkan bantuan hibah kepada pengelola hotel, restoran yang terimbas Covid-19, pihaknya pun menyambut positif.

“Sampai saat ini, sudah ada 122 restoran dan 103 hotel di Kota Semarang yang telah menyerahkan persyaratan, untuk bisa mendapatkan bantuan ini. Perkembangannya masih kita lakukan verifikasi data yang masuk, termasuk nantinya kunjungan ke lapangan,” terangnya.

Dijelaskan, untuk bisa mengajukan bantuan tersebut ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Di antaranya, memiliki klasifikasi baku lapangan usaha Indonesia, terdaftar sebagai wajib pajak daerah, membayar pajak daerah 2019, dan masih beroperasi.

“Pendaftaran sudah dilakukan, namun bagi pengelola yang ingin mengajukan masih bisa. Untuk informasi lengkap soal persyaratan hingga penyerahan berkas pendaftaran, bisa datang ke Kantor Disbudpar Kota Semarang,” tambah Iin, panggilan akrabnya.

Ditambahkan, anggaran dana hibah pariwisata sebesar Rp3,3 triliun untuk 110 kabupaten/ kota di Indonesia, dengan tujuan untuk membangkitkan sektor industri pariwisata.

“Kota Semarang mendapatkan alokasi sekitar Rp41 miliar untuk hotel, kafe dan restoran sesuai dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) yang sudah ditetapkan, dengan syarat utama mempunyai perizinan atau TDUP dan lunas pajak 2019.

Proporsi besaran hibah disesuaikan dengan persentase dari pembayaran pajak 2019 dibagi total pajaknya, kemudian dikalikan dengan nominal yang diterima oleh Pemkot Semarang,” pungkasnya.

Lihat juga...