Disdik Kota: Penerapan PTM di Semarang Dilakukan secara Bertahap

Kadisdik Kota Semarang, Gunawan Saptogiri di Kantor Disdik Kota Semarang, Kamis (26/11/2020). Foto Arixc Ardana

SEMARANG — Seiring kebijakan Kemendikbud, terkait pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara tatap muka pada Januari 2021 mendatang, Dinas Pendidikan Kota Semarang memastikan pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) akan dilakukan secara bertahap.

“Sesuai Permendikbud dan Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri terkait pelaksanaan PTM, awalnya hanya bisa dilakukan di wilayah zona kuning-hijau covid-19. Kemudian ada regulasi terbaru, yang memperbolehkan pelaksanaan PTM pada semester Genap Tahun Ajaran 2020/2021 atau mulai Januari 2021,” papar Kadisdik Kota Semarang, Gunawan Saptogiri di Kantor Disdik Kota Semarang, Kamis (26/11/2020).

Ibarat keran air, lanjutnya, PTM tersebut tidak langsung dibuka lebar-lebar, namun dilakukan secara bertahap. Gunawan menyebutkan untuk jenjang SMP, sejauh ini sudah siap seluruhnya. Sementara, untuk jenjang SD, baru akan dimulai dari kelas 6.

“PTM ini tidak hanya berkaitan dengan siswa, namun juga sarana prasarana pendukung protokol kesehatan. Untuk jenjang SMP, saya nilai seluruhnya siap, hanya saja untuk SD, dimulai dari kelas 6 terlebih dulu, kemudian nanti bertahap kelas 5 dan seterusnya,” lanjutnya.

Tidak hanya itu, jam pembelajaran yang diberikan juga bertahap, maksimal 2-3 jam tanpa ada istirahat, dengan jadwal masuk bergiliran. Sebelum PTM diberlakukan, para siswa dan guru, juga akan melakukan rapid test terlebih dulu. Untuk memastikan bahwa kondisi mereka ini sehat, saat akan mengikuti PTM.

“Jika ditemukan ada yang reaktif, untuk sementara mereka tidak bisa ikut PTM terlebih dulu, sampai benar-benar sehat. Selain itu bagi orang tua yang belum mengizinkan anaknya untuk ikut PTM, juga tidak apa-apa. Siswa tetap bisa belajar secara daring. Tidak ada persoalan, ” ungkap Gunawan.

Sejauh ini, dari hasil survei, yang dikirimkan ke seluruh sekolah jenjang SD-SMP di Kota Semarang, banyak orang tua dan siswa, yang menginginkan untuk dilakukan PTM , meski tidak sedikit pula yang belum mengizinkan.

“Ini sesuai dengan kewenangan kita, yang membawahi jenjang PAUD -TK – SD- SMP, sementara untuk jenjang SMA-SMK sederajat di bawah Dinas Pendidikan Provinsi,” tambahnya.

Di satu sisi, meski dalam regulasi terbaru tidak mensyaratkan lagi adanya ketentuan zona covid-19, namun pihaknya berharap pada Januari 2021, Kota Semarang sudah zona kuning.

“Nantinya pada saat masuk sekolah, pembelajaran awal yang kita berikan, bukan materi pelajaran namun terkait penerapan pencegahan covid-19, dengan protokol kesehatan yang ketat. Kita akan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota Semarang,” terangnya.

Hal itu dimaksudkan agar para siswa di setiap tingkatan sekolah, benar-benar memahami covid-19, termasuk bahaya dan cara pencegahan penularannya. Dengan begitu, diharapkan para siswa teredukasi dengan baik. Lamanya pemberian materi Covid-19 itu akan disesuaikan dengan hasil evaluasi yang dilakukan Disdik Kota Semarang.

Sementara, Sekretaris Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo, memaparkan pihak dewan, juga mendorong agar dilakukan PTM. Mengingat dari sisi psikologi, baik dari siswa atau orang tua, sudah tidak nyaman dengan pembelajaran yang hanya dilakukan dari rumah.

“Kami sebagai komisi yang membawahi pendidikan, tidak keberatan, namun tetap diperlukan izin dari orang tua. Misalnya anak tidak diperbolehkan PTM, ya tidak apa-apa, tidak ada sanksi. Jadi prinsipnya tetap dilakukan PTM, namun seizin orang tua, komite sekolah hingga gugus covid-19,” terangnya.

Ditegaskan, hal terpenting dalam PTM, yakni terkait pembiasaan penerapan protokol kesehatan, sehingga menjadi budaya siswa dan guru. “Mereka tidak perlu harus disuruh, namun dengan kesadaran sendiri untuk cuci tangan, menjaga jarak dan memakai masker,” lanjutnya.

Tidak hanya itu, terkait aturan bahwa PTM hanya diikuti maksimal 50 persen dari kapasitas kelas, maka nantinya akan diatur terkait teknis keikutsertaan siswa.

“Paling mudah diatur dari nomor absen. Misalnya di selang-seling , hari senin untuk siswa absen ganjil, selasa untuk absen nomor genap. Sehingga kapasitas kelas tidak penuh. Saat sebagian siswa masuk kelas mengikuti PTM, maka sebagian siswa lain tetap melakukan belajar dari rumah (BDR). Mereka yang di rumah ini, bisa diberi tugas, atau menyiapkan pembelajaran saat nanti masuk kelas. Ini silahkan diatur oleh sekolah masing-masing,” tandasnya.

Lihat juga...